
<p><span style="font-weight: 400;">Sebentar lagi Ramadhan akan berakhir, suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang yang berpuasa adalah menunaikan zakat fithri. Berikut adalah beberapa penjelasan mengenai zakat fithri dan beberapa kesalahan di dalamnya.</span></p>

<h2><b>Hikmah Disyari’atkan Zakat Fithri</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara hikmah zakat fithri adalah sebagai kafaroh (tebusan) bagi orang yang berpuasa karena mungkin dalam berpuasa terdapat kekurangan di sana-sini disebabkan melakukan maksiat, berkata dusta dan berkata kotor. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Latho’if Al Ma’arif</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/183, Asy Syamilah).  Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan orang-orang miskin.” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">hasan</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu juga, zakat fithri akan mencukupi kaum fakir dan miskin sehingga tidak meminta-minta pada hari raya ‘idul fithri. Dengan ini, mereka dapat bersenang-senang dengan orang kaya pada hari tersebut. Syari’at ini juga bertujuan agar kebahagiaan ini merata, dapat dirasakan oleh semua kalangan. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Minhajul Muslim, </span></i><span style="font-weight: 400;">23, Darus Salam dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Majelis Syahri Ramadhan</span></i><span style="font-weight: 400;">, 142, Darul ‘Aqidah)</span></p>
<h2><b>Hukum Zakat Fithri</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Zakat Fithri adalah shodaqoh yang </span><b>wajib ditunaikan oleh setiap muslim</b><span style="font-weight: 400;"> pada hari berbuka (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramadhan. Hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnu Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> mewajibkan</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari no. 1503).</span></p>
<p><b>Catatan</b><span style="font-weight: 400;"> : Perlu dipehatikan bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">shogir</span></i><span style="font-weight: 400;"> (anak kecil) dalam hadits ini tidak termasuk di dalamnya </span><span style="font-weight: 400;">janin</span><span style="font-weight: 400;">. Karena ada sebagian ulama seperti Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa janin juga wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini </span><span style="font-weight: 400;">kurang tepat</span><span style="font-weight: 400;"> karena janin tidaklah disebut </span><i><span style="font-weight: 400;">shogir</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam bahasa Arab juga secara ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">urf</span></i><span style="font-weight: 400;"> (anggapan orang Arab) (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Shifat Shaum Nabi</span></i><span style="font-weight: 400;">, 102). Namun, jika ada yang mau membayarkan zakat fithri untuk janin tidaklah mengapa karena dahulu sahabat Utsman bin ‘Affan pernah mengeluarkan zakat fithri bagi janin dalam kandungan. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Majelis Syahri Ramadhan, </span></i><span style="font-weight: 400;">142)</span></p>
<h2><b>Yang Berkewajiban Membayar Zakat Fithri</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Zakat fithri ini </span><span style="font-weight: 400;">wajib </span><span style="font-weight: 400;">ditunaikan oleh :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[1] </span><b>Setiap muslim</b><span style="font-weight: 400;"> sedangkan orang kafir tidak wajib untuk menunaikannya, namun mereka akan dihukum di akhirat karena tidak menunaikannya,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[2] </span><b>Yang mampu mengeluarkan zakat fithri</b><span style="font-weight: 400;">. Menurut mayoritas ulama, batasan mampu di sini adalah </span><span style="font-weight: 400;">mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ‘ied</span><span style="font-weight: 400;">. Jadi apabila keadaan seseorang seperti ini berarti dia </span><span style="font-weight: 400;">mampu dan wajib mengeluarkan zakat fithri</span><span style="font-weight: 400;">. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">« مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ » فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ ».</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa meminta-minta, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia telah mengumpulkan bara api</span></i><span style="font-weight: 400;">.” Mereka berkata, ”</span><i><span style="font-weight: 400;">Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi tersebut?”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, ”</span><i><span style="font-weight: 400;">Seukuran </span></i><i><span style="font-weight: 400;">makanan yang mengenyangkan untuk sehari-semalam</span></i><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Abu Daud no. 1435. Dikatakan </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;"> oleh Syaikh Al Albani  dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih Abi Daud</span></i><span style="font-weight: 400;">) (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih Fiqh Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;">, II/80)</span></p>
