
<p><em>Alhamdulillah, shalawat</em> dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan shahabatnya. <em>Amiin</em>.</p>
<p>Saudaraku, Anda pernah mendengar motto: “<em>Life is a style?</em>” Atau mungkin Anda termasuk yang terinspirasi oleh motto ini? Kalau Anda adalah orang Jawa, saya yakin Anda diajari motto: “<em>ajining rogo soko busono</em>” (harga diri tercermin dari pakaian).”</p>
<p>Saudaraku! Coba Anda bayangkan, apa perasaan Anda ketika sedang  berpenampilan perlente, semerbak wangi, pakaian, sepatu, jam tangan, tas  dan lain sebagainya serba bermerek, dengan harga selangit.</p>
<p>Bahkan, tidak jarang dari saudara kita yang beranggapan bahwa agar  penampilannya lebih sempurna, ia masih perlu untuk menyisipkan sebatang  rokok putih di bibirnya.</p>
<p>Kereen, waah, dan penuh percaya diri. Kira-kira begitulah perasaan  yang bergemuruh dalam jiwa Anda kala itu. Bukankan demikian saudaraku?</p>
<p>Sebaliknya: Bayangkan Anda sedang berpenampilan gembel, baju  compang-camping, sandal jepit, berjalan di salah satu pusat belanja  tersohor di kota Anda. Bagaimana perasaan Anda saat itu? Mungkinkah saat  itu Anda bisa tampil dengan percaya diri dan tetap menegakkan kepala,  apalagi membusungkan dada?</p>
<p>Saudaraku! Anda pernah berkunjung ke Cibaduyut-Bandung? Betapa banyak  produk dalam negeri dengan mutu ekspor seret di pasaran dalam negeri.  Program cinta produk dalam negeri senantiasa kandas, dan hanya sebatas  isapan jempol sesaat, dan segera sirna.</p>
<p>Sebaliknya, berbagai produk dalam negri setelah diberi lebel oleh  perusahaan asing, begitu laku di pasar, dan tentunya dengan harga yang  berlipat ganda.</p>
<p>Saudaraku! Mari kita merenung sejenak, dan bertanya: Sejatinya, harga  diri saya terletak di mana? Mungkinkah harga diri saya terletak pada  pakaian, sepatu, jam, dan berbagai produk lainnya?.</p>
<p>Bila jawabannya tidak, lalu mengapa ketika berbelanja Anda memilih  barang dengan merek-merek terkenal yang harganya selangit? Padahal  banyak merek lain, produk dalam negeri, mutu yang sama dan tentunya  dengan harga yang jauh lebih murah tidak masuk dalam nominasi daftar  belanja Anda?</p>
<p>Saudaraku! Atau mungkinkah kepercayaan diri Anda terletak pada  sepuntung rokok yang tidak lama lagi akan Anda injak dengan sepatu Anda?</p>
<p>Betapa sengsaranya diri Anda bila Anda beranggapan bahwa harga diri  dan kepercayaan Anda hanya tumbuh bila Anda melengkapi diri Anda dengan  berbagai produk orang lain. Sehingga, bila pada suatu saat Anda tidak  dilengkapi dengan berbagai aksesoris, Anda merasa kurang percaya diri  atau bahkan rendah diri.</p>
<p>Bahkan, kalaupun Anda dilengkapi dengan berbagai aksesoris mewah yang  Anda miliki, maka Anda akan kembali merasakan rendah diri tatkala  berhadapan dengan orang yang mengenakan aksesoris lebih wah dibanding  yang Anda kenakan.</p>
<p>Dan sudah barang tentu, bila harga diri Anda terletak pada aksesoris  yang melekat pada diri Anda, maka tidak lama lagi harga diri Anda akan  ketinggalan zaman alias expire date.</p>
<p>Ketahuilah saudaraku, sejatinya harga diri Anda terletak pada jiwa  Anda. Harga diri Anda terpancar dari iman dan ketakwaan Anda kepada  Allah. Bila Anda adalah orang yang berjiwa besar, benar memiliki harga  diri, maka Anda tetap percaya diri, walau tidak dilengkapi oleh berbagai  aksesoris mewah dan bermerek. Harga diri Anda terletak pada iman dan  kedekatan Anda kepada Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى  وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ  عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</p>
<p>“<em>Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang  laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan  bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang  paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling  bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha  Mengenal</em>.” (QS. Al-Hujurat: 13).</p>
