
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">فَلَا يُنْظَرُ إِلَى نَقْصِ الْبِدَايَةِ وَلَكِنْ يُنْظَرُ إِلَى كَمَالِ النِّهَايَةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jangan pandang kekurangan di awal namun lihatlah kesempurnaan di akhirnya.” (<em>Minhaj As-Sunnah an-Nabawiyyah</em> 2/430)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah kaedah penting dalam berbagai hal, diantaranya: </span></p>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akhir Ramadhan. Manfaatkan akhir Ramadhan semaksimal mungkin. Ingat yang jadi tolok ukur adalah akhir yang bagus dan berkualitas. Semangat yang hanya biasa saja di awal Ramadhan itu dimaafkan jika ditutup dengan semangat ibadah yang membara di akhir Ramadhan.</span></p>
<p><strong>Kedua:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Belajar ilmu. Yang jadi acuan bukanlah semangat membara di awal jika pada akhirnya melempem. Semangat biasa di awal namun tuntas sampai akhir itu yang lebih bagus. Meski yang lebih bagus lagi jika memiliki semangat membara dari awal sampai akhir masa belajar.</span></p>
<p><strong>Ketiga:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendidikan Anak. Jangan terlena dengan hafalan al-Qur’an yang mempesona di usia TK manakala berujung kebosanan di usia remaja dan dewasa. Lebih baik, biasa saja di usia kanak-kanak karena ortu tidak pasang target muluk-muluk kepada anaknya yang masih belia namun rasa cinta dengan agama tetap membara di masa remaja dan dewasa.</span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 