
<p>Kali ini kita lihat kajian Syaikh As-Sa’di tentang shalat Sunnah Rawatib dari <a href="https://rumaysho.com/tag/manhajus-salikin" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000;"><strong>Manhajus Salikin</strong></span></a>.</p>

<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><strong># Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di</strong></span></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></h2>
<p style="text-align: center;">Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya Manhajus Salikin,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">و اَلرَّوَاتِبُ اَلْمُؤَكَّدَةُ اَلتَّابِعَةُ لِلْمَكْتُوبَاتِ عَشَرٌ:</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَهِيَ اَلْمَذْكُورَةُ فِي حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ” حَفِظْتُ عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ رَكَعَاتٍ:</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">– رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلظُّهْرِ, وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">– وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">– وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">– وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلْفَجْرِ ” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ</p>
<p style="text-align: center;">Shalat rawatib muakkadah yang mengikuti shalat wajib ada sepuluh rakaat, inilah yang disebutkan dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku menghafalkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rakaat (dalam sehari) yaitu dua rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isya, dua rakaat qabliyah Shubuh. (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>)</p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/1643-memisah-shalat-rawatib-dan-shalat-wajib.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Memisah Shalat Rawatib dan Shalat Wajib</a></span></strong></p>
<h2></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hadits tentang shalat rawatib</strong></span></h2>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh</em>.” (HR. Tirmidzi, no. 414. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)</p>
<p>Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">حَفِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ</p>
<p>“<em>Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rakaat (sunnah rawatib), yaitu dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib di rumahnya, dua rakaat sesudah ‘Isya di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.</em>” (HR. Bukhari, no. 1180)</p>
<p>Dari Ummu Habibah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Rasulullah <em>shallalahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah (rawatib) dalam sehari-semalam sebanyak 12 rakaat, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.</em>”</p>
<p>Ummu Habibah mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</p>
<p>‘Ambasah mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah.”</p>
<p>‘Amr bin Aws mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Ambasah.”</p>
<p>An-Nu’man bin Salim mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Amr bin Aws.” (HR. Muslim, no. 728)</p>
<p><strong>Baca Juga: <a href="https://rumaysho.com/10954-shalat-sunnah-rawatib-bagi-musafir-ketika-shalat-di-belakang-imam-mukim.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000;">Shalat Sunnah Rawatib bagi Musafir Ketika Shalat di Belakang Imam Mukim</span></a></strong></p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Beberapa catatan tentang shalat sunnah rawatib</strong></span></h2>
<p> </p>
<p><strong>Pertama</strong>: Shalat rawatib (yang mengiringi shalat wajib) <strong>minimalnya adalah sepuluh rakaat, maksimalnya adalah enam belas rakaat</strong>. Rawatib enam belas rakaat ini adalah dua rakaat qabliyah Shubuh, empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, empat rakaat qabliyah Ashar (sebagaimana dianut dalam madzhab Syafii dan jadi pendapat sebagian ulama Hambali), dua rakaat bakdiyah Maghrib, dan dua rakaat bakdiyah Isya.</p>
<p>Dalil tentang <a href="https://rumaysho.com/18642-shalat-rawatib-zhuhur.html">shalat qabliyah Zhuhur</a> empat rakaat adalah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَانَ لاَ يَدَعُ أَرْبعاً قَبْلَ الظُّهْرِ</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Zhuhur.” (HR. Bukhari, no. 1182)</p>
<p>Dalil tentang shalat qabliyah Ashar empat rakaat adalah hadits dari ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كَانَ النبَّيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي قَبْلَ العَصْرِ أرْبَعَ رَكَعَاتٍ ، يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى المَلائِكَةِ المُقَرَّبِينَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُؤْمِنِينَ</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa melakukan shalat empat rakaat sebelum Ashar. Beliau memisahkan di antara empat rakaat itu dengan salam terhadap para malaikat yang didekatklan serta kepada kaum muslimin dan mukminin yang mengikuti mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 429; Ibnu Majah, no. 1161; Ahmad, 1:58. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah meninggalkan shalat rawatib ketika mukim.</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, di mana ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidaklah memiliki perhatian yang luar biasa untuk shalat sunnah selain <a href="https://rumaysho.com/19538-kumpulan-amalan-ringan-03-shalat-sunnah-fajar.html">shalat sunnah fajar</a>.” (HR. Bukhari, no. 1169)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqashar shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qabliyah dan ba’diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar” (Zaad Al-Ma’ad, 1:456).</p>
