
<p><strong>MENANAMKAN PADA DIRI ANAK HAK NABI MU<u>H</u>AMMAD </strong><strong>SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM</strong></p>
<p>Oleh<br>
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin</p>
<p>Hak terbesar kedua setelah hak Allâh Azza wa Jalla adalah hak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan tidak ada hak seorangpun di antara hak para makhluk yang bisa menyamai besarnya hak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apalagi melebihinya.</p>
<p>Sebab, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul terakhir yang  diutus oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk menyampaikan risalah-Nya, membawa kabar gembira dan membawa peringatan. Kabar gembira berupa surga bagi siapa yang taat menjalankan semua ketentuan-Nya, serta menyampaikan peringatan berupa siksa neraka bagi siapa saja yang durhaka.</p>
<p>Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p><strong>إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا</strong> <strong>﴿٨﴾</strong> <strong>لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا</strong></p>
<p><em>Sesungguhnya Kami utus engkau sebagai saksi, pembambawa kabar gembira dan pembawa peringatan. Supaya kalian semua beriman kepada Allâ dan Rasul-Nya, dan supaya kamu semua menguatkan agama-Nya, mengagungkanNya dan mensucikan (bertasbih kepada)Nya setiap pagi dan petang.</em>[Al-Fat<u>h</u>/48:8-9]</p>
<p>Menguatkan agama-Nya dan mengagungkan-Nya dalam ayat di atas berarti membela, menguatkan  dan menghormati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .</p>
<p>Syaikh Abdurra<u>h</u>mân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, (maksud menguatkan agama-Nya dan mengagungkan-Nya) adalah menguatkan serta membela Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , menghormatinya dan memenuhi hak-haknya.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:</p>
<p><strong>مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ</strong><strong> ۗ</strong><strong> وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا</strong></p>
<p><em>Bukanlah Mu<u>h</u>ammad itu adalah ayah seorangpun di antara kalian, tetapi ia adalah Rasul Allâh dan penutup para nabi, dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.</em>[Al-A<u>h</u>zâb/33:40]</p>
<p>Dari Abu Dzar al-Ghifâri Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan:</p>
<p><strong>تَرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا عِنْدَنَا مِنْهُ عِلْمٌ . </strong><strong>قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: مَعْنَى عِنْدَنَا مِنْهُ يَعْنِي بِأَوَامِرِهِ وَنَوَاهِيهِ وَأَخْبَارِهِ وَأَفْعَالِهِ وَإِبَاحَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. رواه ابن حبان فى صحيحه</strong></p>
<p><em>Rasûlullâh telah meninggalkan kami sedangkan tidak ada seekor burungpun yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan selalu ada ilmu bagi kami daripadanya. </em><em>Abu <u>H</u>âtim (Ibnu <u>H</u>ibbân) mengatakan: ma’na : selalu ada ilmu bagi kami daripadanya, ialah (ilmu) berupa perintah-perintah, larangan-larangan, berita-berita dan perbuatan-perbuatan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta apa saja yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam perbolehkannya</em>. [HR. Ibnu <u>H</u>ibbân dalam <em>Sha<u>h</u>î<u>h</u>–</em>nya]<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Dalam riwayat Thabrani, terdapat tambahan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُبَاعِدُ مِنَ الناَّرِ، إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ</strong>. رواه الطبراني</p>
<p><em>Tidak ada lagi sesutupun yang akan mendekatkan (seseorang) ke sorga dan menjauhkannya dari neraka, kecuali sudah dijelaskan untukmu.</em> [HR. At-Thabrani dalam<em> al-Mu’jam al-Kabîr</em>]<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Nash-nash di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang kepercayaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang diutus sebagai rasul terakhir untuk umat manusia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan segala sesuatu yang diperlukan umatnya terkait kehidupan beragama mereka, maka tidak ada sesuatupun yang dapat mendekatkan seseorang ke sorga atau menjauhkannya dari neraka, kecuali beliau telah menjelaskannya. Karena itu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki hak paling besar sesudah hak Allâh Azza wa Jalla yang wajib dipenuhi oleh manusia.</p>
