
<p>Apakah benar tidur, makan daging unta dan menyentuh perempuan membatalkan wudhu?</p>
<p>Kita lanjut lagi pembahasan Manhajus Salikin.</p>
<p> </p>
<h4>Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Nawaqidh Al-Wudhu (Pembatal Wudhu)</h4>
<h4>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata:</h4>
<h4>Di antara pembatal wudhu adalah (3) hilangnya akal dengan tidur atau selainnya; (4) makan daging unta; (5) menyentuh wanita dengan syahwat</h4>
<p> </p>
<h3>Hilangnya Akal dan Tidur Membatalkan Wudhu</h3>
<p>Yang dimaksud hilang akal di sini adalah dengan tidur, pingsan, gila, mabuk, dan bius. Dalilnya adalah hadits Shafwan bin ‘Assal <em>radhiyallahu ‘anhu </em>ketika ditanya tentang mengusap khuf, ia menjawab,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا مُسَافِرِينَ أَنْ نَمْسَحَ عَلَى خِفَافِنَا وَلَا نَنْزِعَهَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan kepada kami, jika kami bersafar, maka cukup kami mengusap sepatu kami, tanpa perlu melepasnya selama tiga hari. Tidak perlu melepasnya (ketika wudhu batal) karena buang air besar, kencing atau tertidur kecuali jika dalam keadaan junub.” (HR. An-Nasa’i, no. 127. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>hasan</em>).</p>
<p>Sedangkan tidur yang sebentar, tidak sampai hilang kesadaran tidaklah membatalkan wudhu. Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَالنَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُنَاجِى رَجُلاً فَلَمْ يَزَلْ يُنَاجِيهِ حَتَّى نَامَ أَصْحَابُهُ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى بِهِمْ.</p>
<p>“Ketika shalat hendak ditegakkan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berbisik-bisik dengan seseorang. Beliau terus berbisik-bisik dengannya hingga para sahabat tertidur. Lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun datang dan shalat bersama mereka.” (HR. Bukhari, no. 6292 dan Muslim, no. 376)</p>
<p>Qatadah <em>rahimahullah </em>mengatakan bahwa ia pernah mendengar Anas <em>radhiyallahu ‘anhu </em>berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلاَ يَتَوَضَّئُونَ قَالَ قُلْتُ سَمِعْتَهُ مِنْ أَنَسٍ قَالَ إِى وَاللَّهِ.</p>
<p>“Para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah ketiduran kemudian mereka pun melakukan shalat, tanpa berwudhu lagi.” Ada yang mengatakan, “Benarkah engkau mendengar hal ini dari Anas?” Qatadah, “Iya betul. Demi Allah.” (HR. Muslim, no. 376)</p>
<p> </p>
<h3>Makan Daging Unta Membatalkan Wudhu</h3>
<p>Dari Jabir bin Samurah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ada seseorang bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Apakah engkau berwudhu karena makan daging kambing?” Jawab beliau, “Jika engkau mau, berwudhulah. Jika engkau mau, silakan tidak berwudhu.” Lalu beliau ditanya lagi, “Apakah engkau berwudhu karena makan daging unta?” Jawab beliau,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ</p>
<p>“<em>Iya, berwudhulah karena memakan daging unta</em>.” (HR. Muslim, no. 360)</p>
<p> </p>
<h3>Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu</h3>
<p>Menurut Syaikh As-Sa’di <em>rahimahullah </em>dalam matannya, menyentuh lawan jenis membatalkan wudhu jika dengan syahwat. Beliau mengompromikan antara dalil yang menyatakan batal dengan dalil yang tidak menyatakan batal. Dalil yang menyatakan bahwa bersentuhan lawan jenis membatalkan wudhu adalah ayat,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ</p>
<p>“<em>atau menyentuh perempuan</em>” (QS. Al-Ma’idah: 6). Menurut tafsiran Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar bahwa <em>al-lams</em> (lamastum) bermakna selain jima’. Jadi sekedar menyentuh, meraba dan mencium membatalkan wudhu.</p>
<p>Ibnu ‘Abbas sendiri menafsirkan menyentuh dalam ayat tersebut adalah dengan <em>jima’</em> (hubungan intim). Lihat <em>Tafsir Ath-Thabari</em>, 5:137-142.</p>
<p>Adapun dalil yang menyatakan tidak membatalkan wudhu adalah hadits dari ‘Aisyah di mana ia menyatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ</p>
<p>“Suatu malam aku kehilangan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau ternyata pergi dari tempat tidurnya dan ketika itu aku menyentuhnya. Lalu aku menyingkirkan tanganku dari telapak kakinya (bagian dalam), sedangkan ketika itu beliau sedang (shalat) di masjid …” (HR. Muslim, no. 486)</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> juga menyatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَرِجْلاَىَ فِى قِبْلَتِهِ ، فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِى ، فَقَبَضْتُ رِجْلَىَّ ، فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا . قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ</p>
<p>“Aku pernah tidur di hadapan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan kedua kakiku di arah kiblat beliau. Ketika ia hendak sujud, ia meraba kakiku. Lalu aku memegang kaki tadi. Jika berdiri, beliau membentangkan kakiku lagi.” ‘Aisyah mengatakan, “Rumah Nabi ketika itu tidak ada penerangan.” (HR. Bukhari, no. 382 dan Muslim, no. 512)</p>
<p>Bagi ulama yang menyatakan wudhu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, syaratnya adalah: (1) bersentuhan kulit, (2) bersentuhan laki-laki dan perempuan, (3) sama-sama dewasa, (4) dengan yang bukan mahram, (5) tanpa ada pembatas atau penghalang. Demikian pernyataan Syaikh Salim Al-Hadrami dalam matan <em>Safinatun Najah</em>.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>. Moga menjadi ilmu yang bermanfaat.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<ol>
<li>
<em>Safinah An</em>–<em>Najah</em>. Syaikh Salim Al-Hadrami. Penerbit Dar Al-Minhaj.</li>
<li>
<em>Shahih Fiqh As-Sunnah</em>. Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Penerbit Maktabah At-Taufiqiyyah.</li>
<li>
<em>Syarh Manhaj As-Salikin</em>. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Hlm. 55-56.</li>
<li>
<em>Tafsir Ath-Thabari (Jaami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an)</em>. Cetakan pertama, Tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm-Dar Al-A’lam.</li>
</ol>
<p> </p>
<h3>—</h3>
<p>Disusun di <a href="http://DarushSholihin.Com" target="_blank" rel="noopener">Perpus Rumaysho</a>, 15 Jumadal Ula, Kamis siang</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
<p> </p>
 