
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </b><b><i>rahimahullah</i></b></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><b>Pertanyaan:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah benar terdapat hadits dalam masalah perhatian terhadap urusan kaum muslimin, karena banyak dari para penceramah menyebutkan hadits,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang tidak perhatian terhadap urusan kaum muslimin, maka tidak termasuk bagian dari mereka.” (Hadits ini dinilai </span><i><span style="font-weight: 400;">dha’if </span></i><span style="font-weight: 400;">oleh Al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silisilah Al-Ahaadits Adh-Dha’ifah, </span></i><span style="font-weight: 400;">1: 309-312)</span></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><b>Jawaban:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini adalah hadits yang masyhur (terkenal} di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi aku tidak mengetahui apakah lafadz hadits tersebut shahih ataukah tidak dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam?</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, makna hadits tersebut shahih. Karena seorang muslim yang tidak memiliki perhatian (cuek) terhadap urusan kaum muslimin, pada hakikatnya dia memiliki kekurangan dalam Islamnya. Karena Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda dalam hadits yang shahih,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).”</span><b> (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” </span><b>(HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits-hadits tersebut dan yang semisal, itu semakna dengan perkataan yang masyhur tersebut. Yang tidak aku ingat sekarang adalah apakah ungkapan tersebut berasal dari perkataan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ataukah dari perkataan para ulama.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29176-toleransi-bukan-berarti-korbankan-akidah.html" data-darkreader-inline-color="">Toleransi Bukan Berarti Korbankan Akidah</a></span></strong></li>
<li><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/8216-tidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Semua Pendapat Dalam Khilafiyah Ditoleransi</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 1 Syawal 1441/ 24 Mei 2020</span></p>
<p><b>Penerjemah:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diterjemahkan dari kitab </span><b><i>Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat</i></b> <span style="font-weight: 400;">hal. 61, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala.</span></i></p>
 