
<p>Apa saja ciri-ciri munafik?</p>
<p></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hadits Ke-48 dari Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab</strong></span></h2>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الحَدِيْثُ الثَّامِنُ وَالأَرْبَعُوْنَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : أَربعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً ، وَإِنْ كَانَتْ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ فِيْهِ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفاقِ حَتَّى يَدَعَهَا : مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ  خَرَّجَهُ البُخَارِيُّ  وَمُسْلِمٌ</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hadits Ke-48</strong></span></h2>
<p>Dari ‘Abdullah bin ‘Amr <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “<em>Ada empat tanda seseorang disebut munafik. Jika salah satu perangai itu ada, ia berarti punya watak munafik sampai ia meninggalkannya. Empat hal itu adalah: (1) jika berkata, berdusta; (2) jika berjanji, tidak menepati; (3) jika berdebat, ia berpaling dari kebenaran; (4) jika membuat perjanjian, ia melanggar perjanjian (mengkhianati).</em>” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 2459, 3178 dan Muslim, no. 58]</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Baca Juga:</span> <span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://rumaysho.com/25270-hidup-sehat-ala-rasulullah-hadits-jamiul-ulum-wal-hikam-47.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Hidup Sehat Ala Rasulullah (Hadits Jamiul Ulum wal Hikam #47)</a></span></strong></p>
<p><strong>Ada juga hadits lainnya yang melengkapi tanda munafik selain hadits di atas sebagai berikut.</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ</p>
<p>“<em>Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, berkhianat</em>.” (HR. Muslim, no. 59)</p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ</p>
<p>“<em>Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, lalu ia mengklaim dirinya muslim</em>.” (HR. Muslim, no. 59)</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Faedah hadits</strong></span></h2>
<p><strong>Pertama</strong>: Secara bahasa, nifaq (kemunafikan) termasuk dalam pengelabuan dan makar, yaitu dengan menampakkan sisi baik dan menyembunyikan sisi buruknya. Menurut istilah syari, nifaq (kemunafikan) ada dua macam:</p>
<ol>
<li>
<strong>Kemunafikan besar (nifaq akbar),</strong> yaitu <strong>menampakkan keimanan</strong> (yaitu beriman kepada Allah, malaikat, kitab suci, para rasul, dan hari akhir), <strong>lalu menyembunyikan kekafiran</strong>, bisa jadi kekafiran secara total (tidak beriman sama sekali), atau tidak mengimani sebagian. Kemunafikan jenis pertama inilah yang ditemukan pada masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Al-Qur’an diturunkan untuk mencela orang munafik jenis ini, bahkan Al-Qur’an mengafirkan mereka. Al-Qur’an pun menyebutkan bahwa pelaku jenis ini berada pada dasar paling bawah dari neraka.</li>
<li>
<strong>Kemunafikan kecil (nifaq ashgar)</strong>, itulah <strong><em>nifaq al-‘amal</em></strong> (kemunafikan amalan), yaitu menampakkan diri saleh, padahal keadaan batin tidak seperti itu.</li>
</ol>
<p><strong>Kedua</strong>: Asal kemunafikan kembali pada ciri-ciri kemunafikan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang dikaji. Secara umum tanda munafik itu ada lima:</p>
<ol>
<li>Jika mengatakan suatu perkataan di mana orang yang mendengar begitu mempercayainya, padahal yang dikatakan itu suatu kedustaan.</li>
<li>Jika berjanji, tidak menepati. Di sini ada dua macam: (a) sedari awal berniat tidak akan menunaikan janji, inilah orang yang paling jelek dalam mengingkari janji; (b) berjanji dengan niat akan menunaikan, kemudian ia tidak menepatinya padahal tidak ada uzur.</li>
<li>Jika berdebat, ia <em>fujuur</em>, artinya sengaja keluar dari kebenaran, hingga kebenaran menjadi suatu kebatilan dan kebatilan menjadi suatu kebenaran. Jika seseorang punya kemampuan berdebat lalu ia membela kebatilan sehingga membuat kebatilan itu tampak benar bagi yang mendengarkan, ini adalah sejelek-jelek keharaman, dan perangai munafik yang paling jelek.</li>
<li>Jika membuat perjanjian, lalu melanggar dan tidak memenuhi perjanjian tersebut.</li>
<li>Jika diberi amanat, ia berkhianat. Ketika seseorang diberi amanat, harusnya ia tunaikan amanat tersebut. Berkhianat terhadap amanat termasuk ciri-ciri munafik.</li>
</ol>
<p>Dari Ibnu ‘Umar <em>radliyallahu ‘anhuma</em>, dari Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانٍ</p>
<p>“<em>Setiap pengkhianat memliki bendera pada hari Kiamat kelak. Lalu dikatakan kepadanya, “Inilah pengkhianat si Fulan</em>.’” (HR. Bukhari, no. 3187 dan Muslim, no. 1735)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Kemunafikan itu kembali pada “berbedanya lahir dan batin”.</p>
<p><em>Tiga faedah ini diringkas dari Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.</em></p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Masalah: Apakah wajib memenuhi janji?</strong></span></h2>
<p>Ibnu Rajab <em>rahimahullah</em> berkata, “Para ulama berselisih pendapat tentang wajibnya memenuhi janji. Ada yang mengatakan wajib. Ada yang menyatakan wajib secara mutlak. Inilah pendapat dari ulama Zhahiriyah dan semisalnya. Di antara mereka ada yang menyatakan wajib memenuhi janji jika pihak yang diberi janji merasa rugi.</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Masalah: Berbagai bentuk melanggar perjanjian</strong></span></h2>
