
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51901-marah-ketika-melihat-kesyirikan-bag-2.html" data-darkreader-inline-color="">Hati Siapakah yang Marah ketika Melihat Kesyirikan? (Bag. 2)</a></span></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Salah Satu Konsekuensi Kalimat Tauhid</span></strong></h2>
<p><b><i>Al-wala’ </i></b><b>dan </b><b><i>al-bara’ </i></b><b> merupakan salah satu konsekuensi </b><b><i>laa ilaaha illallah</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Membenci dan memusuhi syirik, sangat terkait dengan aqidah yang saat ini telah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin, yaitu aqidah </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wala’ wal bara’. </span></i><span style="font-weight: 400;">Padahal di antara konsekuensi kalimat syahadat adalah seseorang mewujudkan aqidah </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wala’ wal bara’  </span></i><span style="font-weight: 400;">ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa pada asalnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wala’ </span></i><span style="font-weight: 400;">berarti cinta dan dekat, sedangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-bara’  </span></i><span style="font-weight: 400;">berarti benci dan jauh. </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wala’ </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah menolong, mencintai, memuliakan, dan menghormati, serta selalu merasa bersama dengan orang yang dicintainya baik secara lahir maupun batin. Adapun yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-bara’ </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah menjauh, berlepas diri, membenci, dan memberikan permusuhan.</span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Hikmah Wajibnya Perkara Al-wala’ dan Al-bara’</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara pokok aqidah Islamiyyah adalah wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wala’ </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-bara’</span></i><span style="font-weight: 400;">, sehingga dia mencintai sesama muslim lainnya dan membenci musuh-musuhnya. Dia mencintai orang-orang yang bertauhid dan loyal kepada mereka, serta membenci dan memusuhi pelaku syirik. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">telah mengharamkan orang-orang beriman untuk mencintai dan loyal kepada orang-orang kafir, meskipun mereka adalah kerabat dan saudaranya sendiri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali [yaitu, teman akrab, pemimpin, pelindung, atau penolong, pen.] dengan meninggalkan orang-orang mukmin lainnya. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kamu kembali.” </span><b>(QS. Ali ‘Imran [3]: 28)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya. Dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” </span><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 89)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Hai orang-orang yang beriman, </span><b>janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan</b><span style="font-weight: 400;">. Dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” </span><b>(QS. At-Taubah [9]: 23)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Konsekuensi Rasa Cinta pada Allah Ta’ala</span></strong></h2>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Al-wala’ </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-bara’ </span></i><span style="font-weight: 400;">merupakan konsekuensi rasa cinta kita kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala. </span></i><span style="font-weight: 400;">Orang yang mencintai Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka dia dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu dengan mencintai yang Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> cintai, dan membenci apa yang Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> benci. Di antara yang dicintai Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah ketaatan dan orang-orang yang bertakwa, sedangkan di antara yang Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">benci adalah kemaksiatan, kekafiran, dan kemusyrikan. Sehingga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak,</span> <span style="font-weight: 400;">anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” </span><b>(QS. Al-Mujadilah [58]: 22)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أوثق عرى الإيمان : الموالاة في الله و المعاداة في الله و الحب في الله و البغض في الله عز و جل</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyal dan memusuhi karena Allah, mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Thabrani. Dinilai </span><i><span style="font-weight: 400;">shahih </span></i><span style="font-weight: 400;">oleh Syaikh Albani dalam </span><b><i>Shahih wa Dha’if Al-Jami’ Ash-Shaghir  </i></b><span style="font-weight: 400;">no. 4304)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أحِب في الله، وأبغِض في اللهِ ، ووالِ في اللهِ ، وعادِ في اللهِ ، فإنّما تُنالُ ولايةُ اللهِ بذلك ، ولن يَجِدَ عبدٌ طعمَ الإيمانِ – وإن كثُرَتْ صلاتُه وصومُه – حتّى يكونَ كذلك ، وقد صارَت عامَّةُ مُؤاخاة الناسِ على أمرِ الدُّنيا ، وذلك لا يُجدي على أهله شيئاً</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mencintai karena Allah, membenci karena Allah, loyal karena Allah, memusuhi karena Allah, maka dengannya seseorang itu menjadi wali Allah. Dan tidaklah seorang hamba merasakan manisnya iman, meskipun dia banyak shalat dan berpuasa, sampai dia bisa seperti itu. Dan sungguh persaudaraan sebagian besar manusia dibangun di atas urusan dunia. Padahal</span> <span style="font-weight: 400;">yang demikian itu tidaklah memberikan manfaat kepada pemiliknya sedikit pun.” (</span><b><i>Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, </i></b><span style="font-weight: 400;">1: 125. Lihat </span><b><i>Al-Wala’ wal Bara’ fil Islam,</i></b><span style="font-weight: 400;"> hal. 32-33)</span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Salah Satu Syarat Sahnya Persaksian <i>“laa ilaaha illallah”</i></span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan, betapa pentingnya aqidah </span><i><span style="font-weight: 400;">al-wala’ wal bara’ </span></i><span style="font-weight: 400;"> ini sampai-sampai Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">lebih mendahulukan pengingkaran kepada seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">daripada keimanan kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala. </span></i><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, </span><b>barangsiapa yang ingkar kepada thaghut (sesembahan selain Allah) dan beriman kepada Allah</b><span style="font-weight: 400;">, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” </span><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 256)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, di antara ulama bahkan ada yang berpendapat bahwa pengingkaran kepada sesembahan selain Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">merupakan </span><b>salah satu syarat sah dari persaksian </b><b><i>“laa ilaaha illallah”. </i></b><b>[2]</b><b><i> </i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalilnya adalah sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ </b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaaha illallah’</span></i> <b>dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah</b><span style="font-weight: 400;">, maka telah terlindung harta dan darahnya. Sedangkan perhitungan amalnya terserah kepada Allah.” </span><b>(HR. Muslim no. 139)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah prinsip utama agama Islam, yaitu beriman dan beribadah hanya kepada Allah dan menentang setiap peribadatan kepada selain-Nya. Sehingga setiap muslim yang benar-benar sebagai seorang muslim, pasti meyakini bahwa penyembahan kepada malaikat, nabi, binatang, benda, patung, atau setan, dan lain-lain adalah bentuk kemusyrikan yang harus diingkari dan diperangi. Karena itu semua bertentangan dengan keimanan dan merupakan kekufuran. </span><b>[3]</b></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Jogjakarta, 1 Dzulhijjah 1440/2 Agustus 2019</span></p>
<p><b>Penulis:<span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 14pt;"><b>Catatan Kaki</b></span></h2>
<p><b>[1]</b><span style="font-weight: 400;"> Lihat </span><b><i>Al-Wala’ wal Bara’ fil Islam, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 71.</span></p>
<p><b>[2</b><span style="font-weight: 400;">] Lihat </span><b><i>At-Tanbihaat Al-Mukhtasharah, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 43.</span></p>
<p><b>[3] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat buku</span><b><i> Kebangkitan Paham Abu Jahal, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 14.</span><b> </b></p>
 