
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam proses pemakaman jenazah, terkadang kita dapati terjadi perselisihan tentang apakah tali pocong jenazah dilepas ataukah tidak. Sebagian masyarakat juga berkeyakinan bahwa tali pocong yang tidak dilepas akan membuat jenazah penasaran. Bagaimana penjelasan atas masalah ini?</span></p>

<h2>Hukum melepas tali pocong</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat dalam suatu hadits, yang diriwayatkan dari Ma’qal bin Yasar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَمَّا وَضَع رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم نُعَيمَ بنَ مَسعودٍ في القَبرِ نَزَع الأَخِلَّةَ بِفيه؛ يَعنِي العَقْدَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam meletakkan Nu’aim bin Mas’ud ke dalam liang kuburnya, Nabi melepas al akhillah pada mulutnya. Al akhillah artinya ikatan”</span></i><strong> (HR. Al Baihaqi no.6714, Ibnu Abi Syaibah dalam <i>Al Mushannaf</i> no. 11668).</strong></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qudamah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَأَمَّا حَلُّ الْعُقَدِ مِنْ عِنْدِ رَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ، فَمُسْتَحَبٌّ؛ لِأَنَّ عَقْدَهَا كَانَ لِلْخَوْفِ مِنْ انْتِشَارِهَا، وَقَدْ أُمِنَ ذَلِكَ بِدَفْنِهِ، وَقَدْ رُوِيَ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا أَدْخَلَ نُعَيْمَ بْنَ مَسْعُودٍ الْأَشْجَعِيَّ الْقَبْرَ نَزَعَ الْأَخِلَّةَ بِفِيهِ.»</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Adapun melepas tali pocong di kepala dan kaki, hukumnya </span><i><span style="font-weight: 400;">mustahab </span></i><span style="font-weight: 400;">(dianjurkan). Karena tujuan mengikat kain kafan adalah agar tidak tercecer, dan hal ini sudah tidak dikhawatirkan lagi ketika mayit sudah dimasukan ke liang kubur. Dan diriwayatkan dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bahwa beliau meletakkan Nu’aim bin Mas’ud Al Asyja’i ke dalam liang kuburnya, Nabi melepas al akhillah (ikatan) pada mulutnya” <strong>(</strong></span><strong><i>Al Mughni</i>, 2/375).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun hadits ini </span><strong><i>dha’if </i></strong><span style="font-weight: 400;"><strong>(lemah)</strong> sebagaimana dijelaskan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Adh Dha’ifah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (no.1763). Di samping hadits di atas, para ulama juga berdalil dengan perkataan Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إذا أدخلتم الميت اللحد فحلو العقد</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jika kalian memasukan mayit ke lahat, maka lepaskanlah ikatannya”</span></i><strong> (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al Atsram, dinukil dari <i>Kasyful Qana’</i>, 2/127).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qudamah dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Mughni</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga menyebutkan ada riwayat serupa dari Samurah bin Jundub </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">. Syaikh Abdul Aziz bin Baz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">العقد التي يربط بها الكفن تحل كلها هذا الأفضل، السنة تحل كلها في القبر، إن وضع في قبره حلت العقد كلها أولها وآخرها هذا السنة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ikatan yang mengikat kafan itu dibuka semuanya (ketika di liang kubur). Ini lebih utama. Yang sunnah, semuanya dilepaskan di dalam kubur. Ketika ia diletakkan di dalam kuburnya, maka semua ikatannya dilepaskan dari awal sampai akhir, ini sunnah”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong><div class="su-note" style="border-color:#c4d4e5;border-radius:3px;-moz-border-radius:3px;-webkit-border-radius:3px;"><div class="su-note-inner su-u-clearfix su-u-trim" style="background-color:#deeeff;border-color:#ffffff;color:#333333;border-radius:3px;-moz-border-radius:3px;-webkit-border-radius:3px;">Kesimpulannya, melepas tali pocong atau tali yang mengikat kain kafan hukumnya sunnah (dianjurkan).</div></div></strong></span></p>
<blockquote><p>Baca Juga: <a style="--darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/55113-hukum-menunda-pemakaman-jenazah.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Hukum Menunda Pemakaman Jenazah</a></p></blockquote>
