
<p>Apa saja pembatal shalat yang dibahas dalam <span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/tag/manhajus-salikin">kitab Manhajus Salikin</a></strong></span> karya Syaikh As-Sa’di.</p>
<p></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 16pt;"><strong># Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di</strong></span></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></h2>
<p style="text-align: center;">Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata dalam kitabnya <em>Manhajus Salikin</em>,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">تَبْطُلُ الصَّلاَةُ :</span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">-1بِتَرْكِ رُكْنٍ أَوْشَرْطٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ عَمْدًا أَوْسَهْوًا أَوْجَهْلاً</span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">-2وَبِتَرْكِ وَاجِبٍ عَمْدًا</span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">-3وَبِالكَلاَمِ عَمْدًا</span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">-4وَبِالقَهْقَهَةِ</span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">-5وَبِالحَرَكَةِ الكَثِيْرَةِ عُرْفًا المُتَوَالِيَةِ لِغَيْرِ ضَرُوْرَةٍ</span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">لِأَنَّهُ فِي الأُوَلِ تَرَكَ مَا لاَ تَتِمُّ العِبَادَةُ إِلاَّ بِهِ وَبِالأَخِيْرَاتِ فَعَلَ مَايُنْهَى عَنْهُ فِيْهَا</span></p>
<p style="text-align: center;"><em>“Shalat itu batal karena: </em></p>
<ol>
<li><em>dengan meninggalkan <a href="https://rumaysho.com/10348-sifat-shalat-nabi-30-rukun-shalat.html">rukun atau syarat</a> padahal ia mampu melakukannya; meninggalkan di sini dengan sengaja, lupa, atau tidak tahu.</em></li>
<li><em>meninggalkan wajib shalat secara sengaja,</em></li>
<li><em>berbicara dengan sengaja,</em></li>
<li><em>tertawa (dengan keluar suara),</em></li>
<li><em>bergerak banyak dalam shalat secara ‘urf (anggapan orang) disebut banyak, dilakukan berturut-turut, dan bukan darurat.</em></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><em>Dua yang pertama jadi pembatal karena ibadah tidaklah sempurna kecuali dengannya. Sedangkan tiga berikutnya dianggap membatalkan shalat karena melakukan yang dilarang di dalam shalat.”</em></p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Shalat batal berarti belum gugur kewajiban</strong></span></h2>
<p>Bab kali ini menjelaskan tentang pembatal dan hal yang dimakruhkan, di mana tidak disyariatkan sujud sahwi karena tidak ada dalil akan hal itu. Shalat yang rusak (batal) berarti shalat tersebut belum melepas kewajiban, ia dituntut melakukan shalat tersebut kembali, baik dalam bentuk adaa-an (kerjakan shalat pada waktunya) maupun qadha-an (kerjakan shalat di luar waktunya). Sedangkan makruh berarti sesuatu yang diperintahkan untuk ditinggalkan dengan larangan tidak tegas.</p>
<p> </p>
<h2><strong><span style="font-size: 18pt;">Kaedah meninggalkan syarat, rukun, dan wajib shalat</span></strong></h2>
<ol>
<li>Jika seseorang meninggalkan syarat, rukun, atau wajib shalat dengan sengaja padahal mampu melakukannya, maka shalatnya tidaklah sah.</li>
<li>Jika meninggalkan syarat, rukun dalam keadaan tidak tahu atau lupa, maka wajib dilakukan kembali lalu melakukan <a href="https://rumaysho.com/23251-manhajus-salikin-sujud-sahwi.html">sujud sahwi</a>.</li>
<li>Jika meninggalkan wajib shalat dalam keadaan tidak tahu atau lupa, maka ditambal dengan sujud sahwi.</li>
<li>Jika meninggalkan syarat atau rukun shalat karena tidak mampu, maka tidak ada kewajiban apa pun sebagai pengganti.</li>
</ol>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kaedah meninggalkan perintah dan melakukan larangan karena lupa</strong></span></h2>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “Perbedaan penting yang perlu diperhatikan bahwa siapa yang melakukan yang haram dalam keadaan lupa, maka ia seperti tidak melakukannya. Sedangkan yang meninggalkan perintah karena lupa, itu bukan alasan gugurnya perintah. Namun bagi yang mengerjakan larangan dalam keadaan lupa, maka itu uzur baginya sehingga tidak terkenai dosa.” (<em>I’lam Al-Muwaqi’in</em>, 2:51).</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Peringatan!</strong></span></h2>
<p>Orang yang tidak tahu tidak ada udzur, kalau ia lakukan kesalahan untuk shalat saat ini, maka ia mengulangi shalat yang saat itu saja. Hal ini sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang jelek shalatnya (yaitu Khalad bin Raafi’, cerita hadits ini ada dalam hadits Abu Hurairah dan hadits Rifa’ah bin Raafi’). Adapun shalat yang dulu-dulu tidak perlu diulangi. Karena beban hukum ada ketika telah sampainya ilmu. Lihat Ghayah Al-Muqtashidin, 1:286.</p>
<p>Ada kaedah dari Ibnu Taimiyah yang berbunyi,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">أَنَّ الْحُكْمَ لَا يَثْبُتُ إلَّا مَعَ التَّمَكُّنِ مِنْ الْعِلْمِ</span></p>
<p>“Hukum tidaklah ditetapkan kecuali setelah sampainya ilmu.” (<em>Majmu’ah Al-Fatawa</em>, 19:226).</p>
<p>Dalil kaedah ini adalah firman Allah,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا</span></p>
<p>“<em>Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul</em>.” (QS. Al Isra’: 15).</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kenapa sampai meninggalkan syarat, rukun, dan wajib shalat membatalkan shalat?</strong></span></h2>
<p>Dalam <em>Ghayah Al-Muqtashidin</em> (1:286) disebutkan bahwa hal ini dikarenakan meninggalkan sesuatu yang shalat tidaklah sempurna kecuali dengannya dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak</em>.” (HR. Muslim, no. 1718)</p>
<p>Masih berlanjut pembahasan tentang pembatal shalat insya Allah.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/19222-safinatun-najah-pembatal-wudhu.html"><strong>Safinatun Najah: Pembatal Wudhu</strong></a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/13396-syarat-pembatal-puasa-berlaku.html"><strong>Syarat Pembatal Puasa Berlaku</strong></a></span></li>
</ul>
<h4><strong>Referensi:</strong></h4>
<ol>
<li>
<em>Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin.</em> Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
<li>
<em>Syarh Manhaj As</em>–<em>Salikin</em>. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.</li>
</ol>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: center;">Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
 