<p><b>Bagaimana dengan anak dan istri yang menjadi tanggungan suami, apakah perlu mengeluarkan zakat sendiri-sendiri?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut An Nawawi, kepala keluarga wajib membayar zakat fithri keluarganya. Bahkan menurut Imam Malik, Syafi’i dan mayoritas ulama wajib bagi suami untuk mengeluarkan zakat istrinya karena istri adalah <a href="https://rumaysho.com/22242-keutamaan-memberi-nafkah-keluarga.html">tanggungan nafkah suami</a>. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Nawawi ‘ala Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 3/417, Asy Syamilah).</span></p>
<h2><b>Kapan Seseorang Mulai Terkena Kewajiban Membayar Zakat Fithri?</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang mulai terkena kewajiban membayar zakat fithri pada </span><span style="font-weight: 400;">saat terbenamnya matahari di malam hari raya</span><span style="font-weight: 400;">. Jika dia mendapati waktu tersebut, maka wajib baginya membayar zakat fithri. Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Syafi’i dan An Nawawi dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;"> 3/417, juga dipilih oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Majelis Syahri Ramadhan</span></i><span style="font-weight: 400;">. Alasannya, karena zakat ini merupakan saat berbuka dari puasa Ramadhan. Oleh karena itu, zakat ini dinamakan demikian (disandarkan pada kata </span><i><span style="font-weight: 400;">fithri</span></i><span style="font-weight: 400;">) sehingga hukumnya juga disandarkan pada waktu </span><i><span style="font-weight: 400;">fithri</span></i><span style="font-weight: 400;"> tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misalnya adalah apabila seseorang meninggal satu menit </span><span style="font-weight: 400;">sebelum</span><span style="font-weight: 400;"> terbenamnya matahari pada malam hari raya, maka dia tidak punya kewajiban dikeluarkan zakat fithri. Namun, jika ia meninggal satu menit </span><span style="font-weight: 400;">setelah</span><span style="font-weight: 400;"> terbenamnya matahari maka wajib untuk mengeluarkan zakat fithri darinya. Begitu juga apabila ada bayi yang lahir </span><span style="font-weight: 400;">setelah</span><span style="font-weight: 400;"> tenggelamnya matahari maka tidak wajib dikeluarkan zakat fithri darinya, tetapi dianjurkan sebagaimana perbuatan Utsman di atas. Namun, jika bayi itu terlahir </span><span style="font-weight: 400;">sebelum</span><span style="font-weight: 400;"> matahari terbenam, maka zakat fithri wajib untuk dikeluarkan darinya (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Majelis Syahri Ramadhan</span></i><span style="font-weight: 400;">, 142).</span></p>
<h2><b>Macam Zakat Fithri</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Benda yang dijadikan zakat fithri adalah berupa </span><span style="font-weight: 400;">makanan pokok</span><span style="font-weight: 400;">, baik itu kurma, gandum, beras, kismis, keju, dsb dan </span><span style="font-weight: 400;">tidak dibatasi</span><span style="font-weight: 400;"> pada kurma atau gandum saja (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Majelis Syahri Ramadhan</span></i><span style="font-weight: 400;">, 142 &amp;</span><i><span style="font-weight: 400;"> Shohih Fiqh Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;">, II/82). Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Malikiyah, Syafi’iyah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Fatawa, </span></i><span style="font-weight: 400;">namun hal ini diselisihi oleh Hanabilah. Adapun Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mewajibkan zakat fithri dengan satu </span><i><span style="font-weight: 400;">sho’</span></i><span style="font-weight: 400;"> kurma atau gandum karena ini adalah makanan pokok penduduk Madinah. Seandainya itu bukan makanan pokok mereka tetapi mereka mengkonsumsi makanan pokok lainnya, maka beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tentu tidak akan membebani mereka mengeluarkan zakat fithri yang bukan makanan yang biasa mereka makan. Sebagaimana juga dalam membayar </span><i><span style="font-weight: 400;">kafaroh</span></i><span style="font-weight: 400;"> diperintahkan seperti ini. Sebagaimana Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Maka kafaroh (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari </span></i><i><span style="font-weight: 400;">makanan yang biasa kamu berikan </span></i><i><span style="font-weight: 400;">kepada keluargamu.