<h2>Tidak melepas tali pocong membuat arwah penasaran?</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian dari sini kita juga mengetahui para ulama mengatakan bahwa melepas tali pocong itu tidak wajib, dan tidak mengapa jika tidak dilepas. Tidak benar juga anggapan sebagian orang bahwa jika tali pocong tidak dilepas maka mayit akan penasaran dan akan gentayangan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">khurafat</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang batil, bertentangan dengan akidah Islam. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ketika seorang insan mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya”</span></i><strong> (HR. Muslim no. 1631).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka orang yang sudah mati, sudah terputus amalnya. Tidak bisa gentayangan atau penasaran. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang sudah meninggal pun akan menghadapi fitnah kubur. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِى قَبْرِهِ أُتِىَ ، ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ )</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasuulullah’. Itulah yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27)”</span></i><strong> (HR. Bukhari no.1369, Muslim no.7398).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa yang berhasil melewati fitnah kubur maka ia akan bahagia di alam kubur, siapa yang tidak bisa melewati fitnah kubur dengan baik, maka ia sengsara di alam kubur. Utsman bin Affan </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : « إن القبر أول منازل الآخرة فمن نجا منه فما بعده أيسر منه ، ومن لم ينج منه فما بعده أشد منه » قال : فقال عثمان رضي الله عنه : ما رأيت منظرا قط إلا والقبر أفظع منه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku mendengar Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda, </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat’</span></i><span style="font-weight: 400;">. Utsman </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, ‘Aku tidak pernah memandang sesuatu yang lebih mengerikan dari kuburan’”<strong> (HR. Tirmidzi 2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam </strong></span><strong><i>Futuhat Rabbaniyyah</i>, 4/192)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga di alam kubur, seseorang tidak lepas dari 2 kemungkinan: merasakan adzab kubur atau merasakan nikmat kubur. Tidak ada pilihan ketiga: gentayangan. Lagipula kalau dipikir secara logis, andaikan mayit bisa gentayangan, tentu akan melakukan hal-hal yang jauh lebih penting seperti menyuruh keluarganya untuk shalat dan melaksanakan kewajiban agar tidak sengsara di alam kubur, daripada sekedar protes soal tali pocong. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun ayat:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” <strong>(QS. Al Baqarah: 154)</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Hafidz Ibnu Katsir memaparkan, “Allah <em>Ta’ala</em> mengabarkan bahwa para syuhada itu hidup di alam barzakh dalam keadaan senantiasa diberi rizki oleh Allah, sebagaimana dalam hadits yang terdapat pada Shahih Muslim….(lalu beliau menyebutkan haditsnya)” <strong>(</strong></span><strong><i>Tafsir Al Qur’an Azhim</i></strong><span style="font-weight: 400;"><strong>, 1/446).</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para syuhada setelah wafat mereka mendapatkan kenikmatan di sisi Allah di </span><span style="font-weight: 400;">alam barzakh, </span><span style="font-weight: 400;">dengan kehidupan yang berbeda dengan kehidupan dunia <strong>(Lihat Tafsir Ath Thabari, 3/214), Jalalain (160), Al Baghawi (Ma’alim At Tanzil, 168), Al Alusi (Ruuhul Ma’ani, 2/64),</strong> dll.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka orang yang sudah mati memang hidup, namun di alam barzakh yang berbeda dengan kehidupan dunia. Sehingga hidupnya mereka bukan gentayangan dan berpergian di dunia sebagaimana orang yang masih hidup.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga tidak benar bahwa jika tali pocong tidak dilepas maka arwah mayit tidak tenang di alam kubur. Ini juga </span><i><span style="font-weight: 400;">khurafat</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang batil. Dalil-dalil yang shahih menunjukkan tenang-tidaknya mayit di alam kubur tergantung pada amalannya, sebagaimana hadits panjang yang shahih riwayat Abu Daud, bukan karena soal tali pocong, yang juga hukumnya tidak wajib untuk dilepas. Maka jelaslah ini keyakinan-keyakinan yang tidak benar dan tidak logis, sehingga tidak boleh seorang Muslim meyakininya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><strong><a href="https://muslim.or.id/22446-menyalati-jenazah-tapi-tak-tahu-jenis-kelaminnya-sahkah-shalatnya.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Menyalati Jenazah, Tapi Tak Tahu Jenis Kelaminnya, Sahkah Shalatnya?</a></strong></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a href="https://muslim.or.id/24706-fikih-jenazah-1-mentalqin-orang-yang-akan-meninggal.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Fikih Jenazah (1) : Mentalqin Orang Yang Akan Meninggal</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberi taufik.</span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="--darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="--darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://kangaswad.wordpress.com/" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="--darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
 