
<p>Penyusun: Ummu Salamah</p>
<p><em>“Iiiih Kok jadi sensi gitu sih?”<br>
“Lho… Lho masalah kecil saja ditangisi…”<br>
“Uhhh… sakit banget!!!”<br>
“Jangan ganggu aku deh, aku lagi kesel nih!!!”</em></p>
<p>Kira-kira komentar seperti itulah yang keluar saat ‘tamu bulanan’ kita datang, atau biasa kita sebut <strong>menstruasi</strong>.  Bagaimana fisiologi terjadinya dan pengaruhnya pada emosi kita? Apa  saja yang bisa dipersiapkan untuk menyambut ‘tamu’ spesial kita yang  satu ini?</p>
<p><!--more--> <strong>Menstruasi</strong></p>
<p>Menstruasi adalah proses meluruhnya dinding <em>endometrium uterus</em> karena terjadinya penurunan drastis <em>hormon progesteron</em> secara tiba-tiba.</p>
<p><strong>Fisiologi Siklus Menstruasi</strong></p>
<p>Panjang siklus bervariasi dari 23 hari atau kurang untuk siklus  pendek dan lebih dari 35 hari untuk siklus yang panjang. Ada sejumlah  perempuan yang siklusnya teratur, sementara ada pula yang bervariasi  sampai dengan 7 hari. Untuk lebih memudahkan pemahaman, pada tulisan  ini kita gunakan rata-rata siklus 28 hari.</p>
<p>Siklus menstruasi di bawah kontrol hormon seks. Untuk memudahkan, siklus ini dibagi dalam 2 fase, yaitu fase sebelum ovulasi dan fase setelah ovulasi.</p>
<blockquote><p><em>Ukhtiy Harus Tahu!<br>
Siklus Menstruasi itu berbeda dengan<br>
Masa menstruasi</em></p></blockquote>
<p>1. Fase sebelum ovulasi – dikontrol oleh FSH dan esterogen.</p>
<p>Kelenjar <em>pituitari</em> pada dasar otak akan mengeluarkan FSH yang akan merangsang pematangan <em>folikel</em> di <em>ovarium</em> (indung telur). Pematangan <em>folikel</em> ini akan meningkatkan produksi <em>esterogen</em>.</p>
<p>Pada saat kenaikan esterogen mendekati ovulasi, terjadi perubahan – perubahan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>
<em>Endometrium</em> (selaput lendir rahim) menebal.</li>
<li>
<em>Serviks</em> menjadi panjang dan lunak serta terbuka.</li>
<li>Lendir <em>serviks</em> yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar pada <em>serviks</em> menjadi lendir yang bersahabat dengan sperma.</li>
<li>Peningkatan garam, gula, dan asam amino untuk memberikan makanan pada sperma.</li>
<li>Peningkatan cairan sampai dengan 10 kali peningkatan volume lendir.</li>
<li>Lendir yang subur terdiri dari 98% air – transparan, berkilat, licin, elastis yang disebut <em>efek spinnbarkeit</em>.</li>
<li>Struktur lendir yang subur bila dilihat dengan menggunakan <em>nuclear magnetic resonance</em> memperlihatkan jaringan yang jarang sehingga dapat dilewati oleh sperma.</li>
<li>Suhu menetap pada tingkat yang rendah.</li>
</ul>
<p>Ketika esterogen mencapai tingkat tertentu dalam darah, kelenjar <em>pituitari distimulasi</em> untuk menghasilkan LH yang meningkat cepat yang kemudian akan menimbulkan <em>ovulasi</em> (pecahnya <em>folikel</em> yang matang dan mengeluarkan <em>ovum</em>) dalam 36 jam kemudian.</p>
<p>2. Fase setelah ovulasi – dikontrol oleh progesteron.</p>