<p>Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjalankan Haji  Wada’ bersama umat Islam yang kala itu kira-kira berjumlah 100.000  jamaah haji, beliau menegaskan hal ini dengan berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ  وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِىٍّ عَلَى أَعْجَمِىٍّ وَلاَ لِعَجَمِىٍّ  عَلَى عَرَبِىٍّ وَلاَ لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى  أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى. رواه أحمد</p>
<p>“<em>Wahai umat manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah Mahaesa, dan  ayah kalian satu (yaitu Nabi Adam). Ketahuilah, bahwa tidak ada  kelebihan bagi orang Arab dibanding non-arab, tidak pula bagi non-Arab  atas orang Arab, tidak pula bagi yang berkulit putih kemerahan dibanding  yang berkulit hitam, tidak pula sebaliknya bagi yang berkulit putih  atas yang berkulit putih kemerahan, kecuali dengan kataqwaan</em>.” (Hadits riwayat Ahmad).</p>
<p>Pada suatu hari, sahabat Umar bin Al-Khatthab menangis, karena menyaksikan punggung Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bergaris-garis setelah berbaring di atas tikar daun kurma. Ia berkata,  “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Raja Persia dan Romawi bergelimang dalam  kemewahan, sedangkan engkau adalah utusan Allah demikian ini halnya.”  Mendengar ucapan sahabatnya ini, Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمَا الدُّنْيَا وَلَكَ الآخِرَةُ. متفق عليه</p>
<p>“<em>Tidakkah engkau merasa puas bila mereka mendapatkan kenikmatan dunia, sedangkan engkau mendapatkan kenikmatan di akhirat?</em>” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Jawaban ini begitu membekas pada jiwa sahabat Umar bin Al-Khaththab,  sehingga beliau benar-benar menerapkannya dalam kehidupan. Sampaipun  setelah beliau menjadi khalifah, dan berhasil menundukkan kerajaan  Persia dan Romawi yang dahulu ia begitu kagum dengan kekayaannya,  setelah umat Islam berhasil menguasai Baitul Maqdis, khalifah Umar bin  Khatthab radhiallahu ‘anhu datang ke sana guna menandatangani surat  perjanjian dengan para pemuka penduduk setempat, sekaligus menerima  kunci pintu Baitul Maqdis. Beliau datang dengan mengenakan sarung,  sepatu kulit, dan imamah. Pada saat beliau hendak menyeberangi sebuah  parit yang penuh dengan air mengalir, beliau turun dari unta dan tanpa  rasa sungkan sedikitpun beliau menuntun tunggangannya tersebut.</p>
<p>Melihat penampilan beliau yang demikian itu, sebagian pasukan  muslimin yang ikut serta menjemput kehadiran beliau berkata, “Wahai  Amirul Mukminin, engkau akan disambut oleh pasukan dan para pendeta  Syam, sedang penampilanmu semacam ini?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya,  hanya dengan Islamlah Allah memuliakan kita, karenanya kita tidak akan  mencari kemuliaan dengan jalan selainnya.” Riwayat Ibnu Abi Syaibah.<br> Dan pada riwayat Al-Hakim berliau sahabat Umar berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ فَمَهْمَا  نَطْلُبُ الْعِزَّ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, kita dahulu adalah kaum paling hina, kemudian Allah  memuliakan kita dengan agama Islam, maka setiap kali kita berusaha  mencari kehormatan/ kemuliaan dengan selain agama Islam, pasti Allah  akan menimpakan kehinaan kepada kita.</em>“</p>
<p>Demikianlah halnya bila seseorang telah menemukan harga dirinya dalam  jiwanya. Ia tidak merasa berkurang harga dirinya, karena kurangnya  aksesoris yang melekat pada dirinya, dan ia juga tidak bertambah percaya  diri karena berbagai aksesoris yang tersemat pada dirinya.</p>