<p>Ibnu Rajab <em>rahimahullah</em> menjelaskan, “Melanggar setiap perjanjian itu haram baik perjanjian dengan sesama muslim atau dengan non-muslim. Termasuk dalam hal ini, tidak boleh mengkhianati perjanjian dengan non-muslim. Inilah yang dijelaskan pada hadits kafir mu’ahad (kafir yang punya ikatan perjanjian dengan kaum muslim). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَعَامًا</p>
<p>“<em>Siapa yang membunuh kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun</em>.” (HR. Bukhari, no. 3166)</p>
<p><span style="color: #000000;"><strong><span style="color: #ff0000;">Baca Juga:</span> <span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://rumaysho.com/379-hukum-membunuh-atau-qngebomq-orang-kafir.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Hukum Membunuh atau “Ngebom” Orang Kafir</a></span></strong></span></p>
<p>Allah sendiri telah memerintahkan dalam Al-Qur’an untuk menunaikan perjanjian dengan orang musyrik selama mereka memenuhi janji tersebut dan tidak membatalkannya.</p>
<p>Adapun perjanjian dengan sesama kaum muslimin, tentu lebih harus ditaati. Membatalkan perjanjian dengan sesama muslim tentu dosanya lebih besar.</p>
<p> </p>
<p><strong>Bentuk pelanggaran perjanjian:</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Membatalkan perjanjian dengan pemimpin kaum muslimin yang sudah dibaiat dan sudah diridai. Dalam <em>shahihain</em>, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ … ، وَرَجُلٌ بَايَعَإِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَاهُ ، إِنْ أَعْطَاهُ مَا يُرِيدُ وَفَى لَهُ ، وَإِلاَّ لَمْ يَفِ لَهُ</p>
<p>“<em>Tiga hal yang Allah tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat, Allah tidak akan menyucikan mereka, bagi mereka azab yang pedih, (di antaranya yang disebutkan): seseorang yang berbaiat (sumpah setia kepada pemimpin, pen.), ia membaiatnya hanya karena tujuan dunia. Jika pemimpin itu memberi yang ia inginkan, ia akan memenuhi janjinya. Jika tidak diberi, ia tidak akan memenuhi janjinya</em>.” (HR. Bukhari, no. 7212 dan Muslim, no. 108)</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Melanggar perjanjian yang wajib ditunaikan, diharamkan untuk melanggarnya seperti:</p>
<ul>
<li>Semua akad jual beli yang sudah saling rida.</li>
<li>Ikatan pernikahan.</li>
</ul>
<p><strong>Ketiga</strong>: Melanggar perjanjian dengan Allah yang seharusnya ditunaikan seperti seseorang berjanji menunaikan nadzar dalam ketaatan dan semisal itu.” (Dibahasakan secara bebas dari <em>Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam</em>, 2:488)</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Perkataan para ulama tentang kemunafikan</strong></span></h2>
<p>Ibnu Abi Mulaikah pernah berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ</p>
<p>“Aku telah mendapati tiga puluh orang sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, semuanya khawatir pada dirinya tertimpa kemunafikan.” (HR. Bukhari, no. 36)</p>
<p>Ada perkataan dari Imam Ahmad,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وسُئِلَ الإمامُ أحمد : مَا تَقُوْلُ فِيْمَنْ لاَ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ النِّفَاق ؟ فقال : وَمَنْ يَأمَنُ عَلَى نَفْسِهِ النِّفَاقَ ؟</p>
<p>Imam Ahmad pernah ditanya, “Apa yang kau katakan pada orang yang tidak khawatir pada dirinya kemunafikan?” Beliau menjawab, “Apa ada yang merasa aman dari sifat kemunafikan?”</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri sampai menyebut orang yang tampak padanya sifat kemunafikan dari sisi amal (bukan i’tiqod atau keyakinan), maka ia disebut munafik. Sebagaimana ada perkataan Hudzaifah dalam hal itu. Seperti ada perkataan Asy-Sya’bi semisal itu pula,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ</p>
<p>“Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (<em>Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam</em>, 2:493)</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَا خَافَهُ إِلاَّ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ أَمَنَهُ إلِاَّ مُنَافِقٌ</p>
<p>“Orang yang khawatir terjatuh pada kemunafikan, itulah orang mukmin. Yang selalu merasa aman dari kemunafikan, itulah senyatanya munafik.” (<em>Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam</em>, 2:491)</p>
<p><em>Semoga Allah menyelamatkan kita dari sifat munafik.</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/3785-shalat-shubuh-dan-shalat-isya-paling-berat-bagi-orang-munafik.html"><span style="color: #000000;"><strong>Shalat Shubuh dan Shalat Isya Paling Berat Bagi Orang Munafik</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/15399-4-kiat-selamat-dari-sifat-munafik.html"><span style="color: #000000;"><strong>4 Kiat Selamat dari Sifat Munafik</strong></span></a></li>
</ul>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>Referensi:</strong></span></h3>
<ol>
<li>
<em>Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.</em> Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.</li>
<li>
<em>Fath Al-Qawi Al-Matin fii Syarh Al-Arba’in wa Tatimmah Al-Khamsiin li An-Nawawi wa Ibnu Rajab rahimahumallah.</em> Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-‘Abbad Al-Badr.</li>
</ol>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Selesai disusun Malam Jumat, 19 Dzulqa’dah 1441 H, 10 Juli 2020</p>
<p style="text-align: center;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></strong></p>
 