
<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya</em>.</p>
<p>Sebuah kisah yang pantas direnungkan. Akankah kematian kita bisa baik  seperti ini. Semoga Allah memudahkan kita mati dalam keadaan husnul  khotimah (akhir yang baik).<!--more--></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ</p>
<p><em>“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.”</em> (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)</p>
<p>Melihat hadits tersebut, kami teringat pada sebuah kisah yang sangat  menarik dan menakjubkan. Kisah ini diceritakan oleh Al Khotib Al  Baghdadi, dalam <strong><em>Tarikh Bagdad</em> 10/335</strong>. Berikut kisah tersebut.</p>
<p>Abu Ja’far At Tusturi mengatakan, “Kami pernah mendatangi Abu Zur’ah  Ar Rozi yang dalam keadaan sakaratul maut di Masyahron. Di sisi Abu  Zur’ah terdapat Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Al Munzir bin Syadzan  dan sekumpulan ulama lainnya. Mereka ingin mentalqinkan Abu Zur’ah  dengan mengajari hadits talqin sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ</p>
<p><em>“Talqinkanlah (tuntunkanlah) orang yang akan meninggal di antara kalian dengan bacaan: ‘laa ilaha illallah’.”</em> (HR. Muslim no. 2162)</p>
<p>Namun mereka malu dan takut pada Abu Zur’ah untuk mentalqinkannya.  Lalu mereka berkata, “Mari kita menyebutkan haditsnya (dengan sanadnya/  jalur periwayatannya).”</p>
<p>Muhammad bin Muslim lalu mengatakan, “Adh Dhohak bin Makhlad telah  menceritakan kepada kami, (beliau berkata), dari Abdul Hamid bin Ja’far,  (beliau berkata), dari Sholih” Kemudian Muhammad tidak meneruskannya.</p>
<p>Abu Hatim kemudian mengatakan, “Bundar telah menceritakan kepada  kami, (beliau berkata), Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami,  (beliau berkata), dari Abdul Hamid bin Ja’far, (beliau berkata), dari  Sholih.” Lalu Abu Hatim juga tidak meneruskannya dan mereka semua diam.</p>
<p>Kemudian Abu Zur’ah yang berada dalam sakaratul maut mengatakan,  “Bundar telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), Abu ‘Ashim  telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), dari Abdul Hamid bin  Ja’far, (beliau berkata), dari Sholih bin Abu ‘Arib, (beliau berkata),  dari Katsir bin Murroh Al Hadhromiy, (beliau berkata), dari Mu’adz bin  Jabal <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata,Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ</p>
<p>Setelah itu, Abu Zur’ah <em>rahimahullah</em> langsung meninggal dunia.</p>
<p>Abu Zur’ah meninggal pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 264 H.</p>
<p><strong>Renungan</strong></p>
<p>Lihatlah kisah Abu Zur’ah. Akhir nafasnya, dia tutup dengan kalimat  syahadat laa ilaha illallah. Bahkan beliau rahimahullah mengucapkan  kalimat tersebut sambil membawakan sanad dan matan hadits, yang hal ini  sangat berbeda dengan kebanyakan orang-orang yang berada dalam sakaratul  maut.</p>
<p>Kondisi yang berbeda, mungkin kita pernah menyaksikan ada yang mati  malah dengan keadaan yang sungguh menunjukkan akhir hidup yang jelek.  Kita mungkin pernah mendengar ada seorang penyanyi, yang meninggal  mengucapkan <strong>sy</strong>air lagu “<em>I love You full</em>“.  Kalimat terbaik yang seharusnya jadi penutup kehidupan adalah kalimat  Laa ilaha ilallah. Lantas apakah keadaan semacam artis itu adalah baik?  Coba renungkan.</p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita persiapkan bekal ini untuk menghadapi  kematian kita. Tidak ada bekal yang lebih baik daripada bekal kalimat  tauhid ‘laa ilaha illallah’ ini. Namun ingat! Tentu saja kalimat laa  ilaha illallah bisa bermanfaat dengan memenuhi syarat-syaratnya, dengan  selalu memohon pertolongan dan hidayah Allah.</p>
<p><em>Ya Hayyu, Ya Qoyyum</em>. Wahai Zat yang Maha Hidup lagi Maha  Kekal. Dengan rahmat-Mu, kami memohon kepada-Mu. Perbaikilah segala  urusan kami dan janganlah Engkau sandarkan urusan tersebut pada diri  kami, walaupun hanya sekejap mata. <em>Amin Yaa Mujibbas Sa’ilin</em>.</p>
<p>Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal<br>
Artikel <a href="www.KisahMuslim.com" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></p>
 