<p>Pada peperangan Qadisiyah, pasukan umat Islam yang berjumlah 30.000  personal, di bawah komando sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas, menghadapi  pasukan Persia yang berjumlah 200.000 personal. Sebelum peperangan  dimulai, panglima perang Persia meminta agar umat Islam mengutus seorang  juru runding guna berunding dengannya. Memenuhi permintaan ini, sahabat  Sa’ad bin Abi Waqqas mengutus Rib’i bin ‘Amir.</p>
<p>Setibanya Rib’i di pertendaan Panglima Persia yang bernama Rustum, ia  mendapatkan tenda Rustum telah dihiasi dengan permadani berhiaskan  emas, sutra, permata, intan berlian dan hiasan indah lainnya.</p>
<p>Sedangkan Rustum dengan mengenakan mahkota dan berbagai aksesoris  mewah lainnya, telah duduk menunggunya di atas kursi yang terbuat dari  emas. Sedangkan Ribi’i datang dengan mengenakan pakaian yang kedodoran  karena kebesaran, menenteng sebilah pedang, sebatang tombak, perisai,  dan menunggangi kuda yang pendek. Ribi’i terus berjalan sambil  menunggangi kudanya, hingga kudanya menginjak ujung permadani tenda  Rustum. Selanjutnya, ia turun dan menambatkan kudanya di beberapa bantal  sandaran yang ada di tenda Rustum. Ia maju menghadap ke Rustum dengan  tetap menenteng pedangnya, mengenakan baju dan topi besinya.</p>
<p>Menyaksikan ulah Ribi’i ini, sebagian pengawal Rustum menghardiknya  dengan berkata, “Letakkan senjatamu!” Tanpa gentar, Rabi’i menanggapi  hardikan itu dengan berkata, “Bukan aku yang berinisiatif untuk datang  ke tempat kalian, akan tetapi kalian yang mengundangku untuk datang.  Bila kalian tidak suka dengan caraku ini, maka aku akan kembali.”  Mendengar perdebatan ini, Rustum berkata, “Biakan ia masuk.”</p>
<p>Tatkala Rib’i dizinkan masuk, tidak diduga, ia menghunjamkan  tombaknya ke setiap bantal sandaran sutra yang ia lalui. Setiba  dihadapan Rustum, ia bertanya kepada Ribi’i, “Apa tujuan kalian datang  kemari?” Ribi’i segera menjawab dengan tegas, “Kami datang untuk  membebaskan umat manusia dari perbudakan kepada sesama manusia, menuju  kepada peribadatan kepada Allah, dari himpitan hidup dunia kepada  kelapangan hidup di akhirat, dari penindasan tokoh-tokoh agama, ke dalam  naungan keadilan agama Islam. Allah mengutus kami untuk menyebarkan  agama-Nya kepada seluruh umat manusia. Barangsiapa yang menerima seruan  kami, maka kami menerima keputusannya itu dan kamipun segera kembali ke  negeri kami. Sedangkan orang yang enggan menerima seruan kami, maka kami  akan memeranginya, hingga kita berhasil menggapai janji Allah.”</p>
<p>Spontan Rustum dan pasukannya kembali bertanya, “Apa janji Allah  untuk kalian?” Ribi’i menjawab, “Orang yang gugur dalam perjuangan ini  mendapatkan Surga dan kejayaan bagi yang selamat.” (<em>Al-Bidayah wa An-Nihayah </em>oleh Ibnu Katsir, 7/46-47).</p>
<p>Demikianlah, bila harga diri seseorang tertanam kuat dalam jiwanya.  Ia tidak menjadi gentar atau rendah diri walaupun penampilannya serba  pas-pasan, sedangkan lawan bicaranya lengkap dengan berbagai aksesoris  yang menyilaukan mata.</p>
<p>Saudaraku! Anda bisa bayangkan, andai Anda dengan perlengkapan yang  ditugaskan untuk menemui panglima perang Persia dengan perlengkapan yang  demikian itu, kira-kira bagaimana perasaan dan sikap Anda?</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ. رواه مسلم</p>
<p>“<em>Bisa saja seseorang berpenampilan kumuh, selalu diusir orang  karena dianggap remeh, akan tetapi bila ia bersumpah memohon kepada  Allah, maka Allah pasti memenuhi permohonannya.</em>” (Hadits riwayat Muslim).</p>
<p>Sebaliknya! Walaupun berbagai aksesoris yang berkilau, indah nan  mahal harganya telah melekat pada diri Anda, akan tetapi Anda jauh dari  Allah, bergelimang dalam kemaksiatan, maka kehinaan akan melekat selalu  di kening Anda.</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّهُم ـ يعني أَهْلَ المَعَاصِي وَالذُّنُوبِ ـ وَإِنْ هَمْلَجَتْ  بِهِمُ البَرَاذِيْنُ وَطَقْطَقَتْ بِهِمُ البِغَالُ ، إنَّ ذُلَّ  المَعْصِيَةِ لَفِي قُلُوبِهِمْ، أَبَى اللهُ إِلاَّ أَنْ يُذِلَّ مَنْ  عَصَاهُ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, mereka –para pelaku kemaksiatan dan dosa- walaupun  menunggangi kuda yang gagah, dibuat melenggak-lenggok oleh keledai yang  mereka tunggangi, akan tetapi kehinaan akibat amal kemaksiatan  senantiasa melekat di hatinya. Allah tidak akan menimpakan kepada orang  yang bermaksiat kepanya-Nya kecuali kehinaan.</em>“</p>