<p><strong>Hak-hak itu antara Lain</strong>:<br>
Hak untuk lebih dicintai di bandingkan seluruh manusia lainnya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ</strong>. رواه البخاري ومسلم وغيرهما</p>
<p><em>Tidak (sempurna) keimanan seseorang di antara kamu sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya.</em> [HR. Bukhâri, Muslim dan lainnya]<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a>.</p>
<p>Bahkan ketika Umar bin Khatthâb Radhiyallahu anhu menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling beliau cintai kecuali dirinya sendiri, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kalau keimanannya masih belum sempurna sebelum kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih besar daripada kecintaan kepada dirinya sendiri.</p>
<p>Imam Bukhâri rahimahullah meriwayatkan dalam Kitab Sha<u>h</u>î<u>h</u>nya: Bahwa suatu kali Umar berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : <em>Ya Rasuûlallâh, sungguh engkau adalah orang lebih aku cintai dibanding semua hal kecuali diriku. </em>Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>لاَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الآنَ، وَاللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الآنَ يَا عُمَرُ»</strong>. رواه البخاري</p>
<p><em>Tidak, demi Allâh yang jiwaku ada ditanganNya, sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.</em></p>
<p>Maka Umar menjawab : Demi Allâh, sesungguhnya sekarang engkau betul-betul lebih aku cintai daripada diriku sendiri. Nabipun bersabda : <em>“Sekarang barulah wahai Umar”</em> [HR. Al-Bukhâri]<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<p>Demikianlah antara lain hak yang harus dipenuhi oleh setiap muslim terhadap nabinya.</p>
<p>Sementara kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini akan lebih bisa mendarah daging tertanam dalam jiwa seseorang<em> –</em>dengan taufiq Allâh-, jika kecintaan ini sudah mulai ditanamkan pada diri anak-anak semenjak masih dalam usia sangat dini.  Karena itu, ayah dan ibu serta semua pendidik muslim harus memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini.</p>
<p><em>Wallâhu a’lam</em>,<em> waffaqanallâhu waiyyâkum</em>.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Lihat <em><u>H</u></em><em>uqûq Da’at </em><em>ilahâ al-fithrah wa qarrarathâ asy-Syarî’ah,</em> Syaikh Mu<u>h</u>ammad bin Shalih al-Utsaimin, hak yang kedua, hak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <em>Taisîr al-Karîm ar-Ra<u>h</u>ân</em>, QS. <em>al- Fat<u>h</u></em> : 9.<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> <em>Sha<u>h</u>î<u>h</u> </em><em>Ibnu <u>H</u>ibbân bi Tartîb Ibni Balbân, Ta<u>h</u>qîq :</em> Syu’aib al-Arnaʹûth, <em>Mu</em><em>ʹ</em><em>assasah ar-Risâlah,</em> cet. II, 1418 H/1997 M, I/267-268, <em>Kitâb al-‘Ilmi, </em>no. 65.<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> <em>Al-Mu’jam al-Kabîr</em>. <em>Mu</em><em>ʹassasah </em><em>ar-Rayyân &amp; Maktabah al-Ashâlah wa at-Turâts. Ta<u>h</u>qîq wa takhrîj</em>: <u>H</u>amdi ‘Abdul Majîd as-Salafi, cet. I, 1431 H/2010 M. II/443-444, <em>Bâb al-Jîm, bâb : Wamin Gharâ</em><em>ʹ</em><em>ib Abi Dzarr Radhiyallâhu ‘anhu, </em>no. 1647.<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a><em> Sha<u>h</u>î<u>h</u> Bukhâri, Kitâb al-Îmân, Bâb </em>8, no. 15 dan<em> Sha<u>h</u>î<u>h</u> Muslim, Kitâb al-Îmân, Bâb Ma<u>h</u>abati ar-Rasûl Shallallâhu ‘alaihi wa sallam </em>(16), no. 70<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> <em>Sha<u>h</u>î<u>h</u> Bukhâri, </em><em>Kitâb al-Aimân wa an-Nudzûr, Bâb Kaifa Kânat Yamînu an-Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> (13), no. 6632.</p>
 