
<p><strong>MENGENAL BEBERAPA ULAMA PEMBAHARU DALAM ISLAM</strong></p>
<p>Oleh<br>
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</p>
<p>Dalam sebuah hadits yang <em>sha<u>hîh</u></em> dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا</strong></p>
<p><em>Sesungguhnya Allâh akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun</em><a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Pengertian memperbaharui (urusan) agama di sini adalah menghidupkan kembali dan menyerukan pengamalan ajaran Islam yang bersumber dari petunjuk al-Qur’ân dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang telah ditinggalkan manusia. Yaitu, dengan menyebarkan ilmu yang benar, mengajak manusia kepada tauhid dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta memperingatkan mereka untuk menjauhi perbuatan syirik dan bid’ah<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a>.</p>
<p>Perhitungan akhir seratus tahun dalam hadits ini adalah dimulai dari waktu hijrah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekkah ke Madinah<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>.</p>
<p>Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “…<em>orang yang akan memperbaharui (urusan) agama</em>…” tidak menunjukkan bahwa <em>mujaddid</em> di setiap akhir seratus tahun hanya satu orang, tapi mungkin saja pada waktu tertentu lebih dari satu orang, sebagaimana yang diterangkan oleh al-<u>H</u>âfizh Ibnu <u>H</u>ajar dan ulama lainnya<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a>.</p>
<p>Dalam hal ini, Imam A<u>h</u>mad bin <u>H</u>ambal berkata: “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla akan menghadirkan bagi umat manusia pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang telah banyak ditinggalkan manusia) dan memberantas kedustaan dari (hadits-hadits) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a>.</p>
<p>Para ulama telah menyebutkan nama-nama para imam Ahlus sunnah yang memenuhi kriteria untuk disebut sebagai <em>mujaddid</em> (pembaharu) dalam Islam, berdasarkan pengamatan mereka melalui sifat-sifat mulia para imam tersebut.</p>
<p>Dalam tulisan ini kami akan menyebutkan beberapa di antara para imam tersebut beserta sekelumit dari biografi mereka.</p>
<p><strong>1. ‘Umar bin ‘Abdil ‘Azîz bin Marw</strong>â<strong>n bin <u>H</u>akam al-Qurasyi al-Umawi al-Madani</strong><br>
Beliau adalah khalifah yang tersohor dengan keshalihan dan keadilannya, seorang Amirul Mukminin, imam generasi <em>Tabi’in</em> yang mulia, seorang penghafal hadits yang utama dan terpercaya. Lahir pada tahun 64 H dan wafat pada tahun 101 H.</p>
<p>Ibunya adalah cucu Sahabat yang mulia ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu, bernama <u>H</u>afshah binti ‘Ashim bin ‘Umar bin Khaththâb<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a>.</p>
<p>Dalam aspek keadilan dan kelurusan akhlak, beliau diserupakan dengan kakek beliau ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu, dalam sifat zuhud dengan <u>H</u>asan al-Bashri rahimahullah dan dalam ketinggian ilmu dengan Imam az-Zuhri rahimahullah<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a>.</p>
<p>Imam Syâfi’i rahimahullah memuji beliau dengan mengatakan: “<em>al-Khul</em>â<em>f</em>â<em>’ ar-R</em>â<em>syidûn</em> (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk dan bimbingan Allâh Azza wa Jalla) ada lima orang: ‘Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsmân, ‘Ali dan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz”<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a>.</p>