<p>Adapun shalat malam (tahajud), shalat Dhuha, shalat tahiyyatul masjid dan shalat sunnah mutlak lainnya, masih boleh dilakukan ketika safar. Sebagaimana penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam <em>Majmu’ Fatawa-</em>nya (15:258).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Shalat Sunnah bakdiyah Maghrib setelah surah Al-Fatihah membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan membaca surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَا أُحْصِى مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ بِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ</p>
<p>“<em>Aku tidak dapat menghitung karena sangat sering aku mendengar bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah pada shalat dua rakaat bakdiyah Maghrib dan pada shalat dua rakaat qabliyah shubuh yaitu Qul yaa ayyuhal kafirun (surah Al-Kafirun) dan qul huwallahu ahad (surah Al-Ikhlash).</em>” (HR. Tirmidzi, no. 431. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih).</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Shalat Sunnah Fajar dilakukan ringan.</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، كَانَ يُصَلِّي رَكْعتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامةِ مِنْ صَلاة الصُّبْحِ</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa melaksanakan shalat dua rakaat yang ringan di antara azan dan iqamah shalat Shubuh. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 618 dan Muslim, no. 724)</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Ada anjuran tidur setelah shalat Sunnah Fajar.</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، فَإِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ، ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ ، حَتَّى يَجِىءَ الْمُؤَذِّنُ فَيُؤْذِنَهُ</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at. Jika telah terbit Fajar Shubuh (masuk azan Shubuh, -pen), beliau mengerjakan shalat dua raka’at yang ringan. Setelah itu beliau berbaring pada sisi kanan hingga muazin mengumandangkan iqamah.” (HR. Bukhari, no. 6310 dan Muslim, no. 736)</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> katakan dalam <em>Riyadhus Sholihin</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">بَابُ اسْتِحْبَابِ الاضْطِجَاعِ بَعْدَ رَكْعَتَي الفَجْرِ عَلَى جَنْبِهِ الأَيْمَنِ وَالحَثِّ عَلَيْهِ سَوَاءٌ كَانَ تَهَجَّدَ بِاللَّيْلِ أَمْ لاَ</p>
<p style="text-align: center;"><em>Bab 198. Sunnahnya Berbaring Setelah Dua Rakaat Qabliyah Shubuh dengan Sisi Tubuh yang Kanan, Baik Itu Setelah Shalat Tahajud maupun Tidak.</em></p>
<p><strong>Keenam</strong>: Shalat Sunnah rawatib tidak disyariatkan berjamaah dan dianjurkan dilakukan di rumah.</p>
<p>Dari Zaid bin Tsabit <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَفْضَلُ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ</p>
<p>“<em>Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.</em>” (HR. Bukhari, no. 731 dan Ahmad 5: 186, dengan lafazh Ahmad)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa melaksanakan hampir seluruh shalat sunnahnya–yaitu shalat sunnah yang tidak memiliki sebab–di rumahnya, lebih-lebih shalat sunnah maghrib. Tidak dinukil sama sekali dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kalau beliau melaksanakan shalat sunnah tersebut di masjid” (Zaad Al-Ma’ad, 1:298).</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/1995-mengqodho-shalat-sunnah-rawatib.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000; font-size: 12pt;"><strong>Mengqodho Shalat Sunnah Rawatib</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/1643-memisah-shalat-rawatib-dan-shalat-wajib.html"><span style="color: #ff0000; font-size: 12pt;"><strong>Memisah Shalat Rawatib dan Shalat Wajib</strong></span></a></li>
</ul>
<h3 style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><strong>Referensi:</strong></span></h3>
<ol>
<li>Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
<li>
<em>Syarh Manhaj As</em>–<em>Salikin</em>. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.</li>
</ol>
<p> </p>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: center;">Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
<p> </p>
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2020/01/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-95.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2020/01/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-95.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2020/01/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-96.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2020/01/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-96.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
 