
<p><strong>Pendahuluan:</strong></p>
<p><strong> </strong>Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.</p>
<p>Saya yakin, masih segar diingatan Anda bagaimana susahnya hidup dalam  kondisi kekeringan. Tanah berdebu, tanaman menjadi kering,  sumber-sumber air susut, dan cuaca pun terasa panas menyengat. Namun  kini, semuanya telah berubah, tanah menjadi becek, pemandangan hijau nan  indah di mana-mana, genangan air dengan mudah Anda temui, dan suhu  udara pun terasa sejuk atau dingin. Tahukah Anda, apa penyebab  terjadinya perubahan tersebut? Semua itu terjadi berkat hujan yang Allah  <em>Ta’ala</em> turunkan untuk hamba-hamba-Nya.</p>
<p class="arab">اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا  فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاء كَيْفَ يَشَاء وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى  الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاء مِنْ  عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ {48} وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن  يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ {49} فَانظُرْ إِلَى  آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ  ذَلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. )الروم:  48-50</p>
<p><em>“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan  awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya,  dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari  celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya  yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.  Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah  menghidupkan bumi yang sudah mati.  Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa  seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang  telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”</em> (QS. Ar Rum: 48-52)</p>
<p>Saudaraku, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan kepada Anda, “Pernahkah Anda merenungkan fungsi turunnya hujan? “</p>
<p>Mungkin dengan cepat Anda berkata, “Hujan turun untuk menumbuhkan tumbuhan, dan mencukupi kebutuhan makhluk hidup akan air.”</p>
<p>Jawaban Anda benar, namun untuk dapat menjawab seperti itu tidak  perlu merenung atau berpikir panjang. Bahkan semua makhluk hidup pasti  mengetahui atau merasakan hal tersebut. Namun yang saya ingin adalah  jawaban spesial yang mencerminkan kepedulian dan kepekaan Anda terhadap  berbagai kejadian yang ada di sekitar Anda.</p>
<p>Melalui tulisan ini, saya mengajak Anda untuk merenungkan fungsi  hujan secara utuh, sehingga Anda dapat mensikapi hujan dengan baik.  Dengan demikian, Anda semakin merasakan nikmatnya setiap tetesan air  yang menyirami negeri Anda. Dan selanjutnya hujan yang menyirami negeri  Anda senantiasa membawa berkah.</p>
<p class="arab">وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاء مَاء مُّبَارَكًا  فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ {9} وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ  لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ {10} رِزْقًا لِّلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ  بَلْدَةً مَّيْتًا كَذَلِكَ الْخُرُوجُ )ق: 9-11</p>
<p><em>“Dan Kami turunkan dari langit air yang membawa keberkahan (banyak manfaatnya) lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang dipanen, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, agar menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering), seperti itulah terjadinya kebangkitan.”</em> (QS. Qaaf: 9-11)</p>
<p><strong>Fungsi Pertama: Menghidupkan Tumbuhan</strong></p>
<p>Sehebat apapun Anda  dalam memelihara tumbuhan, namun bila tanpa air,  mustahil rasanya tumbuhan Anda bisa hidup, terlebih membuahkan hasil.  Karenanya, tidak dapat Anda pungkiri setelah turunnya hujan, berbagai  tumbuhan yang sebelumnya telah mati dan tertimbun dalam perut bumi,  sekejap menjadi hidup dan tumbuh dengan subur.</p>
<p class="arab">وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً  فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاء اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي  أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ<br> قَدِيرٌ. فصلت: 31</p>
<p><em>“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) ya bahwa kamu melihat  bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya,  niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya  tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas  segala sesuatu.” </em>(QS. Fusshilat: 39)</p>
<p><img loading="lazy" src="https://i0.wp.com/www.sxc.hu/pic/m/d/do/doriana_s/1185113_pearls.jpg?resize=272%2C231" alt="fungsi hujan" width="272" height="231" data-recalc-dims="1"></p>
