
<p class="western" align="center"><span style="color: #ff0000;"><span style="font-size: medium;"><span lang="id-ID"><b>Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid</b></span></span></span><b> </b><span style="color: #ff0000;"><span style="font-size: medium;"><span lang="en-US"><i><b>hafidzahullahu Ta’ala</b></i></span></span></span></p>
<p class="western" lang="id-ID"><span style="color: #000000;"><b>Soal:</b></span></p>
<p class="western" align="justify"><span lang="id-ID">Apakah kata (istilah) <em>thaghut</em> mencakup benda-benda yang tidak mengajak manusia agar beribadah kepadanya, seperti matahari, pohon, patung, dan batu? Apakah kaum muslimin yang bertakwa, seperti Imam Asy-Syafi’i, bisa disebut sebagai <em>thaghut</em> karena manusia menyembah beliau atau menyembah kubur beliau?</span></p>
<p class="western"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><b>Jawab</b></span><span lang="id-ID"><b>:</b></span></span></p>
<p class="western" align="justify"><span lang="id-ID">Segala puji bagi Allah Ta</span><span lang="en-US">’a</span><span lang="id-ID">la.</span></p>
<p class="western" align="justify"><span lang="id-ID">Tidak semua yang disembah selain Allah Ta’ala disebut dengan <em>thaghut</em>. Karena pendapat yang benar dari berbagai pendapat </span><span lang="en-US">para </span><span lang="id-ID">ulama tentang makna istilah <em>thaghut</em> adalah sebagaimana perkataan Ibnu Jarir Ath-Thabari </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullahu Ta</i></span><span lang="en-US"><i>’a</i></span><span lang="id-ID"><i>la</i></span><span lang="id-ID"> dalam <em>Tafsir</em>-nya (3/21):</span></p>
<p dir="rtl" align="justify"><span lang="ar-SA">الصواب من القول عندي في الطاغوت أنه كل ذي طغيان على الله ،  فعبد من دونه ، إما بقهر منه لمن عبده ، وإما بطاعة ممن عبده له ، إنساناً كان ذلك المعبود ، أو شيطاناً أو وثناً أو صنماً أو كائناً ما كان من شيء وقال أيضاً : <span lang="ar-SA">وأصل الطاغوت </span>.. <span lang="ar-SA">من قول القائل طغا فلان يطغو إذا عدا قدره فتجاوز حده</span> </span></p>
<p class="western" align="justify">“<span lang="id-ID">Yang benar menurut pendapatku tentang makna <em>thaghut</em> adalah semua orang yang melampaui batas terhadap Allah Ta’ala,</span> <span lang="id-ID"> sehingga dia pun disembah selain Allah Ta’ala. Baik hal itu disebabkan karena kekuasaannya atas orang-orang penyembahnya atau karena ketaatan para penyembahnya kepadanya, baik sesembahan tersebut berupa manusia, setan, patung, berhala, atau sesembahan dalam bentuk apa pun. </span></p>
<p class="western" align="justify"><span lang="id-ID">Dikatakan pula bahwa asal kata </span><span lang="en-US">dari </span><span lang="id-ID"><em>thaghut</em> adalah</span><span lang="en-US">,</span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span lang="ar-SA">طغا فلان يطغو</span></p>
<p class="western" align="justify"><span lang="id-ID">“jika </span><span lang="en-US">seseorang </span><span lang="id-ID">melewati ukuran semestinya sehingga melampaui batas”.</span></p>
<p class="western" align="justify"><span lang="id-ID">Maka para Nabi, ulama, wali, dan orang-orang shalih selain mereka, tidaklah mengajak manusia untuk menyembah mereka dan juga tidak setuju terhadap tindakan mereka (para penyembahnya). Bahkan mereka memperingatkan umat dari tindakan tersebut dengan bentuk peringatan yang sangat keras. Lebih-lebih lagi, tujuan utama diutusnya para rasul kepada manusia adalah untuk mengajak manusia men-tauhidkan Allah Ta’ala dan mengingkari segala macam sesembahan selain Allah Ta’ala. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span lang="ar-SA">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ</span></p>
<p class="western" align="justify">“<span lang="en-US"><i>Dan sungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.’”</i></span><span lang="en-US"> (QS. An-Nahl [16]: 36)</span></p>
<p class="western" align="justify"><span lang="id-ID">Allah <em>Ta’ala</em> befirman,</span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span lang="ar-SA">وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ </span>(116) <span lang="ar-SA">مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ </span>(117)</p>
