
<h2>Memberi Jatah Waris Lebih Banyak kepada Anak karena Berbakti<br>
</h2>
<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Salam,<br> Misalnya, ada sebuah keluarga dg ilustrasi berikut:<br> Pak Danang memiliki 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Mereka semua  telah berkeluarga dan tinggal di luar, kecuali si Adi anak bungsu yang  menetap di rumah dan membantu menggarap sawah bersama Pak Danang.</p>
<p>Bolehkah Pak Danang memberikan jatah warisan yang lebih kepada Adi,  sebagai ganti dari kerja kerasnya membantu orang tua dalam menggarap  sawah?</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Salam,<br> Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</p>
<p>Pertama, perpindahan harta orang tua kepada anak ada 3 macam:</p>
<p><strong>1. Warisan</strong></p>
<p>Perpindahan  harta dalam bentuk warisan baru berlaku setelah orang tua meninggal,  dan itu harus sesuai petunjuk baku yang telah Allah tetapkan dalam  Al-Quran tentang aturan pembagian warisan.</p>
<p><strong>2. Nafkah</strong></p>
<p>Nafkah  pemberian orang tua untuk memenuhi kebutuhan pokok anak, dan ini menjadi  kewajiban orang tua. Karena nafkah ini diberikan dalam rangka memenuhi  kebutuhan pokok anak, maka kadar nafkah yang diberikan kepada  masing-masing anak, boleh berbeda. Tertu saja bersadarkan kebutuhannya.  Misalnya, anak yang kuliah akan membutuhkan jatah nafkah lebih banyak  dibandingkan anak yg baru sekolah TK. Anak yang sakit-sakitan diberi  nafkah lebih banyak utk biaya perawatan dibandingkan anak yang sehat,  dst.</p>
<p>Dan anak yang mendapatkan nafkah lebih sedikit, tidak boleh  nuntut org tuanya, untuk mendapatkan kompensasi. Misalnya ada salah satu  anak jatuh sakit dan menghabiskan biaya perawatan ratusan juta. Setelah  dewasa, anak yang lain tidak boleh nuntut, jatah warisan anak yang  pernah sakit harus diberikan kepada anak yang sehat. Karena ini bagian  dari nafkah.</p>
<p><strong>3. Hibah</strong></p>
<p>Hibah adalah pemberian orang tua  kepada anak di luar kebutuhan pokok anak yang menjadi tanggungan orang  tua. Untuk pemberian ketiga ini, orang tua wajib adil kepada semua  anaknya, sama rata antara laki-laki dan perempuan, menurut pendapat yang  kuat. Dalilnya adalah hadis An-Nu’man bin Basyir.<br> Nu’man pernah  menceritakan bahwa ayahnya, yaitu Basyir, pernah datang kepada Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan, “Saya telah memberi  seorang budak kepada anakku ini (yaitu Nu’man).” Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bertanya,</p>
<p class="arab">أعطيت سائر ولدك مثل هذا؟</p>
<p>“Apakah kamu juga memberikan kepada anakmu yang lain seperti yang kamu berikan kepadanya?”<br> Basyir menjawab: “Tidak.”</p>
<p>Mendengar jawaban ini, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menasehatkan,</p>
<p>فاتقوا الله واعدلوا بين أولادكم</p>
<p><em>“Bertaqwalah kepada Allah dan bersikaplah adil kepada anak-anakmu.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim).<br> [simak Syarh Riyadhus Shalihin, Ibn Utsaimin, 6/535 – 536]</p>
<p><strong>Bagaimana solusi untuk kasus di atas?</strong></p>
<p>Berikut keterangan Dr. Sa’d Al-Khatslan, ketika beliau ditanya,</p>
<p>“Bolehkah salah satu ahli waris mendapatkan pemberian yang lebih, sebagai ganti dari kerja keras yang dia lakukan?”</p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p class="arab">الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:<br> فلا يخلو أن يكون الورثة –المشار إليهم في السؤال- أولاداً أو غير أولاد،  أما إن كانوا غير أولاد، كأن يكونوا إخوة مثلاً فله أن يخصَّ بعضهم بهبة أو  عطية أو هدية أو غير ذلك؛ لأنه لا يجب العدل بينهم.</p>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Ahli  waris – seperti yang ditunjukkan dalam pertanyaan – ada dua  kemungkinan: anak atau selain anak, seperti saudara. Jika dia saudara  maka orang yang hendak meninggal, boleh memberikan hibah, hadiah atau  harta apapun kepada salah satu saudaranya. Karena tidak ada kewajiban  adil diantara mereka.</p>
<p class="arab">أما إذا كان الورثة هم  أولاده فلا يجوز تخصيص بعضهم بهبة أو عطية؛ لقول النبي –صلى الله عليه  وسلم- لوالد النعمان بن بشير لما أراد أبوه أن يخصه بهبة: “أعطيت سائر ولدك  مثل هذا؟” قال: لا. قال: “فاتقوا الله واعدلوا بين أولادكم”، … صحيح  البخاري (2586)، وصحيح مسلم (1623)، وصحيح حبان (5106)، وغيرهم.</p>
<p>Namun  jika ahli waris tersebut adalah anak, maka orang tua tidak boleh  memberikan hibah kepada salah satu anak, tanpa yang lain. Berdasarkan  sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada ayahnya Nu’man, ketika  ayahnya hendak memberikan hibah khusus untuk Nu’man, “Apakah kamu  memberikan semua anakmu seperti ini?” “Tidak.”, Jawab Basyir. Kemudian  nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ” Bertaqwalah kepada Allah  dan bersikaplah adil kepada anak-anakmu.” (HR. Bukhari 2586, Muslim  1623, Ibn Hibban 5106, dan yang lainnya).</p>
<p>Beliau kemudian memberi solusi:</p>
<p class="arab">أما  إذا كان بعض أولاده يعمل مع والده فإن هذا لا يقتضي تخصيصه، وإنما يعامل  معاملة الأجنبي تماماً، فيعطيه ما يعطي الأجنبي من أجرة المثل لو قام بمثل  عمله من غير محاباة. والله أعلم.</p>
<p>Dan jika ada anak yang membantu  orang tuanya bekerja, ini tidaklah menyebabkan dia boleh dikhususkan  untuk mendapatkan hibah dari orang tua. Namun dia diperlakukan  sebagaimana orang luar, sehingga dia berhak mendapat upah standar  andaikan dia orang lain, jika dia melakukan pekerjaan itu (membantu  orang tuanya) bukan karena suke rela.</p>
<p>Sumber: <em>http://www.saad-alkthlan.com/text-4</em></p>
 