
<p><em>Bismillahirrahmanirrahim </em>….</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bahagia karena berita kematian tokoh kesesatan</strong></span></h2>
<p>Selama masa pandemi ini, satu persatu para ulama dan dai <em>ahlussunah</em> berguguran, bahkan dalam rentang waktu yang berdekatan. Kaum muslimin bersedih karena kabar-kabar duka itu. Namun bersamaan dengan itu, Allah <em>Ta’ala</em> memberi pelipur lara atas kesedihan yang mereka alami. Yaitu dengan kabar meninggalnya musuh-musuh Islam, musuh-musuh <em>sunnah</em>, terutama jika orang tersebut adalah tokoh kesesatan yang sangat berpengaruh.</p>
<p>Bahagia karena meninggalnya musuh-musuh Islam dan penyebar kesesatan, adalah tindakan yang disyariatkan. Karena meninggalnya mereka, adalah nikmat Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> atas para hamba-Nya. Kita diperintahkan untuk bahagia sebagai ekspresi syukur atas nikmat yang Allah <em>Ta’ala</em> berikan.</p>
<p>Di dalam hadis dari sahabat Anas bin Malik <em>Radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau menceritakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( وَجَبَتْ ) ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ ( وَجَبَتْ )</span></p>
<p>“Suatu hari pada sahabat melewati jenazah lalu mereka memujinya. Maka Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Pasti baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan. Maka beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Pasti baginya.'”</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَا وَجَبَتْ ؟</span></p>
<p>“Apa gerangan maksud pasti baginya?” Tanya ‘Umar bin Khatthab <em>Radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ</span></p>
<p>“Jenazah pertama tadi kalian sanjung dengan kebaikan. Maka pasti baginya surga. Sedang jenazah kedua ini kalian sebut dengan keburukan. Maka pasti baginya neraka. Karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi” <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong>.</p>
<p>Diterangkan di dalam hadis sahih yang lain, tentang keteladanan dari Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saat orang yang menebar kerusakan di muka bumi meninggal, dengan mengucapkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يستريح منه العباد والبلاد والشجر والدواب</span></p>
<p>“Orang-orang beriman, negeri, pepohonan, serta binatang-binatang lega dengan kematiannya” <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong>.</p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/22464-menjawab-syubhat-syiah-keluarga-nabi-lebih-alim-dari-sahabat.html">Menjawab Syubhat Syi’ah: Keluarga Nabi Lebih Alim Dari Sahabat</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bukankah tidak boleh mencela mayit?</strong></span></h2>
<p>Pertanyaan ini telah dijawab oleh Badruddin Al-‘Aini <em>Rahimahullah</em>, di dalam kitab <em>Umdatul Qari</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فإن قيل : كيف يجوز ذكر شر الموتى مع ورود الحديث الصحيح عن زيد بن أرقم في النهي عن سب الموتى وذكرهم إلا بخير ؟ وأجيب : بأن النهي عن سب الأموات غير المنافق والكافر والمجاهر بالفسق أو بالبدعة ، فإن هؤلاء لا يحرُم ذكرُهم بالشر للحذر من طريقهم ومن الاقتداء بهم</span></p>
<p>“Jika ada yang menayangkan, ‘Apa boleh menyebut-nyebut keburukan mayit, padahal ada hadis sahih dari sahabat Zaid bin Arqom <em>Radhiyallahu ‘anhu</em> yang menerangkan larangan mencela mayit dan perintah menyebutkan kebaikan-kebaikannya?’</p>
<p>Saya jawab,</p>
<p>‘Larangan mencela mayit yang dijelaskan oleh hadis tersebut, berlaku kepada selain munafik, kafir, orang yang terang-terang melakukan tindakan fasik atau bidah (kesesatan). Mayit-mayit yang seperti itu tidak haram menyebut mereka dengan buruk, agar masyarakat berhati-hati dari ajarannya dan tidak menjadikannya sebagai teladan'” <strong>(<em>‘Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari</em>, 8: 282, Darul Kutub Ilmiyah 1421 H)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Contoh sikap para <em>salafusshalih</em></strong></span></h2>
<p>Salamah bin Syabib berkata, “Aku pernah duduk di dekat ‘Abdurrazaq As-Shan’ani, lalu tibalah kabar kematian Abdul Majid (tokoh sesat di zamannya). Lantas ‘Abdurrazaq mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الحمد لله الذي أراح أُمة محمد من عبد المجيد</span></p>
<p>“Segala puji bagi Allah yang telah melegakan Umat Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan kematian Abdul Majid” <strong>(<em>Siyar A’lam An-Nubala’</em>, 9: 435, Mu-assasah Ar-Risalah 1402 H)</strong>.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal <em>Rahimahullah</em> pernah ditanya, “Berdoskah seorang merasa bahagia atas meninggalnya pengikut Ibnu Abu Dawud (tokoh sesat di zaman itu)?”</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ومن لا يفرح بهذا؟!</span></p>
<p>“Orang beriman mana coba yang tidak bahagia?!” Jawab Imam Ahmad. <strong>(<em>As-Sunnah,</em> karya Al-Khalal, 5: 121, dikutip dari dorar.net)</strong></p>
<p>Saat tiba kabar kematian Wahb Al-Qurasyi (tokoh kesesatan), kepada Abdurrahman bin Mahdi, beliau <em>Rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الحمد لله الذي أراح المسلمين منه</span></p>
<p>“Segala puji bagi Allah yang telah mengistirahatkan kaum muslimin dari gangguannya” <strong>(<em>Tarikh Madinah Dimasq</em> 63: 422, Darul Fikr 1415 H)</strong>.</p>
<p>Di dalam <em>Bidayah wan Nihayah</em> (12: 338) Ibnu Katsir <em>Rahimahullah</em> berkata tentang kematian pemuka Syi’ah Rafidhah di zaman beliau yang bernama Hasan bin Shafi At-Turki,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أراح الله المسلمين منه في هذه السنة في ذي الحجة منها، ودفن بداره، ثم نقل إلى مقابر قريش فلله الحمد والمنة، وحين مات فرح أهل السنة بموته فرحاً شديداً، وأظهروا الشكر لله، فلا تجد أحداً منهم إلا يحمد الله</span></p>
<p>“Allah telah melegakan kaum muslimin dari kesesatannya di tahun ini, di bulan Dzulhijjah. Dia dikubur di rumahnya, lalu dipindah ke pemakaman Quraisy. Segala puji bagi Allah. Di saat kematiannya, <em>ahlussunnah</em> beriang gembira. Mereka menampakkan syukur kepada Allah. Tak ada satu pun <em>ahlussunnah</em>, kecuali memuji Allah atas kematiannya.”</p>
<p>Semoga Allah membalas para penyebar kesesatan dan perusak agama, dengan balasan yang setimpal.</p>
<p><em>Wallahul muwaffiq.</em></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21315-penganut-syiah-tidak-membasuh-kaki-ketika-wudhu.html">Penganut Syi’ah Tidak Membasuh Kaki Ketika Wudhu</a></strong></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21247-pandangan-imam-asy-syafii-terhadap-syiah-rafidhah.html">Pandangan Imam Asy Syafi’i Terhadap Syi’ah Rafidhah</a></strong></span></li>
</ul>
<p>Hamalatul Qur’an Jogjakarta, 4 Rajab 1442 H</p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000;"> <a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/aanshori">Ahmad Anshori, Lc.</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
 