<p>Semasa kemarau, banyak dari tumbuhan yang mati, dan hanya menyisakan  biji-bijiannya yang tertanam jauh dalam perut bumi. Dan bahkan banyak  tumbuhan berbatang besar pun seakan mati, sehingga tidak sehelai daun  pun menghiasi dahan dan rantingnya. Ketika Anda melihat kondisi semacam  ini, sebagaimana yang terjadi beberapa waktu silam, mungkin Anda  mengatakan bahwa tumbuh-tumbuhan itu telah mati, dan mungkin tidak akan  hidup kembali. Namun kini praduga Anda tersebut terbukti tidak benar.</p>
<p class="arab">وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ  رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ  مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ  الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira  sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah  membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami  turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu  pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan  orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”</em> (QS. Al A’araf: 57)</p>
<p><strong>Fungsi kedua: Sumber Minuman Makhluk Hidup</strong></p>
<p>Semua makhluk yang hidup di muka bumi ini terlebih yang bernyawa  tidak mungkin dapat mempertahankan hidupnya tanpa air minum. Karenanya  air minum adalah kebutuhan primer setiap makhluk. Karena demikian ini  perihal makhluk hidup, maka ketika awal menciptakan bumi, Allah <em>Ta’ala</em> menyiapkan segalanya, air minum dan tumbuh-tumbuhan. Ini semua demi  menjaga kelangsungan hidup manusia secara khusus dan seluruh makhluk  bernyawa secara umum.</p>
<p class="arab">وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا {30} أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءهَا  وَمَرْعَاهَا {31} وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا {32} مَتَاعًا لَّكُمْ  وَلِأَنْعَامِكُمْ</p>
<p><em>“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya  mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung  dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk  binatang-binatang ternakmu.”</em> (QS. An Naziaat: 30-33)</p>
<p>Maha Suci Allah yang telah menyiapkan segala yang mejadi kebutuhan  makhluk-Nya, sebelum mereka memintanya. Tidak diragukan fakta ini bukti  kuat akan kemurahan Allah <em>Ta’ala</em> yang banyak dilupakan oleh manusia.</p>
<p><strong>Fungsi ketiga : Mengingatkan Anda Akan Kuasa Allah <em>Azza wa Jalla</em></strong></p>
<p>Semasa duduk di bangku SD, Anda telah diajari bagaimana proses hujan  bisa terjadi. Berawal dari air laut yang menguap, hingga menjadi awan,  dan kemudian di bawa oleh angin hingga akhirnya turun kembali ke bumi  dalam bentuk hujan. Dan mungkin pelajaran tentang proses terjadinya  hujan ini, menghantarkan Anda pada satu kesimpulan, yaitu hujan adalah  satu proses alami. Bukankah demikian saudaraku?</p>
<p>Namun sekarang, setelah dewasa dan mungkin mengenyam pendidikan  tinggi, atau menjadi seorang ilmuan, dan kenyang dengan asam garam  kehidupan, masihkan Anda menerima begitu saja kesimpulan di atas?  Tidakkah pernah terbetik di pikiran Anda keinginan untuk merenungkan  kembali kesimpulan Anda?</p>
<p class="arab">إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ  اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا  يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاء مِن مَّاء فَأَحْيَا  بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ  وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء  وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya  malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna  bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu  dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia  sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan  yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tAnda-tAnda  (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”</em> (QS. Al Baqarah: 164)</p>
<p>Mungkin pertanyan-pertanyaan berikut sidikit membantu Anda dalam  memikirkan kembali teori hujan yang telah Anda pelajari semasa duduk di  bangku SD.</p>
<p>Mengapa air laut menguap ketika disinari oleh matahari?</p>
<p>Mengapa yang menguap hanya airnya saja, sedangkan kandungan garamnya tidak turut menguap.</p>
<p>Ketika air disinari matahari, mengapa naik ke langit dalam bentuk uap, namun ketika turun kembali turun dalam bentuk tetesan?</p>
<p>Dan mengapa uap air yang telah membeku di awan, ketika turun tidak  pernah mengalir bak air terjun, akan tetapi sejak dahulu kala hujan  turun dalam bentuk tetesan?</p>
