
<p>Ada sebagian kelompok dalam membela acara-acara bid’ahnya berdalil bahwa dulu para sahabat -Abu Bakar, ‘Utsman bin ‘Affan, Zaid bin Tsabit- saja melakukan bid’ah. Mereka mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf padahal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah melakukannya. Jika kita mengatakan bid’ah itu sesat, berarti para sahabatlah yang akan pertama kali masuk neraka. Inilah sedikit kerancuan yang sengaja kami temukan di sebuah blog di internet.    <!--more-->  </p>
<p>Ingatlah bahwa <strong>bid’ah bukanlah hanya sesuatu yang tidak ada di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong><em>. </em>Bisa saja suatu amalan itu tidak ada di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan baru dilakukan setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat, dan ini tidak termasuk bid’ah. Perhatikanlah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam <em>Majmu’ Fatawa-</em>nya berikut.</p>
<p>“Bid’ah dalam agama adalah <strong>sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang tidak diperintahkan dengan perintah wajib ataupun <em>mustahab</em> (dianjurkan)</strong>.</p>
<p>Adapun jika sesuatu tersebut diperintahkan dengan perintah wajib atau <em>mustahab</em> (dianjurkan) dan diketahui dengan dalil syar’i maka hal tersebut merupakan perkara agama yang telah Allah syari’atkan, … <strong>baik itu dilakukan di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atau tidak</strong>. Segala sesuatu yang terjadi setelah masa beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> namun berdasarkan perintah dari beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> seperti membunuh orang yang murtad, membunuh orang Khowarij, Persia, Turki dan Romawi, mengeluarkan Yahudi dan Nashrani dari Jazirah Arab, dan semacamnya, itu termasuk sunnah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.” (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 4/107-108, Mawqi’ Al Islam-Asy Syamilah)</p>
<p>Pengumpulan Al Qur’an dalam satu mushaf ada dalilnya dalam syari’at karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah memerintahkan untuk menulis Al Qur’an, namun penulisannya masih terpisah-pisah.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (<em>Iqtidho’ Shirotil Mustaqim</em>, 2/97) mengatakan, “Sesuatu yang menghalangi untuk dikumpulkannya Al Qur’an adalah karena pada saat itu wahyu masih terus turun. Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila tatkala itu Al Qur’an itu dikumpulkan dalam satu mushaf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap saat. Tatkala Al Qur’an dan syari’at telah paten setelah wafatnya beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>; begitu pula Al Qur’an tidak terdapat lagi penambahan atau pengurangan; dan tidak ada lagi penambahan kewajiban dan larangan, akhirnya kaum muslimin melaksanakan sunnah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berdasarkan tuntutan (anjuran)-nya. Oleh karena itu, amalan mengumpulkan Al Qur’an termasuk sunnahnya. Jika ingin disebut bid’ah, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah secara bahasa (yaitu tidak ada contoh sebelumnya, <sup>pen</sup>).”</p>
<p>Perlu diketahui pula bahwa mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf merupakan bagian dari <strong><em>maslahal mursalah</em></strong>. Apa itu <em>maslahal mursalah</em>?</p>
<p><em>Maslahal</em> <em>mursalah</em> adalah sesuatu yang didiamkan oleh syari’at, tidak ditentang dan tidak pula dinihilkan, tidak pula memiliki nash (dalil tegas) yang semisal sehingga bisa diqiyaskan. (<em>Taysir Ilmu Ushul Fiqh</em>, hal. 184, 186, Abdullah bin Yusuf Al Judai’, Mu’assasah Ar Royyan). Contohnya adalah maslahat ketika mengumpulkan Al Qur’an dalam rangka menjaga agama. Contoh lainnya adalah penulisan dan pembukuan hadits. Semua ini tidak ada dalil dalil khusus dari Nabi, namun hal ini terdapat suatu maslahat yang sangat besar untuk menjaga agama.</p>
<p>Ada suatu catatan penting yang harus diperhatikan berkaitan dengan <em>maslahah mursalah</em>. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (<em>Iqtidho’ Shirotil Mustaqim</em>, 2/101-103) mengatakan, “Setiap perkara yang faktor pendorong untuk melakukannya di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> itu ada dan mengandung suatu maslahat, namun beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak melakukannya, maka ketahuilah bahwa perkara tersebut <strong>bukanlah maslahat</strong>. Namun, apabila faktor tersebut baru muncul setelah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat dan hal itu bukanlah maksiat, maka perkara tersebut adalah <strong>maslahat</strong>.“</p>
<p>Contoh penerapan kaedah Syaikhul Islam di atas adalah adzan ketika shalat ‘ied. Apakah faktor pendorong untuk melakukan adzan pada zaman beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ada? Jawabannya : Ada (yaitu beribadah kepada Allah). Namun, hal ini tidak dilakukan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> padahal ada faktor pendorong dan tidak ada penghalang. Pada zaman beliau ketika melakukan shalat ‘ied tidak ada adzan maupun iqomah. Oleh karena itu, adzan ketika itu adalah <strong>bid’ah</strong> dan meninggalkannya adalah <strong>sunnah</strong>.</p>
<p>Begitu pula hal ini kita terapkan pada kasus mengumpulkan Al Qur’an. Adakah faktor penghalang tatkala itu? Jawabannya: Ada. Karena pada saat itu wahyu masih terus turun dan masih terjadi perubahan hukum. Jadi, sangat sulit Al Qur’an dikumpulkan ketika itu karena adanya faktor penghalang ini. Namun, faktor penghalang ini hilang setelah wafatnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>karena wahyu dan hukum sudah sempurna dan paten. Jadi, mengumpulkan Al Qur’an pada saat itu adalah suatu <strong>maslahat</strong>.</p>
<p>Kaedah beliau ini dapat pula diterapkan untuk kasus-kasus lainnya semacam perayaan Maulid Nabi, yasinan, dan ritual lain yang telah membudaya di tengah umat Islam. –Semoga Allah memberikan kita taufik agar memahami bid’ah dengan benar-</p>
<p>Nantikan jawaban dari kerancuan berikutnya mengenai bid’ah.</p>
<p> </p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a target="_blank" href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a>, dipublish ulang oleh <a target="_blank" href="undefined/">https://rumaysho.com</a></p>
<p>Selesai disusun di rumah tercinta, Desa Pangukan, Sleman</p>
<p>Saat Allah memberi nikmat hujan di siang hari, Kamis, 9 Syawal 1429 (bertepatan dengan 9 Oktober 2008)</p>
 