<p><strong>Haramkah Anda Berpakaian Bagus?</strong></p>
<p>Saudaraku! Mungkin Anda bertanya: bila demikian, apa itu artinya umat  Islam harus berpenampilan kumuh, kusut, tidak rapi dan meninggalkan  segala keindahan dunia?</p>
<p>Tidak demikian saudaraku! Besarkan hati Anda, tidak perlu kawatir,  anda tetap dibenarkan untuk mencicipi berbagai keindahan dunia. Dan  bahkan sebaliknya, berbanggalah menjadi umat Islam, karena Allah <em>Ta’ala</em> menciptakan segala isi dunia tiada lain kecuali untuk kepentingan Anda.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً</p>
<p>“<em>Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.</em>” (QS. Al-Baqarah: 29). Pada ayat lain Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ  وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي  الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ  الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ</p>
<p>“<em>Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang  telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang  mengharamkan) rezeki yang baik.’ Katakanlah, ‘Semuanya itu (disediakan)  bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk  mereka saja) di hari Kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu  bagi orang-orang yang mengetahui</em>.” (QS. Al-A’raf : 32).</p>
<p>Pada suatu hari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ  كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ  حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ  الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ. رواه مسلم</p>
<p>“<em>Tidak masuk Surga orang yang di hatinya terdapat sebesar debu  dari kesombongan.” Spontan salah seorang sahabat Nabi terkejut dan  bertanya, “Sesungguhnya ada orang yang suka bila berpakaian bagus, dan  mengenakan sendal yang bagus pula.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam menanggapi pertanyan ini dengan bersabda, “Sesungguhnya Allah  Mahaindah, mencintai keindahan. Kesombong adalah menolak kebenaran dan  meremehkan orang lain.</em>” (Hadits riwayat Muslim).</p>
<p>Pendek kata: Harga diri Anda hanya ada di dalam jiwa Anda. Bila Anda  berjiwa besar karena dekat dengan Allah Yang Mahabesar dan Agung, sumber  segala kebesaran, maka tanpa aksesoris yang macam-macampun Anda tetap  percaya diri. Sebaliknya, bila jiwa Anda kerdil karena jauh dari Allah  Yang Mahabesar dan Agung, maka apapun aksesoris yang Anda sematkan pada  diri Anda, maka tidak akan dapat mengangkat derajat Anda. Percayalah  saudaraku!</p>
<p>Di antara aplikasi nyata keyakinan ini Anda akan selalau membeli  segala kebutuhan Anda tepat guna dengan harga yang tepat pula dan tidak  pernah membeli produk hanya karena pertimbangan mereknya.</p>
<p>Sebagaimana Anda tidak menjadi latah dengan tren yang sedang  berkembang di masyarakat. Anda tetap percaya diri walaupun aksesoris  yang Anda kenakan telah <em>expire date,</em> karena Anda percaya bahwa harga diri Anda terletak pada iman dan takwa Anda yang tidak pernah kadaluwarsa.</p>
<p>Akhirnya, saya mohon maaf bila ada kata-kata saya yang kurang  berkenan, semoga Allah Ta’ala melimpahkan kemurahan-Nya kepada kita  semua, sehingga kita menjadi hamba-Nya yang besar karena besarnya iman  yang melekat di dada. <em>Wallahu a’alam bisshawab.</em></p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Baderi, M.A.<br> Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.pengusahamuslim.com</a> dengan penataan bahasa oleh tim redaksi.</p>
 