<p>Para ulama Ahlus sunnah telah bersepakat untuk menobatkan beliau sebagai <em>mujaddid</em> (pembaharu) pertama dalam Islam<a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a>.</p>
<p>Imam A<u>h</u>mad bin <u>H</u>ambal berkata: “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla akan menghadirkan bagi umat manusia, pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan (memberantas) kedustaan dari (hadits-hadits) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kemudian kami melihat (meneliti sejarah), maka (kami dapati pembaharu) pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah) adalah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah, dan (pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua adalah Imam Syafi’i rahimahullah<a href="#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a>.</p>
<p><strong>2. Imam asy-Syafi’i, Abu Abdill</strong>â<strong>h Mu<u>h</u>ammad bin Idris bin al-‘Abb</strong>â<strong>s bin ‘Utsm</strong>â<strong>n al-Muththalibi al-Qurasyi al-Makki</strong><br>
Beliau adalah seorang imam besar dari generasi <em>atba’ut tabi’in</em> (murid para <em>Tâbi’in</em>), pembela sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ahli fikih yang ternama, penghafal hadits yang utama dan terpercaya. Lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H. Garis pernasaban beliau bertemu dengan nasab Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam<a href="#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a>.</p>
<p>Imam Qutaibah bin Sa’îd rahimahullah memuji beliau dengan mengatakan: “Kematian Imam Syafi’i rahimahullah berarti kematian sunnah Rasûlullâh” <a href="#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a>.</p>
<p>Imam A<u>h</u>mad bin <u>H</u>ambal rahimahullah berkata: “(Kedudukan) Imam Syafi’i (di masanya)  seperti matahari bagi bumi dan sebagai penyelamat bagi umat manusia”<a href="#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a>.</p>
<p>Para ulama Ahlus sunnah juga telah bersepakat menobatkan beliau sebagai <em>mujaddid</em> (pembaharu) kedua dalam Islam<a href="#_ftn14" name="_ftnref14">[14]</a>.</p>
<p>Imam A<u>h</u>mad rahimahullah berkata: “…(Pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah) adalah Imam Syafi’i<a href="#_ftn15" name="_ftnref15">[15]</a>.</p>
<p>Imam Ibnu <u>H</u>ajar rahimahullah berkata: “Beliau adalah <em>mujaddid</em> (pembaharu) urusan agama Islam pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah)”<a href="#_ftn16" name="_ftnref16">[16]</a>.</p>
<p><strong>3. <u>H</u>asan al-Bashri, Abu Sa’id al-<u>H</u>asan bin Abil <u>H</u>asan Yasar al-Bashri</strong><br>
Beliau adalah Imam besar dari kalangan<em> T</em><em>â</em><em>bi’în</em>, Syaikhul Islam, sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lahir pada tahun 22 H dan wafat 110 H<a href="#_ftn17" name="_ftnref17">[17]</a>.</p>
<p>Beliau pernah disusui oleh Ummu Salamah Radhiyallahu anha, istri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pernah didoakan kebaikan oleh ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu agar diberi pemahaman dalam ilmu agama dan dicintai manusia<a href="#_ftn18" name="_ftnref18">[18]</a>.</p>
<p>Imam Mu<u>h</u>ammad bin Sa’ad rahimahullah memuji beliau dengan mengatakan: “Beliau adalah seorang yang berilmu (tinggi), menghimpun (berbagai macam ilmu), tinggi (kedudukannya), sangat terpercaya, sandaran dalam periwayatan hadits dan ahli ibadah”<a href="#_ftn19" name="_ftnref19">[19]</a>.</p>
