
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ</span></p>
<p>“Barangsiapa melakukan amal salih, maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” <strong>(QS. Fushshilat: 46)</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, “Artinya, barangsiapa yang melakukan suatu amal salih, maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah itu Maha kaya, sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat <em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [6: 264] cet. Dar Thaibah)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ</span></p>
<p>“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” <strong>(QS. al-’Ankabut: 6)</strong></p>
<p>Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat <em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [6: 264] cet. Dar Thaibah)</p>
<p>Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ</span></p>
<p>“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?”<strong> (QS. Ali ‘Imran: 142)</strong></p>
<p>Dengan ujian inilah akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ</span></p>
<p>“Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui [membuktikan] siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” <strong>(QS. al-’Ankabut: 3)</strong></p>
<p>Oleh sebab itu, semestinya setiap hamba yang takut akan perjumpaan dirinya dengan Allah dalam keadaan hina untuk mengisi waktunya dengan amal salih dan nilai-nilai keimanan serta menghadapi berbagai fitnah dengan kesabaran. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</span></p>
<p>“Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya ketetapan ajal dari Allah itu pasti datang, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” <strong>(QS. al-’Ankabut: 5)</strong></p>
<p>Imam al-Qurthubi <em>rahimahullah</em> menjelaskan maksud ayat ini, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang merasa takut akan kematian, hendaklah dia melakukan amal salih. Karena sesungguhnya kematian itu pasti akan mendatanginya.” (lihat <em>al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an</em> [16: 338-339])</p>
<p>Kematian tidak bisa dielakkan. Tidak ada yang bisa berlari untuk menghindar darinya. Oleh sebab itu, -wahai saudaraku- membekali diri untuk menyambutnya adalah sebuah keniscayaan. Allah <em>Ta’ala</em> telah menegaskan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ</span></p>
<p>“Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, sesungguhnya ia pasti datang menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak, lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” <strong>(QS. Al-Jumu’ah: 8)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/67393-mengamalkan-sunnah-nabi-ketika-banyak-yang-meninggalkannya.html" data-darkreader-inline-color="">Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya</a></strong></p>
<p>Membekali diri dengan keimanan, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, dan berjuang di jalan Allah. Membekali diri dengan sabar dan syukur. Membekali diri dengan tauhid dan amal salih. Membekali diri dengan pundi-pundi ketakwaan. Inilah jalan orang-orang yang merindukan rahmat dan ampunan-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ</span></p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” <strong>(QS. Al-Baqarah: 218)</strong></p>
<p>Dikisahkan, bahwa suatu hari Abud Darda’ <em>radhiyallahu ’anh</em>u melihat seorang lelaki ketika menghadiri jenazah. Lelaki itu berkata, “Jenazah siapakah ini?” Maka Abud Darda’ berkata, “Inilah dirimu, inilah dirimu. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ</span></p>
<p>“Sesungguhnya Engkau pasti mati dan mereka pun pasti akan mati.” <strong>(QS. Az-Zumar: 30)</strong> (lihat <em>Aina Nahnu min Haa’ulaa’i</em> karya Abdul Malik al-Qasim, hal. 110)</p>
<p>Dikisahkan bahwa Muhammad bin al-Munkadir <em>rahimahullah</em> menangis sejadi-jadinya menjelang kematiannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Maka beliau mengangkat pandangan matanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah dan melarang kepadaku. Lalu aku justru berbuat durhaka. Jika Engkau mengampuni [diriku] sungguh Engkau telah memberikan anugerah [kepadaku]. Dan apabila Engkau menghukum [aku], sungguh Engkau tidak melakukan kezaliman [kepadaku].” (lihat <em>Aina Nahnu min Haa’ulaa’i,</em> hal. 94)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ</span></p>
<p>“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian [keangkuhan] di atas muka bumi dan berbuat kerusakan. Dan sesungguhnya, kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” <strong>(QS. Al-Qashash: 83)</strong></p>
<p>al-Fudhail bin ‘Iyadh <em>rahimahullah</em> berkata, “Masuk ke alam dunia ini adalah sesuatu yang ringan (mudah). Akan tetapi, keluar darinya -dengan sukses dan selamat, pent- adalah sesuatu yang berat (tidak sederhana).” (lihat <em>Aina Nahnu min Haa’ulaa’i,</em> hal. 94)</p>
<p>Abud Darda <em>radhiyallahu ’anhu</em> berkata, “Jika disebut nama-nama orang yang sudah mati, maka anggaplah keadaan dirimu seperti halnya salah satu di antara mereka.” (lihat <em>Aina Nahnu min Haa’ulaa’i,</em> hal. 68)</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala </em>menganugerahkan kepada kita kesudahan yang baik di alam dunia ini dan menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya. <em>Allahul musta’aan</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/60248-bagaimana-bermuamalah-dengan-orang-orang-yang-menyimpang.html" data-darkreader-inline-color="">Bagaimana Bermuamalah Dengan Orang-Orang Yang Menyimpang?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/59821-mendakwahkan-akhlak-dan-muamalah-saja.html" data-darkreader-inline-color="">Mendakwahkan Akhlak dan Muamalah Saja, Lalu Melupakan Dakwah Tauhid</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>**</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Ari Wahyudi, S.Si.</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
 