
<p>Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kami akan coba membahas terkait hewan haram menurut islam. Semoga dengan pembahasan singkat ini, kita jadi lebih mengenal hewan-hewan apa saja yang diharamkan oleh syariat.</p>

<p>Allah menciptakan segala sesuatu yang ada dipermukaan bumi ini adalah untuk kemaslahatan manusia, termasuk didalamnya adalah Allah menciptakan hewan-hewan yang tentunya diperbolehkan untuk dijadikan makanan bagi Bani Adam. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِيالْأَرْضِ جَمِيعًا (البقرة:29)</span></p>
<p><i>“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu “</i></p>
<p>Namun, merupakan bentuk kesempurnaan kasih sayang Allah kepada manusia adalah Allah memerintahkan mereka hanya untuk memakan makanan yang halal lagi baik saja. Perhatikanlah firman-Nya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّافِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِإِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (البقرة:168)</span></p>
<p><i>“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi”</i></p>
<p>Bahkan termasuk diantara khasa’is (kekhususan/karakteristik) dienul islam yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah menghalalkan bagi ummatnya seluruh perkara yang baik dan mengharamkan mereka dari segala sesuatu yang buruk.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِوَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ (الأعراف:157)</span></p>
<p><i>“Dan menghalalkan bagi mereka segalayang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”</i></p>
<h2>Sekilas Tentang Sebab-Sebab Makanan &amp; Minuman Menjadi Haram</h2>
<p>Para Ulama telah menjelaskan bahwa sebab haramnya makanan dan minuman ialah disebabkan karena salah satu atau lebih dari 5 sebab berikut:</p>
<ol>
<li>Apabila membahayakan</li>
<li>Apabila memabukkan</li>
<li>Apabila mengandung najis</li>
<li>Apabila dianggap jorok/ menyelisihi tabi’at yang salimah</li>
<li>Apabila mendapatkannya dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh syari’at.</li>
</ol>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/67056-hewan-kurban-haram-karena-dikuliti-sebelum-mati-total.html" target="_blank" rel="noopener">Hewan Kurban Haram karena Dikuliti Sebelum Mati Total?</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Hewan-hewan yang diharamkan oleh syara’</h2>
<p>Tidaklah Allah Dan Rasul-Nya mengharamkan sesuatu melainkan disana banyak hikmah dan kebaikan bagi Ummatnya, terkadang sebagian dari hikmah tersebut telah kita ketahui sedangkan sebagian lainnya bahkan mungkin sebagian besar dari hikmah-hikmah tersebut masih Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> rahasiakan sehingga akal kita belum mampu untuk menjangkaunya. Namun, sebagai seorang mukmin tentu kita akan berkata “<i>Sami’na Wa Atha’na</i>” kami mendengar dan kami ta’at, kami pasrah dan tunduk kepada seluruh ketetuan-Mu wahai Rab semesta ‘Alam.</p>
<p>Berikut beberapa hewan haram menurut islam, baik itu menurut Al-Qur’anul Karim ataupun Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.</p>
<h3>Hewan haram menurut islam dari Nash Al-Qur’anul Karim</h3>
<ol>
<li>Bangkai<br>
Bangkai adalah hewan yang mati bukan karena penyembelihan yang sesuai dengan syari’at seperti mati tercekik, dipukul, tertabrak dan lainnya. Termasuk bangkai adalah potongan tubuh hewan yang masih hidup.<br>
Yang dikecualikan(dihalalkan) dari bangkai adalah: bangkai belalang dan ikan/hewan air.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Daging babi<br>
Termasuk lemaknya, dan seluruh bagian tubuhnya yang lain.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Hewan yang disembelih dengan selain nama Allah.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Hewan yang disembelih untuk selain Allah.<br>
Semisal hewan yang disembelih untuk acara-acara yang berbau kesyirikan, seperti: sedekah laut, tumbal tanah, tumbal bangunan dll.</li>
</ol>
<p>Keempat jenis hewan tersebut tercakup dalam firmanAllah Ta’ala:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُوَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِوَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَاأَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ(المائدة:3)</span></p>
<p><i>“</i><i>Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yangjatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.</i><i>”</i></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/66482-hukum-memajang-hewan-yang-diawetkan-di-rumah.html" target="_blank" rel="noopener">Hukum Memajang Hewan yang Diawetkan di Rumah</a></strong></em></p></blockquote>
<h3>Hewan haram menurut islam dari Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam</h3>
<p>Hewan yang diharamkan di dalam hadits-hadits Nabi antara lain:</p>
<ol>
<li>Keledai jinak<br>
Dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallohu ‘anhuma disebutkan:<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<span style="font-size: 18pt;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليهوسلم – نَهَى يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الأَهْلِيَّةِ</span><br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i>“Bahwasannya</i><i> </i><i>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam</i><i> melarang mengkonsumsi daging keledai jinak</i><i>”</i><i>(Muttafaqun ‘Alaih).<br>
</i><div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i><br>
</i>
</li>
<li>Segala hewan yang bertaring<br>
Abu Tsa’labah Radhiyallohu ‘anhu berkata:<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<span style="font-size: 18pt;">نَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السَّبُعِ</span><br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i>“</i><i>Nabi </i><i>Shalallahu ‘alaihi wasallam</i><i> melarang melarang memakan setiap hewan bertaring yang buas</i><i>”</i><i>(Muttafaqun ‘Alaih).<br>
</i><div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i><br>
</i>
</li>
<li>Segala jenis burung yang bercakar tajam/ burung pemangsa<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<span style="font-size: 18pt;">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ نَهَىرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السِّبَاعِوَعَنْ كُلِّ ذِى مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ</span><br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i>Nabi </i><i>Shalallahu ‘alaihi wasallam</i><i> melarang melarang memakan setiap hewan bertaring yang buas dan burung yang bercakar tajam</i><i>”</i><i> (HR. Muslim).<br>
</i><div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i><br>
</i>
</li>
<li>Jallaalah<br>
Jallalah adalah Hewan halal yang mayoritas makanan utamanya adalah barang najis sehingga menjadi haram dimakan dan diminum susunya. Ibnu Umar Radhiyallohu ‘anhuma berkata:<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<span style="font-size: 18pt;">نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليهوسلم- عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا</span><br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i>“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melarang (memakan)daging jalalah dan (meminum) susunya” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</i>Jallaalah akan kembali menjadi hewan halal apabila hewan jallaalah tersebut dikurung selama tiga hari dan selama waktu tersebut hewan itu diberi makanan yang bersih. Para ulama ada yang mengatakan bahwa waktu mengurung jallaalah itu bisa sampai 40 hari.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Tikus<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Kalajengking<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Burung gagak<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Burung elang/rajawali<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Anjing galak (<b>الْكَلْبُ الْعَقُورُ</b>)<br>
Para Ulama berselisih pendapat tentang maksud dari anjing galak/Al-Kalbul ‘Aquur,  Jumhur ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “Al-Kalbul‘Aquur” adalah anjing itu sendiri (anjing yang kita kenal, kecuali yang dimanfa’atkan untuk menjaga kebun/berburu) dan seluruh hewan buas yang menerkam mangsa seperti harimau/macan, serigala, singa dan semisalnya. Bahkan Zaid Bin Aslam Rahimahullah memasukkan ular kedalam jenis “Al-Kalbul ‘Aquur” sebagaimana hal ini dikutip oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Atsqalaani dalam Al-Fath.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Ular<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Cicak/tokek<br>
Keharaman hewan-hewan tersebut (no.5-11) dikarenakan Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihiwasallam</em> memerintahkan kita untuk membunuhnya. Dan diantara kaedah pengharaman hewan yang dijelaskan oleh para ulama adalah “Setiap binatang yang syari’at memerintahkan kita untuk membunuhnya”.<br>
Perintah untuk membunuh tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan anjing galak (<b>الْكَلْبُ الْعَقُورُ</b>) terdapat dalam hadits ‘Aisyah, beliau <em>Radhiyallahu‘anha</em> mengatakan bahwasannya Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِىالْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ،وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ (أخرجه البخاري و مسلم)<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i>“Lima hewan fasiq (pengganggu) yang hendaknya dibunuh walaupun ditanah haram, yaitu: tikus,kalajengking, burung elang, burung gagak, dan anjing galak” </i><i>(HR.Bukhori, Muslim)<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</i>Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
خَمْسٌفَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحِلِّ وَالْحَرَمِ الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُالأَبْقَعُ وَالْفَارَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْحُدَيَّا<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i>“Lima hewan fasiq (pengganggu) yang hendaknya dibunuh baik ditempat halal (selaintanah haram) maupun ditanah haram, yaitu: ular, kalajengking, burung gagak, anjinggalak, burung elang” </i><i>(HR</i><i>.</i><i> Muslim)<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</i>Begitu pula tentang cicak/tokek (<b>الْوَزَغ</b>), cicak/tokek termasuk“fawasiq” yang Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wasallam</em> memerintahkan kita untukmembunuhnya.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
عَنْأُمِّ شَرِيكٍ – رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ « كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِالسَّلاَمُ »<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i>Dari Ummu Syarik Radhiyallohu ’anha, bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan membunuh cicak/tokek dan bersabda: “Dahulu cicak ikut meniup api yang akan membakar Ibrahim ‘Alaihissalam”</i><i>(HR.Bukhori).<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</i>Dalam hadits lain Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wasallam</em> mengabarkan pahala yang banyak/keutamaan dalam membunuh cicak.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
مَنْقَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِىالثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i>“Barangsiapayang membunuh cicak dengan sekali pukul maka dia mendapatkan seratus kebaikan,dan siapa yang membunuhnya dengan dua pukulan maka mendapat pahala yang kurang dari itu, dan barangsiapa yang membunuhnya dengan tiga pukulan maka dia mendapat pahala yang lebih sedikit lagi” </i><i>(HR.Muslim</i><i>)<br>
</i><div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i><br>
</i>
</li>
<li>Semut<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Lebah<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Burung Hud-hud<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Burung Shurad<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : نَهَىرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَالدَّوَابِّ : النَّمْلَةِ ، وَالنَّحْلَةِ ، وَالْهُدْهُدِ ، وَالصُّرَدِ<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i>“Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melarang membunuh empat hewan, yaitu; semut, lebah, burung hud-hud, burung shurad” (HR.Bukhori)<br>
</i><div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i><br>
</i>
</li>
<li>Katak<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ قَالَ : ذَكَرَطَبِيبٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَوَاءً ،وَذَكَرَ الضُّفْدَعَ يُجْعَلُ فِيهِ ، فَنَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ الضُّفْدَعِ (أخرجه أحمد و ابن ماجه و الدارمي<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<i>Abu Abdirrahman Bin Utsman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “seorang dokter bercerita tentang obat dihadapan Rasulullah, dia menyebutkan bahwa bahan obat itu adalah katak, lalu Rasulullah pun melarang membunuh katak”(HR.Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi).<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</i>Para Fuqaha mengharamkan kelima hewan diatas (no.12-16) dikarenakan Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wasallam</em> melarang kita untuk membunuhnya. Jika membunuhnya saja haram, maka dengan cara apa kita hendak memakannya?</li>
</ol>
<p>Selain hewan-hewan diatas para ulama memiliki beberapa kaedah fiqhiyyah dalam menentukan hukum akan haramnya suatu binatang yang belum ada nashnya yang jelas baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah Ash-Shahihah, yaitu:</p>
<ol>
<li>Setiap hewan yang memakan benda najis dan menjijikkan (<b>النجاساتوالخبائث</b>).</li>
<li>Setiap hewan yang di lahirkan dari hasil silang antara binatang halal dan binatang haram (<b>تولدبين مأكول وغيره</b>).</li>
<li>Setiap serangga yang membahayakan.</li>
</ol>
<p>Semoga catatan ringkas ini memberi faedah dan pengetahuan kepada kita seputar keharaman hewan-hewan menurut syari’at Islam yang agung, penuh berkah dan hikmah ini. <em>Wallohu A’lam</em>.</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/60246-boleh-membunuh-hewan-yang-mengganggu-atau-membahayakan.html" target="_blank" rel="noopener">Boleh Membunuh Hewan Yang Mengganggu Atau Membahayakan</a></strong></em></p></blockquote>
<p>—</p>
<p>Maraji’:</p>
<ol>
<li>
<em>Shahih Fiqh Sunnah</em>; Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid Salim; Maktabah Taufiqiyah.</li>
<li>
<em>Fathul Baari Syarah Shahihil Bukhari</em>; Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Atsqalaani; Darul Hadits.</li>
<li>
<em>Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim</em>; Al-Imam Muhyiddin An-Nawawi Asy-Syafi’I; Daar Ihyaa’ut Turats.</li>
<li>
<em>Hayaatul Hayawaan Al-Kubra</em>; Syaikh Abul Baqaa Ad-Damiri Asy-Syafi’i; Darul Kutub Al-Ilmiyyah.</li>
</ol>
<p>—</p>
<p><strong>Penulis: Abu Hatim Abdul Mughni, BA.</strong><br>
<strong>Artikel Muslim.or.id</strong></p>
 