<p class="western" align="justify">“<span lang="en-US"><i>Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sesembahan selain Allah?’ Isa menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib.”</i></span></p>
<p class="western" align="justify"><span lang="en-US"><i>Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’, dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu.”</i></span><span lang="en-US"> (QS. Al-Maidah [5]: 116-117)</span></p>
<p class="western" lang="id-ID" align="justify">Maka para nabi dan ulama tidaklah disebut dengan thaghut, meskipun manusia menyembah mereka di samping menyembah Allah Ta’ala.</p>
<p class="western" align="justify"><span lang="id-ID">Jika manusia melampaui batas terhadap Imam Asy-Syafi’i atau ulama lainnya</span><span lang="en-US"> –</span><span lang="en-US"><i>rahimahumullahu Ta’ala-</i></span><span lang="id-ID">, (misalnya) dengan ber-istighatsah kepada mereka atau menyembah kubur mereka, maka tidak ada dosa atas mereka (para ulama). Dosa tersebut berlaku bagi </span><span lang="en-US">orang </span><span lang="id-ID">yang berbuat syirik. Demikian pula umat Nas</span><span lang="en-US">h</span><span lang="id-ID">rani yang menyembah Nabi Isa </span><span lang="id-ID"><i>‘alaihis salaam</i></span><span lang="en-US"><i>.</i></span><span lang="id-ID"> Nabi Isa </span><span lang="id-ID"><i>‘alaihis salaam</i></span><i> </i><span lang="id-ID">tidaklah menanggung dosa sedikit pun atas perbuatan umat Nas</span><span lang="en-US">h</span><span lang="id-ID">rani</span><span lang="en-US"> tersebut</span><span lang="id-ID">. </span></p>
<p class="western" lang="id-ID" align="justify">Di antara defisini ringkas tentang <em>thaghut</em> adalah,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span lang="ar-SA">من عُبِد من دون الله وهو راضٍ</span></p>
<p class="western" align="center">“<span lang="en-US"><i>S</i></span><span lang="id-ID"><i>emua yang disembah selain Allah Ta’ala dan dia ridha </i></span><span lang="en-US"><i>(tidak mengingkari) </i></span><span lang="id-ID"><i>atas penyembahan tersebut.</i></span><span lang="en-US"><i>”</i></span></p>
<p class="western" align="justify"><span lang="id-ID">Dan telah diketahui bahwa Nabi Isa </span><span lang="en-US"><i>‘</i></span><span lang="id-ID"><i>alaihis salaam,</i></span><span lang="id-ID"> demikian pula para Nabi yang lain, dan juga Imam Asy-Syafi’i serta para ulama ahli tauhid yang lainnya, mereka tidaklah ridha sedikit pun terhadap penyembahan manusia kepada mereka.</span><i> </i><span lang="id-ID">Bahkan mereka melarang hal tersebut dan menjelaskan </span><span lang="en-US">(hakikat) </span><span lang="id-ID">tauhid. </span></p>
<p class="western" lang="id-ID" align="justify">Allah Ta’ala befirman,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span lang="ar-SA">وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ </span>(116) <span lang="ar-SA">مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ </span>(117)</p>
<p class="western" align="justify">“<span lang="en-US"><i>Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sesembahan selain Allah?’ Isa menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib.”</i></span></p>
<p class="western" align="justify"><span lang="en-US"><i>Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’, dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu.”</i></span><span lang="en-US"> (QS. Al-Maidah [5]: 116-117).</span></p>
<p class="western" lang="en-US" align="justify"><i>Wallahu a’lam.</i></p>
<p class="western" lang="en-US" align="justify">***</p>
<p lang="en-US" align="justify">Selesai diterjemahkan ba’da maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam, 13 Jumadil Akhir 1437</p>
<p lang="en-US" align="justify">Diterjemahkan dari: <a href="https://islamqa.info/ar/5203">https://islamqa.info/ar/5203</a></p>
<p align="justify"><span lang="en-US">Penerjemah: </span><span lang="en-US"><b>M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<p align="justify">Artikel Muslim.or.id</p>
 