<p>Beliau termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah)<a href="#_ftn20" name="_ftnref20">[20]</a>.</p>
<p><strong>4. Mu<u>h</u>ammad bin Sirin Abu Bakr al-Anshâri al-Bashri</strong><br>
Beliau adalah seorang imam besar dari kalangan <em>Tâbi’in</em>, Syaikhul Islam, sangat wara’ (berhati-hati dalam masalah halal-haram), sangat luas ilmunya lagi sangat terpercaya dan kokoh dalam meriwayatkan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau wafat pada tahun 110 H<a href="#_ftn21" name="_ftnref21">[21]</a>.</p>
<p>Imam Abu ‘Awânah al-Yasykuri rahimahullah berkata: “Aku melihat Mu<u>h</u>ammad bin Sirin di pasar, tidaklah seorang pun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allâh”<a href="#_ftn22" name="_ftnref22">[22]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah)<a href="#_ftn23" name="_ftnref23">[23]</a>.</p>
<p><strong>5. Mu<u>h</u>ammad bin Muslim bin ‘Ubaidill</strong>â<strong>h bin ‘Abdill</strong>â<strong>h bin Syih</strong>â<strong>b az-Zuhri al-Qurasyi al-Madani</strong><br>
Beliau adalah seorang imam besar dari kalangan <em>Tâbi’în</em>, penghafal hadits yang utama, yang disepakati kemuliaan dan kecermatan hafalannya. Beliau wafat pada tahun 125 H <a href="#_ftn24" name="_ftnref24">[24]</a>.</p>
<p>Imam ‘Umar bin ‘Abdil ‘Azîz rahimahullah memuji beliau dengan mengatakan: “Tidak tersisa seorang pun (di zaman ini) yang lebih memahami sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pada az-Zuhri”<a href="#_ftn25" name="_ftnref25">[25]</a>.</p>
<p>Imam Ayyûb as-Sakhtiyâni rahimahullah : “Aku belum pernah melihat (seorang pun) yang lebih berilmu dari pada beliau” <a href="#_ftn26" name="_ftnref26">[26]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah)<a href="#_ftn27" name="_ftnref27">[27]</a>.</p>
<p><strong>6. Ya<u>h</u>ya bin Ma’în, Abu Zakari</strong>â<strong> al-Bagdadi</strong><br>
Beliau adalah imam besar dari kalangan <em>Atbâ’ut T</em><em>â</em><em>bi’în</em> (murid para <em>T</em><em>â</em><em>bi’in</em>), ahli <em>jar<u>h</u> wa ta’dîl</em> (penilaian terhadap para perawi hadits dalam bentuk pujian atau celaan) yang ternama, penghafal hadits yang utama dan gurunya para ulama Ahli hadits. Lahir pada tahun 158 H dan wafat tahun 233 H<a href="#_ftn28" name="_ftnref28">[28]</a>.</p>
<p>Imam A<u>h</u>mad bin <u>H</u>ambal rahimahullah memujinya dengan mengatakan: “Ya<u>h</u>ya bin Ma’în adalah orang yang Allâh Azza wa Jalla ciptakan (khusus) untuk urusan ini (membela sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam), dengan cara menyingkap kedustaan para pendusta dalam hadits (Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”<a href="#_ftn29" name="_ftnref29">[29]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah)<a href="#_ftn30" name="_ftnref30">[30]</a>.</p>
<p><strong>7.</strong> <strong>Imam an-Nasâ’i, Abu ‘Abdir Ra<u>h</u>mân A<u>h</u>mad bin Syu’aib bin ‘Ali bin Sinân</strong><br>
Beliau adalah imam besar, Syaikhul Islam, penghafal dan kritikus hadits kenamaan, serta sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Lahir pada tahun 215 H dan wafat tahun 303 H<a href="#_ftn31" name="_ftnref31">[31]</a>.</p>
<p>Imam Abu Sa’îd bin Yûnus memuji beliau dengan mengatakan: “Abu ‘Abdirrahmân an-Nasâ’i adalah seorang imam (panutan), penghafal hadits dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya”<a href="#_ftn32" name="_ftnref32">[32]</a>.</p>
