
<p>Karena badai di Atlanta, penerbangan dari Dallas ke Atlanta, ditunda dua kali. Pada akhirnya, para penumpang boarding dan saya berharap untuk segera berangkat. Harapan saya pupus setelah awak pesawat yang nampak kelelahan mengumumkan bahwa pesawat tidak dijinkan untuk take off selama 15 menit, jam kerja kru sudah lebih dari 16 jam dan kami menggunakan taxi untuk kembali ke terminal dan menunggu penerbangan lainnya.</p>
<p>Kami tidak diijinkan untuk take-off, dan waktu para awak sudah habis, serta kami semua kembali ke terminal membuat emosi saya campur aduk. Saya terus berpikir, “Tapi kami sudah berada disana…siap untuk take off. Bagaimana mungkin 1-1/2 jam menjadi masalah?”</p>
<p>Ketika airline harus memikirkan kelebihan kerja para pilot dan awak pesawat, perusahaan harus memikirkan karyawan yang kelebihan kerja. Mengapa? Kesalahan, kecelakaan, dan produktivitas yang rendah adalah awalnya.</p>
<p>Emosi saya yang campur aduk ketika kembali ke terminal sama dengan tanda-tanda yang ditunjukkan budaya saat ini mengenai jam kerja yang panjang. Di satu sisi kita setuju dengan karyawan keadaan karyawan yang menyedihkan bagaimana mereka bekerja keras, dan di sisi lain kami menghargai karyawan sebagai “patriot” yang punya nyali untuk bekerja dengan waktu yang lebih panjang .</p>
<p>Sebuah studi oleh Families dan Work Institute menyimpulkan bahwa karyawan yang bekerja melampaui batas harus ditanggapi dengan serius. Karyawan yang bekerja melampaui batas akan menunjukkan kecemasan, membuat kesalahan di tempat kerja, merasa marah dengan perusahaan karena membuat mereka bekerja dengan waktu yang lebih panjang. Dokumen studi menunjukkan bahwa hampir separo yang merasa bekerja berlebihan melaporkan  kesehatan mereka buruk dan 8 persen karyawan yang tidak bekerja berlebihan menunjukkan gejala depresi klinis dibandingkan dengan 21 persen dari mereka dengan beban kelebihan kerja yang tingggi.</p>
<p>Apa yang bisa dilakukan organisasi untuk membantu agar karyawan tidak kelebihan kerja dan pulang tepat waktu untuk memenuhi  kebutuhan pribadinya? Latih karyawan dalam menajemen waktu dan menentukan sasaran . Upayakan untuk terus memberikan pelumas pada roda produktivitas, dan  tidak menjadi batang yang mengganjal roda, yang menjegal penggendara.</p>
<p>Menggunakan waktu secara efisien di tempat kerja adalah isu individu dan organisasi. Di sisi organisasi, para manajer bisa mengurangi perasaan kelebihan kerja dengan:</p>
<p>– tidak mengijinkan makan di meja kerja dan bekerja saat makan siang</p>
<p>– mendorong karyawan untuk menggunakan waktu liburan dengan baik</p>
<p>– mengijinkan jam kerja yang fleksibel jika dibutuhkan</p>
<p>– menganjurkan adanya zona anti-gangguan ketika pekerja bisa fokus</p>
<p>Untuk mendorong efisiensi, manajer:</p>
<p>– memberikan pernyataan tujuan yang disampaikan dengan jelas dan adanya saling kesepahaman dalam tenggat waktu</p>
<p>– mendorong karyawan membuat daftar “to do” harian</p>
<p>– memastikan peralatan bisa digunakan dengan baik</p>
<p>– memastikan ketersediaan suplai</p>
<p>– melatih karyawan dengan paket software yang membantu alir kerja</p>
<p>Pekerja dengan stres yang rendah adalah pekerja yang lebih baik. Pastikan hal diatas dilakukan karena penting bagi karyawan untuk mendongkrak waktu mereka di kantor dan menjadi lebih efisien, efektif, dan tingkat stres yang rendah. Meskipun karyawan tidak bisa lembur setiap harinya, dengan memberikan isu ini akan membantu karyawan merasa seolah Anda sudah membantu mereka  “membuat” tambahan waktu.</p>
<p>Oleh: Karla Brandau</p>
<p>Sumber: <a title="www.KarlaBrandau.com" rel="external" href="http://www.KarlaBrandau.com">www.KarlaBrandau.com</a></p>
<p>Diterjemahkan oleh: Iin – Tim Pengusaha Muslim.com</p>
 