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al Maidah [5] : 89). Dan zakat fithri merupakan bagian dari </span><i><span style="font-weight: 400;">kafaroh</span></i><span style="font-weight: 400;">. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih Fiqh Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;">, II/82)</span></p>
<h2><b>Ukuran Zakat Fithri</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar di atas bahwa zakat fithri adalah </span><span style="font-weight: 400;">seukuran satu </span><i><span style="font-weight: 400;">sho’</span></i><span style="font-weight: 400;"> kurma atau gandum. Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang’</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagaimana yang disebutkan dalam Kamus Al Muhith. Dan apabila ditimbang akan mendekati </span><b>ukuran 3 kg</b><span style="font-weight: 400;">. Jadi kalau di Jawa makanan pokoknya adalah beras, maka ukuran zakat fithrinya sekitar 3 kg dan inilah yang lebih hati-hati. (Lihat pendapat Syaikh Ibnu Baz dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Fatawa</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya V/92 atau Majalah Al Furqon Th. I, ed 2)</span></p>
<h2><b>Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fithri dengan Uang ?</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Berikut kami sarikan  fatwa Syaikh ‘Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Pembimbingan Kerajaan Saudi Arabia (</span><i><span style="font-weight: 400;">Ro’is Al ‘Aam Li-idarot Al Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahi robbil ‘alamin wa shollallahu wa sallam ‘ala ‘abdihi wa rosulihi Muhammad wa ‘ala alihi wa ashhabihi ajma’in</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wa ba’du</span></i><span style="font-weight: 400;"> :  Beberapa saudara kami pernah menanyakan kepada kami mengenai hukum membayar zakat fithri dengan uang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawabannya : Tidak ragu lagi bagi setiap muslim yang diberi pengetahuan bahwa rukun Islam yang paling penting dari agama yang hanif (lurus) ini adalah syahadat ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Laa ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah</span></i><span style="font-weight: 400;">’. Konsekuensi dari syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaha illallah</span></i><span style="font-weight: 400;"> ini adalah seseorang harus menyembah Allah semata. Konsekuensi dari syahadat ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Muhammad adalah Rasul-Nya</span></i><span style="font-weight: 400;">’ yaitu seseorang hendaklah menyembah Allah hanya dengan menggunakan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. (Telah kita ketahui bersama) bahwa zakat fithri adalah ibadah berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Dan hukum asal ibadah adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">tauqifi</span></i><span style="font-weight: 400;"> (harus berlandaskan dalil).  Oleh karena itu, setiap orang hanya dibolehkan melaksanakan suatu ibadah dengan menggunakan syari’at Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Allah telah mengatakan mengenai Nabi-Nya ini,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (QS. An Najm [53] : 3-4)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat Muslim, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 1718)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga telah menjelaskan mengenai penunaian zakat fithri –sebagaimana terdapat dalam hadits yang shohih- yaitu ditunaikan dengan 1 sho’ bahan makanan, kurma, gandum, kismis, atau keju. Bukhari dan Muslim </span><i><span style="font-weight: 400;">–rahimahumallah-</span></i><span style="font-weight: 400;"> meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar –</span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;">-, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> mewajibkan</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> zakat fithri berupa satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikan zakat ini sebelum orang-orang berangkat menunaikan shalat ‘ied.