
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/51862-marah-ketika-melihat-kesyirikan-1.html"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color="">Hati</span><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""> Siapakah yang Marah ketika Melihat Kesyirikan? (Bag. 1)</span></a></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Membenci dan Memusuhi Syirik </span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Bersihnya <a href="https://muslim.or.id/51538-tanpa-tauhid-amal-ibadah-tidak-akan-bernilai.html">tauhid</a> yang kita miliki haruslah disertai dengan kebencian, permusuhan, dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya. Apabila kita tidak membenci dan memusuhi perbuatan syirik dan pelakunya atau bahkan ridha serta merasa tenang-tenang saja dengannya, maka ketahuilah bahwa tauhid kita belum bersih dan harus dibenahi lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan, para ulama menjadikan berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya sebagai bagian dari Islam dan tidak dapat terpisahkan darinya. Para ulama </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mendefinisikan Islam dengan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>الاسْتِسْلامُ للهِ بِالتَّوْحِيدِ، وَالانْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ، وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Islam adalah) berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk patuh kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.”</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/23656-awas-ada-setan-di-sisi-anda.html" data-darkreader-inline-color="">Awas, Ada Setan Di Sisi Anda!</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Syarat Terwujudnya Islam Seseorang</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan definisi tersebut, maka <a href="https://muslim.or.id/45508-tauhid-kunci-kejayaan-umat-islam.html">Islam</a> seseorang tidak akan terwujud kecuali dengan memenuhi tiga hal berikut ini:</span></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">1. Berserah Diri Hanya Pada Allah</span></strong></h3>
<p><b>Penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya. </b><span style="font-weight: 400;">Yaitu, seseorang berserah diri sepenuhnya kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya dalam segala aktivitas ibadah. Penyerahan diri seperti inilah yang menyebabkan pelakunya dipuji dan mendapatkan pahala.</span></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">2. Tunduk Patuh Pada Allah</span></strong></h3>
<p><b>Tunduk patuh kepada Allah dengan penuh ketaatan. </b><span style="font-weight: 400;">Yaitu dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Karena ketaatan mencakup menaati perintah-Nya dengan melaksanakannya dan menaati larangan-Nya dengan meninggalkannya.</span></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">3. Berlepas Diri dari Kesyirikan dan Pelakunya</span></strong></h3>
<p><b>Berlepas diri dari <a href="https://muslim.or.id/50481-macam-macam-syirik-dalam-ibadah-bag-16-menyembelih-yang-bernilai-syirik.html">perbuatan syirik</a> dan para pelakunya. </b><span style="font-weight: 400;">Karena seseorang yang mengikrarkan tauhid kepada Allah, mau tidak mau dia juga harus berlepas diri dan membenci kesyirikan dan para pelakunya. Kebenciannya itu pertama-tama mendorongnya untuk memusuhi dan memeranginya. Kemudian kafir (ingkar) kepada kesyirikan itu. Apabila seseorang mencintai Islam dan ahlinya, mencintai tauhid dan ahlinya, akan tetapi tidak membenci syirik dan ahlinya, maka dia bukanlah termasuk seorang muslim. Tauhid kita juga tidak akan sempurna sampai kita berlepas diri dari syirik dan dari orang-orang musyrik. Serta memisahkan diri, mengingkari, memusuhi, dan membenci mereka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman menceritakan tentang kekasih-Nya, Ibrahim </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai pemimpin orang-orang yang bertauhid,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ’Sesungguhnya kami </span><b>berlepas diri</b><span style="font-weight: 400;"> kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami </span><b>mengingkari (kekafiran)mu </b><span style="font-weight: 400;">dan telah nyata antara kami dan kamu </span><b>permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya</b><span style="font-weight: 400;"> sampai kamu beriman kepada Allah saja.” </span><b>(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan meskipun pelaku syirik itu adalah kerabat kita, atau bapak kita sendiri, kita tetap harus berlepas diri darinya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">juga mengisahkan tentang Ibrahim ketika berkata kepada ayahnya, Azar, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Dan </span><b>aku akan menjauhkan diri darimu</b><span style="font-weight: 400;"> dan dari apa yang kamu seru selain Allah.” </span><b>(QS. Maryam [19]: 48) [1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/22513-jangan-buat-setan-tertawa.html" data-darkreader-inline-color="">Jangan Buat Setan Tertawa</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/20692-serial-19-alam-jin-setan-tidak-dapat-masuk-dalam-rumah-yang-disebut-nama-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Setan Tidak Dapat Masuk dalam Rumah yang Disebut Nama Allah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<div class="post-title">
<p>***</p>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">@Jogjakarta, 1 Dzulhijjah 1440/2 Agustus 2019</span></p>
<p><b>PeAnulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 14pt;"><strong>Catatan Kaki</strong></span></h2>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Fathul Majiid</i></b><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 1: 156; </span><b><i>Syarh Tsalaatsatul Ushuul  </i></b><span style="font-weight: 400;">oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i> <span style="font-weight: 400;">hal. 56-57; </span><b><i>Syarh Tsalaatsatul Ushuul  </i></b><span style="font-weight: 400;">oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh,</span> <span style="font-weight: 400;">hal. 54-55.</span></p>
 