<p>Mengapa ketika air hujan turun tidak turun dalam bentuk uap sebagaimana ketika terangkat ke awan?</p>
<p>Setelah Anda merenungkan berbagai pertanyaan di atas, silahkan Anda  lanjutkan renungan Anda dengan menyelami kandungan ayat-ayat berikut:</p>
<p class="arab">أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاء الَّذِي تَشْرَبُونَ {68}  أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ {69}  لَوْ نَشَاء جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ . الواقعة: 68-70</p>
<p><em>“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah  yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami  kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak  bersyukur?” </em>(QS. Al Waqi’ah: 68-70)</p>
<p>Mungkin ini salah satu pelajaran yang dapat kita petik dari beberapa  ayat Alquran yang berbicara tentang hujan. Pada ayat-ayat tersebut  diakhiri dengan kata-kata “sejatinya Allah Maha Kuasa Atas Segala  Sesuatu”, sebagaimana pada ayat 50 surat Ar Rum dan ayat 31 surat  Fusshilat di atas.</p>
<p>Saudaraku, Kemajuan ilmu dan teknologi memang dalam banyak hal  menguntungan umat manusia. Namun di sisi lain, tanpa Anda sadari  menjadikan Anda mudah lalai dari Allah <em>Azza wa Jalla</em>. Akibatnya, berbagai tanda kekuasaan Allah <em>Ta’ala</em> yang ada di sekitar Anda kini seakan tidak berarti bagi Anda. Karena  kronologi terjadinya berbagai kekuasaan Allah, semacam gerhana matahari,  turunnya hujan, gempa bumi, dan lainnya, hati Anda tidak tersentuh  ketika menyaksikannya. Kini Anda sering menamakan berbagai kejadian itu  sebagai fenomena alam atau ungkapan serupa.</p>
<p>Tidak diragukan, sikap Anda ini mencerminkan jauhnya diri Anda dari sentuhan nilai-nilai iman kepada Allah <em>Azza wa Jalla</em>.  Sebagai buktinya, ketika turun hujan, Anda tidak lagi peka bahwa hujan  adalah kuasa Allah, bahkan lebih jauh Anda mengganggap hujan sebagai  siklus alam. Hujan turun karena musimnya telah tiba dan berhenti ketika  musim kemaru telah tiba pula. Hanya sampai disini keyakinan dan  tanggapan Anda. Entah mengapa Anda tidak melanjutkan komentar Anda  dengan satu pertanyaan: siapakah yang mengatur musim, dan menciptakan  serta mengatur perputaran matahari?</p>
<p>Menyadari akan adanya peluang terjadinya kemalasan berpikir semacam  ini, Rasulullah e merasa perlu untuk memperingatkan para sahabatnya.</p>
<p class="arab">عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ أَنَّهُ قَالَ  صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الصُّبْحِ  بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ ،  فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ « هَلْ تَدْرُونَ  مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ » . قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ «  أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ  مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ  بِالْكَوْكَبِ ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ  كَافِرٌ بِى وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ</p>
<p><em>Sahabat Zaib bin Khalid Al Juhani menuturkan, “Seusai shalat  shubuh pada suatu pagi yang pada malam harinya kami diguyur hujan,  Rasulullah e menghadap kepada kami dan bertanya, “Tahukah kalian apa  yang difirmankan Allah?” Sepontan para sahabat menjawab, “Hanya Allah  dan rasulul-Nya yang mengetahui. Allah berfirman, “Pada pagi ini, ada  dari hambaku yang beriman kepada-Ku dan juga kafir.” Adapun yang  mengatakan,</em></p>
<p class="arab">مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ</p>
<p><em>“Kami mendapat karunia hujan karena kemurahan Allah dan kasih  sayang-Nya” maka ia beriman  kepada-Ku dan kafir kepada bintang.  Sedangkan orang yang berkata, “Kami mendapat hujun karena bitang ini dan  bintang itu telah terbit (musim pernghujan telah tiba), maka ia telah  kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.”</em> (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Demikianlah ucapan yang biasa terucap dari lisan kita setiap kali  hujan turun: “Hujan terus menerus karena musim penghujan telah tiba.”  Namun jarang dari kita yang menyadari bahwa hujun turun murni karena  perintah dan karunia Allah. Kita melalaikan Allah dan senantiasa  mengingat musim, padahal Allah telah buktikan bahwa musim bisa  berubah-rubah sehingga turunnya hujan tidak menentu, sebagaimana yang  terjadi pada akhir-akhir ini.</p>
<p>Saudaraku, Sebagai  umat yang beriman, marilah kita kembali ke jalan  Allah, sehingga kita dapat memandang dan menilai segala urusan dengan  cara pandang seorang yang beriman.</p>
<p><strong>Artikel <a href="">www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 