<p>Imam Abul <u>H</u>asan ad-Dâraquthni rahimahullah berkata: “Abu ‘Abdirra<u>h</u>mân an-Nasâ’i rahimahullah lebih diutamakan (dalam pemahaman ilmu hadits) dibandingkan semua ulama hadits di zaman beliau”<a href="#_ftn33" name="_ftnref33">[33]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun ketiga (hijriyah)<a href="#_ftn34" name="_ftnref34">[34]</a>.</p>
<p><strong>Catatan </strong><strong>P</strong><strong>enting</strong></p>
<ul>
<li>Banyak imam besar Ahlus sunnah yang terkenal dengan ketinggian ilmu dan pemahaman, serta kuat dalam menegakkan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, mereka tidak disebut oleh para ulama sebagai <em>mujaddid</em> (pembaharu) dalam Islam di zamannya, padahal mereka sangat pantas untuk itu, seperti Imam Mâlik bin Anas rahimahullah, Imam A<u>h</u>mad bin Hambal rahimahullah, Imam al-Bukhâri rahimahullah, Imam Muslim rahimahullah, Imam Abu Dâwud rahimahullah dan lain-lain. Hal ini disebabkan masa hidup mereka yang tidak bertepatan dengan waktu yang disebutkan dalam hadits di atas. Namun hal ini sama sekali tidak mengurangi tingginya kedudukan dan kemuliaan mereka. <em>Wall</em><em>â</em><em>hu a’lam</em> <a href="#_ftn35" name="_ftnref35">[35]</a>.</li>
<li>Termasuk para imam Ahlus sunnah yang dinobatkan oleh sejumlah besar ulama Islam sebagai pembaharu di abad ke-12 Hijriyah adalah Imam Syaikh Mu<u>h</u>ammad bin ‘Abdul Wahhâb at-Tamimi rahimahullah (wafat 1206 H)<a href="#_ftn36" name="_ftnref36">[36]</a>. Tentang hal ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Bâz  rahimahullah berkata: “Termasuk di antara imam (Ahlus sunnah) yang mendapatkan petunjuk (dari Allâh Azza wa Jalla) dan da’i yang mengusahakan perbaikan (umat ini) adalah seorang yang sangat dalam dan luas ilmunya, pembaharu ajaran Islam yang telah ditinggalkan (manusia) di abad ke-12 Hijriyah dan penyeru kepada sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Syaikh Mu<u>h</u>ammad bin ‘Abdul Wahhâb bin Sulaimân bin ‘Ali at-Tamimi al-Hambali. Semoga Allâh Azza wa Jalla  memperindah (menerangi) tempat peristirahannya dan memuliakannya di surga sebagai tempat tinggalnya” <a href="#_ftn37" name="_ftnref37">[37]</a>.</li>
<li>Demikian pula yang disebut-sebut para ulama sebagai pembaharu dalam Islam di abad ini, dua imam Ahlus sunnah yang ternama, yaitu Syaikh Mu<u>h</u>ammad Nâshiruddîn al-Albâni dan Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin ‘Abdullâh bin Bâz. Semoga Allâh Azza wa Jalla merahmati semua ulama Ahlus sunnah yang telah wafat dan menjaga mereka yang masih hidup.</li>
</ul>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> HR. Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (no. 8592), dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 6527), Dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab “’Aunul Ma’buud” 11/267) dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (no. 599).<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Lihat ‘Aunul Ma’bûd 11/260<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Ibid.<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Lihat ‘Aunul Ma’bûd 11/264<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> <em>Ta<u>h</u>dzîbul Kamâl  </em>21/432 dan Tadzkirotul huffâzh (1/118).<br>
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> Lihat kitab “Tadzkiratul huffazh” (1/119).<br>
<a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab “Tadzkiratul huffazh” (1/119).<br>
