
<h2><strong>Memberi Nilai Tambah Material Bekas Agar Laku Terjual</strong></h2>
<p>Pernahkah Anda  memikirkan atau bahkan pernah mencoba menjadi  pengusaha barang material bekas. Mudah, kan? Pekerjaan Anda sehari-hari  hanya duduk-duduk dan mengawasi barang yang Anda jual, sesekali ngobrol  dengan calon pembeli yang datang. Jika rezeki tiba, maka Anda akan  menerima order dari pelanggan maupun calon pembeli, dan Anda-pun tinggal  menghitung keuntungan. Itulah pekerjaan para penjual material bekas.</p>
<p>Biasanya, para pedagang material bekas ini merangkap jasa pembongkaran  rumah maupun gedung. Sembari membogkar rumah, mereka  mengambil bahan  bangunan bekas, yang masih bisa dipakai untuk nanti dijual kembali.  Tentu saja, harga material bekas ini relatif lebih murah dibandingkan  dengan membeli material baru.<br> Cucu Koswara, warga Cigereleng Kota Bandung, Jawa Barat ini merupakan  salah satu penjual material bekas . Sebelum terjun ke bisnis jual beli  material bekas, ia adalah pekerja bangunan. Ketika masih bekerja sebagai  pekerja bangunan tahun 1980-an, ia sering dilibatkan untuk mengerjakan  beberapa proyek pembangunan perumahan, hotel, dan pertokoan, di Bandung  dan luar kota. Tak hanya itu, iapun kerap ikut proyek pembongkaran  bangunan tua.</p>
<p>“Pada waktu melihat bangunan yang dibongkar, saya berpikir apa bisa  material bekasnya seperti batu bata, genting, kaca, kayu, kusen,  keramik, dijual lagi. Saya yakin, bisa memanfaatkannya asal hati-hati  saat membongkarnya,” kata Cucu Koswara ketika ditemui di gudangnya,  Jalan Soekarno-Hatta, Bandung.</p>
<p>Cucu berpikir tukang loak pun tidak pernah sepi pengunjung, selalu  saja ada yang membutuhkan barang-barang bekas. Apalagi, bahan-bahan  untuk membangun rumah. “Saya yakin material bekas, seperti kusen, pintu,  dan sebagainya ada peminatnya. Saya ingin mencoba, karena kal; itu  belum banyak yang memulai bisnis tersebut,” ujarnya.</p>
<p>Ia mewujudkan cita-cita itu pada 1986. Ketika itu di Bandung akan  didirikan plaza di Jalan Merdeka, dekat Balai Kota Bandung. Lahan yang  akan digunakan untuk pembangunan adalah Hotel Pakunegara, sehingga harus  dibongkar. “Saya ditawari seorang pemborong untuk membongkar hotel  tersebt, syaratnya sisa material bongkaran harus dibeli karena banyak  yang bisa dimanfaatkan,” ujar Cucu.</p>
<p>Pemborong tersebut meminta bayaran Rp. Rp10.500.000,- sebagai biaya  pembongkara. Sebagai pekerja bangunan yang sudah banyak pengalaman dan  tahu kondisi bangunan yang akan dibongkar, Cucu menyanggupinya.</p>
<p>“Untuk membongkar hotel itu kami membutuhkan waktu sebulan,” katanya.</p>
<p>Pekerja yang dikerahkan sebanyak 100 orang, sedangkan upah sehari  Rp3. 000, sudah termasuk makan tiga kali, rokok, dan makanana ringan.  “Kenapa lama dan pekerjanya banyak karena membongkarnya harus hati-hati.  Material seperti, bata, kayu, kusen, lantai, genting, besi beton, akan  dijual lagi,” ujar Cucu.</p>
<p>Cucu pun meraup keuntungan yang berlipat dari penjualan material sisa  bongkaran Hotel Pakunegara. “Waktu itu kami bisa mendapatkan Rp 100  juta dari modal awal sebesar Rp 10.500.000,” ujarnya.</p>
<p>Sejak itulah Cucu tidak lagi menjadi pekerja, tetapi menjadi juragan  pembongkaran bangunan. Dia tidak pernah sepi dari pekerjaannya, dan  makin banyak kenalannya yang senantiasa memberikan informasi tentang  proyek pengerjaan bangunan, di mana, kapan, dan bangunan apa saja yang  akan dibongkar.</p>
<p>Tak jarang Cucu diminta membongkar tanpa harus membeli bangunannya,  baik oleh perorangan maupun oleh pemborong. “Saya hanya mengeluarkan  biaya untuk upah pekerja dan untuk mengangkut material,” katanya.</p>