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari no. 1503).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Sa’id Al Khudri </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menunaikan zakat fithri berupa 1 sho’ bahan makanan, 1 sho’ kurma, 1 sho’ gandum atau 1 sho’ kismis</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Bukhari no. 1437 dan Muslim no. 985)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat lain dari Bukhari no. 1506 dan Muslim no. 985 disebutkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Atau 1 sho’ keju</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah hadits yang disepakati keshohihannya dan beginilah sunnah (ajaran) Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam menunaikan zakat fithri. Telah kita ketahui pula bahwa ketika pensyari’atan dan dikeluarkannya zakat fithri ini sudah ada mata uang dinar dan dirham di tengah kaum muslimin –khususnya penduduk Madinah (tempat domisili Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span><span style="font-weight: 400;">pen</span><span style="font-weight: 400;">)-. Namun, </span><b>beliau </b><b><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></b><b>tidak menyebutkan kedua mata uang ini dalam zakat fithri</b><span style="font-weight: 400;">. Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> membayar zakat fithri dengan uang, tentu para sahabat –</span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum</span></i><span style="font-weight: 400;">– akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</span></i><span style="font-weight: 400;">”(QS. Al Ahzab : 21)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. At Taubah [9] : 100)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan kami di atas, maka jelaslah bagi orang yang mengenal kebenaran bahwa </span><b>menunaikan zakat fithri dengan uang tidak diperbolehkan dan tidak sah</b><span style="font-weight: 400;"> karena hal ini telah menyelisihi berbagai dalil yang telah kami sebutkan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Aku memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk memahami agamanya, agar tetap teguh dalam agama ini, dan waspada terhadap berbagai perkara yang menyelisihi syari’at Islam. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Fatawa Ibnu Baz</span></i><span style="font-weight: 400;">, 14/208-211)</span></p>
<p><b>Peringatan</b><span style="font-weight: 400;"> : Melalui penjelasan di atas kami rasa sudah cukup jelas bahwa pembayaran zakat fithri dengan uang tidaklah tepat. Inilah pendapat mayoritas ulama termasuk madzhab Syafi’iyah yang dianut oleh kaum muslimin Indonesia. An Nawawi mengatakan, “Mayoritas pakar fikih tidak membolehkan membayar zakat fithri dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">qimah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (dicocokkan dengan harganya), yang membolehkan hal ini hanyalah Abu Hanifah.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Muslim, </span></i><span style="font-weight: 400;">3/417). Namun, sayangnya kaum muslimin Indonesia yang mengaku bermadzhab Syafi’i menyelisihi imam mereka dalam masalah ini. Malah dalam zakat fithri, mereka manut madzhab Abu Hanifah. Ternyata dalam masalah ini, kaum muslimin Indonesia tidaklah konsisten dalam bermadzhab.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kami hanya bisa menghimbau kepada saudara-saudara kami selaku Badan Pengurus Zakat agar betul-betul memperhatikan hal ini. Tidakkah kita merindukan syi’ar Islam mengenai zakat ini nampak? Dahulu, di malam hari Idul Fithri, banyak kaum muslimin berbondong-bondong datang ke masjid-masjid dengan menggotong beras. Namun, syiar ini sudah hilang karena tergantikan dengan uang. </span><i><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memudahkan mereka mengikuti syari’at-Nya. (Perkataan Nabi Syu’aib) : ‘Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.’</span></i></p>
<h2><b>Penerima Zakat Fithri</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Penerima zakat fithri </span><span style="font-weight: 400;">hanya dikhususkan untuk orang miskin</span><span style="font-weight: 400;"> dan </span><span style="font-weight: 400;">bukanlah</span><span style="font-weight: 400;"> dibagikan kepada 8 golongan penerima zakat (sebagaimana terdapat dalam surat At Taubah:60). Inilah pendapat Malikiyah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyelisihi mayoritas ulama. Pendapat ini lebih tepat karena lebih cocok dengan tujuan disyariatkannya zakat fithri yaitu untuk memberi makan orang miskin sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas di atas,”</span><i><span style="font-weight: 400;"> … untuk memberikan makan </span></i><i><span style="font-weight: 400;">orang-orang miskin</span></i><i><span style="font-weight: 400;">”</span></i><span style="font-weight: 400;">. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih Fiqh Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;">, II/85)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad, II/17 mengatakan bahwa berdasarkan petunjuk beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> zakat fithri itu </span><span style="font-weight: 400;">hanya dikhususkan kepada orang miskin</span><span style="font-weight: 400;">. Dan beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i> <span style="font-weight: 400;">tidak pernah</span><span style="font-weight: 400;"> membagikan zakat fithri ini kepada 8 </span><i><span style="font-weight: 400;">ashnaf</span></i><span style="font-weight: 400;"> (sebagaimana yang terdapat dalam Surat At Taubah : 60) dan beliau juga tidak pernah memerintahkan demikian, juga tidak ada seorang sahabat pun dan tabi’in yang melakukannya.</span></p>
<h2><b>Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Zakat fithri disandarkan kepada kata ‘</span><b><i>fithri</i></b><span style="font-weight: 400;"> (berbuka artinya tidak berpuasa lagi)’. Oleh karena itu, zakat fithri ini dikaitkan dengan waktu </span><i><span style="font-weight: 400;">fithri</span></i><span style="font-weight: 400;"> tersebut. Ini berarti zakat fithri tidaklah boleh didahulukan di awal Ramadhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui bahwa waktu pembayaran zakat itu ada dua macam : </span><b>Pertama adalah waktu utama (</b><b><i>afdhol</i></b><b>)</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul fithri hingga dekat waktu pelaksanaan shalat ‘ied. </span><b>Dan kedua adalah waktu yang dibolehkan</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu satu atau dua hari sebelum ‘ied sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ibnu Umar. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawal Aqidah wa</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Arkanil Islam</span></i><span style="font-weight: 400;">, 640 &amp; </span><i><span style="font-weight: 400;">Minhajul Muslim, </span></i><span style="font-weight: 400;">231)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Abbas berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan untuk orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘ied, maka itu adalah zakat yang diterima. Namun, barangsiapa yang menunaikannya setelah salat ‘ied maka itu hanya sekedar shodaqoh.” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">hasan</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini merupakan dalil bahwa pembayaran zakat fithri setelah shalat ‘ied </span><b>tidak sah</b><span style="font-weight: 400;"> karena hanya berstatus sebagaimana sedekah pada umumnya dan bukan termasuk zakat fithri (</span><i><span style="font-weight: 400;">At Ta’liqot Ar Rodhiyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, I/553).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun kewajiban ini tidak gugur di luar waktunya. Kewajiban ini harus tetap ditunaikan walaupun statusnya hanya sedekah. Abu Malik Kamal (Penulis </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih Fiqh Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;">) mengatakan bahwa pendapat ini merupakan </span><span style="font-weight: 400;">kesepakatan para ulama</span><span style="font-weight: 400;"> yaitu kewajiban membayar zakat fithri tidaklah gugur apabila keluar waktunya. Hal ini masih tetap menjadi kewajiban orang yang punya kewajiban zakat karena ini adalah utang yang tidak bisa gugur kecuali dengan dilunasi dan ini adalah hak sesama anak Adam. Adapun hak Allah, apabila hak tersebut diakhirkan hingga keluar waktunya maka tidak dibolehkan dan tebusannya adalah istigfar dan bertaubat kepada-Nya. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih Fiqh Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;">, II/84). </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam bish showab.</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/24448-tata-cara-bayar-zakat-fitrah-secara-lengkap-dan-mudah-dipahami.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Secara Lengkap dan Mudah Dipahami</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/24194-zakat-fitrah-dikeluarkan-sejak-awal-ramadhan-karena-pandemi.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Zakat Fitrah Dikeluarkan Sejak Awal Ramadhan Karena Pandemi</strong></span></a></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><strong>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p><strong>Artikel https://rumaysho.com</strong></p>
 