<a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> Lihat kitab <em>‘Aunul Ma’bûd</em>   11/260<br>
<a href="#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab <em>Siyaru A’lâmin Nubalâ</em> 10/46<br>
<a href="#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> <em>Ta<u>h</u>dzîbul Kamâl</em>  24/355, <em>Siyaru A’lâmin Nubalâ</em>  10/5 dan Tadzkirotul huffazh (1/361).<br>
<a href="#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam <em>Siyaru A’lâmin Nubalâ</em>  10/46<br>
<a href="#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> Dinukil oleh Imam al-Mizzi dalam <em>Ta<u>h</u>dzîbul Kamâl</em> 24/372<br>
<a href="#_ftnref14" name="_ftn14">[14]</a> <em>‘Aunul Ma’bûd</em>  11/260<br>
<a href="#_ftnref15" name="_ftn15">[15]</a> Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam <em>Siyaru A’lâmin Nubalâ</em>  10/46<br>
<a href="#_ftnref16" name="_ftn16">[16]</a> Kitab “Taqrîbut tahdzîb” (hal. 467).<br>
<a href="#_ftnref17" name="_ftn17">[17]</a> <em>Tadzkiratul <u>H</u>uffâzh</em> 1/71 dan <em>Taqrîbut Ta<u>h</u>dzîb</em>  hlm. 160<br>
<a href="#_ftnref18" name="_ftn18">[18]</a> Dinukil oleh Imam al-Mizzi t dalam <em>Ta<u>h</u>dzîbul Kamâl</em>  6/104<br>
<a href="#_ftnref19" name="_ftn19">[19]</a> Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam <em>Tadzkiratul <u>H</u>uffâzh</em>  1/71<br>
<a href="#_ftnref20" name="_ftn20">[20]</a> <em>‘Aunul Ma’bûd</em>  11/266<br>
<a href="#_ftnref21" name="_ftn21">[21]</a> <em>Siyaru A’lâmin Nubalâ</em>  4/606, <em>Tadzkiratul <u>H</u>uffâzh</em> 1/77 dan <em>Taqrîbut Ta<u>h</u>dzîb </em>hlm.160<br>
<a href="#_ftnref22" name="_ftn22">[22]</a> <em>Siyaru A’lâmin Nubalâ</em>  4/610. Dalam sebuah hadits <em>sha<u>h</u>i<u>h</u></em>, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: <em>“Wali (kekasih) Allâh adalah orang yang jika (manusia) memandangnya maka mereka akan ingat kepada Allâh”</em>. (<em>Ash-Sha<u>h</u>î<u>h</u>ah </em>no. 1733)<br>
<a href="#_ftnref23" name="_ftn23">[23]</a> <em>‘Aunul Ma’bûd</em>  11/266<br>
<a href="#_ftnref24" name="_ftn24">[24]</a> <em>Tadzkiratul <u>H</u>uffâzh</em> 1/108 dan <em>Taqrîbut Ta<u>h</u>dzîb</em>  hlm. 506<br>
<a href="#_ftnref25" name="_ftn25">[25]</a> Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam <em>Tadzkiratul <u>H</u>uffâzh</em>  1/109<br>
<a href="#_ftnref26" name="_ftn26">[26]</a> Ibid.<br>
<a href="#_ftnref27" name="_ftn27">[27]</a> <em>‘Aunul Ma’bûd</em>   11/266<br>
<a href="#_ftnref28" name="_ftn28">[28]</a> <em>Siyaru A’lâmin Nubalâ </em>11/71 dan <em>Taqrîbut Ta<u>h</u>dzîb</em>  hlm. 597<br>
<a href="#_ftnref29" name="_ftn29">[29]</a> Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi rahimahullah dalam <em>Siyaru A’lâmin Nubalâ</em>  11/80<br>
<a href="#_ftnref30" name="_ftn30">[30]</a> <em>‘Aunul Ma’bûd</em>   11/266<br>
<a href="#_ftnref31" name="_ftn31">[31]</a> <em>Siyaru A’lâmin Nubalâ</em> 14/125 dan <em>Taqrîbut Ta<u>h</u>dzîb</em> hlm. 80<br>
<a href="#_ftnref32" name="_ftn32">[32]</a> Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitab <em>Siyaru A’lâmin Nubalâ</em>  14/133<br>
<a href="#_ftnref33" name="_ftn33">[33]</a> Ibid 14/131<br>
<a href="#_ftnref34" name="_ftn34">[34]</a> <em>‘Aunul Ma’bûd</em>   11/266<br>
<a href="#_ftnref35" name="_ftn35">[35]</a> Ibid 11/263<br>
<a href="#_ftnref36" name="_ftn36">[36]</a> Lihat <em>‘Aqidatusy Syaikh Mu<u>h</u>ammad bin ‘Abdil Wahhâb as-Salafiyyah</em> 1/18<br>
<a href="#_ftnref37" name="_ftn37">[37]</a> Ibid 1/19-20</p>
 