<p>Malah, sampai tahun 1995, justru Cucu yang sering dibayar oleh orang  yang meminta membongkar bangunan.  Gudangnya pun semakin penuh dengan  stok material bekas, batu bata, keramik, bermacam-macam jenis genting,  kusen pintu, kusen jendela, pintu, kayu bekas kerangka atap, bahkan  sampai kloset merek-merek terkenal.</p>
<p>“Keuntungannya waktu itu, 40% dari biaya pembongkaran bangunan,” ujarnya lagi.</p>
<p>Mulai tahun 2000 bisnis Cucu banyak yang mengikuti, di kanan kiri  gudangnya, dan di seberang jalan bermunculan gudang serupa. Juga di  tempat lain di Bandung. Bangunan yang akan dibongkar pun tidak ada lagi  yang gratis, harus dibeli. Pemilik bangunan tahu, material bekas  ternyata laku dijual lagi.</p>
<h3><strong>Calo Bongkaran Bangunan </strong></h3>
<p><strong> </strong></p>
<p>Membongkar bangunan juga menumbuhkan calo atau makelar di bidang itu.  “Saya tidak lagi langsung ditemui pemborong, tapi oleh calo, yang tentu  saja meminta harga yang lebih mahal. Bahkan sekarang bongkar bangunan  jadi rebutan, pemilik gudang materil bekas tidak lagi memiliki daya  tawar tinggi,” ujar Cucu.</p>
<p>Cucu biasanya membongkar bangunan yang berukuran besar. Harganya  antara Rp100 juta sampai Rp500 juta, bahkan kalau yang dibongkarnya  pabrik bisa mencapai miliaran.</p>
<p>“Itu pun tergantung kondisi bangunannya, kalau sudah ruksak parah  harganya lebih murah, sebelum menyepakati harga saya melihat dulu  kondisinya,” katanya.</p>
<p>Di luar karyawan tetapnya sebanyak sepuluh orang, jika  mengerjakan  pembongkaran bangunan, Cucu merekrut pekerja tambahan, upahnya per orang  sehari Rp100.000, sudah termasuk makan tiga kali, rokok, kopi, dan  makanan kecil.</p>
<p>“Upah pekerja mahal, karena membongkarnya tidak asal-asalan supaya materialnya tidak rusak,” kata Cucu.</p>
<p>Untuk mempertahankan usahanya dan agar mampu bersaing dengan yang  lain, Cucu yang memiliki satu anak, lelaki, dan sudah mengantongi gelar  S2, kembali memutar otak. “Material bekas kalau memungkinkan harus  diberi nilai tambah sehingga harga jualnya jadi lebih tinggi, ” ujarnya.</p>
<p>Barang-barang porselen, seperti kloset, tempat cuci tangan,  dibersihkan sampai mengkilap seperti baru. Genting juga, kalau  pembelinya minta, dicet kembali dengan warna sesuai dengan keinginan  pembeli. Besi bekas tulang beton dirangkai kembali, setelah sebelumnya  diampelas agar karatnya berkurang.</p>
<p>Kusen, pintu, jendela, diserut dan diampelas sampai tampak kayunya  seperti baru.  Cucu memperkerjakan tukang kayu yang bayarannya seminggu  bisa sampai Rp1 juta. Dengan memberi nilai tambah pada material bekas,  pendapatannya pun relatif stabil. Omzetnya sebulan rata-rata Rp300 juta,  dipotong gajih pegawai tetap yang dibayar mingguan, termasuk supir tiga  orang, biaya transportasi untuk tiga mobil oprasional, bayar listrik,  sebulan laba beresihnya mencapai Rp100 juta.</p>
<p>Cucu  yang mengaku tidak pernah meminjam modal pada bank mendapat  hasil sampingan dari penjualan pintu antik, jendela antik, dan kayu jati  peninggalan Belanda.</p>
<p>“Saya pernah membongkar bangunan kantor camat  yang dibangun taun  1629. Pintunya terbuat dari jati kualitas bagus, harganya sampai Rp700  ribu perlembar,” ujarnya.</p>
<p>Untuk lebih mengembangkan usahanya, Cucu yang kini dibantu anaknya  membuka cabang di Banjaran, Kabupatén Bandung, sekitar 20 kilometer dari  gudangnya di Jalan Soekarno-Hatta Kota Bandung. (<a href="http://majalah.pengusahamuslim.com/2010/11/" target="_blank"><em>Majalah Pengusaha  Muslim</em></a>, Edisi November 2010)</p>
<p><strong>Artikel <a>www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 