<p>Setelah ovulasi, LH menyebabkan pecahnya <em>folikel</em> yang kemudian <em>folikel</em> tersebut akan berkembang menjadi <em>korpus luteum</em>, yang memproduksi <em>progesteron</em>.</p>
<p>Di bawah pengaruh <em>progesteron</em> terjadi perubahan-perubahan:</p>
<ul>
<li>
<em>Endometrium</em> melunak guna mempersiapkan diri untuk menerima <em>implantasi</em> (penempelan) telur yang telah dibuahi.</li>
<li>
<em>Serviks</em> memendek, keras, dan tertutup.</li>
<li>Lendir <em>serviks</em> menjadi tidak bersahabat untuk mencegah penetrasi sperma.</li>
<li>Setelah ovulasi terdapat perubahan status kesuburan – jaringan  filamen-filamen menjadi lebih padat membentuk lendir yang tebal yang  mencegah penetrasi sperma. Sperma secara cepat akan dirusak oleh cairan  vagina yang bersifat asam.</li>
<li>Suhu akan meningkat sekitar 0,2˚C atau lebih.</li>
</ul>
<p><em>Korpus luteum</em> akan bertahan sekitar 14 hari, kemudian akan kisut dan mati; <em>progesteron</em> akan turun; suhu turun; dan <em>endometrium</em> akan mengalami <em>disintegrasi</em> sehingga terjadilah menstruasi dan lengkaplah satu siklus.</p>
<p><strong>Ovulasi</strong></p>
<p><strong>Ovulasi</strong> hanya terjadi satu hari saja dalam satu  siklus dan bila tidak terjadi kehamilan, 2 minggu kemudian diikuti oleh  masa menstruasi. Biasanya jangka waktu antara <em>ovulasi</em> dan  menstruasi berikutnya tidaklah berbeda jauh. Lamanya siklus menstruasi  bergantung pada variasi waktu sejak awal siklus sampai <em>ovulasi</em>. Terjadinya  ovulasi menentukan lamanya siklus.</p>
<p>Lamanya waktu sejak awal menstruasi sampai <em>ovulasi</em> bisa bermacam-macam. <em>Ovulasi</em> seringkali tertunda pada saat-saat seseorang mengalami stres, masa menyusui dan masa <em>pra menopause</em>.</p>
<p>Pada satu hari ovulasi dalam suatu siklus, satu atau dua sel telur  siap untuk dibuahi. Hidup sel telur tidak lebih dari 24 jam, sedangkan  masa hidup sel sperma berbeda-beda. Bila tidak ada lendir yang  menunjang kelangsungan hidupnya, sel sperma tidak bisa bertahan hidup  lebih dari satu jam atau sekitar itu. Namun dengan adanya lendir <em>cervix</em> yang baik, sel sperma bisa bertahan hidup sampai 2 atau 3 hari, bahkan kadang bisa sampai 4 atau 5 hari lamanya.</p>
<p><strong>PMS (Pra Menstruasi Sindrom)</strong></p>
<p>Menstruasi biasanya identik dengan PMS, setiap wanita mengalami  keluhan menjelang menstruasi. Sekitar 85% wanita mengalami gangguan  fisik dan emosi menjelang masa ini.</p>
<p>Gejala yang paling mudah dilihat dari sindrom pra menstruasi ini  adalah mudah marah, depresi, lelah dan tubuh agak membengkak. Selain  itu, biasanya juga terjadi penumpukan cairan dengan payudara yang agak  membengkak, ukuran panggul bertambah besar, wajah terlihat sembab,  sakit kepala, dan nyeri di bagian perut. Perubahan-perubahan mood,  seperti mudah marah, meledak-ledak, dan sering menangis juga kerap  menandai munculnya <em>premenstrual syndrome</em> (PMS) ini.</p>
<p>Yang lebih gawat adalah PMS pun dapat menimbulkan depresi, terkadang  sampai memunculkan perasaan ingin bunuh diri, dan bahkan keinginan  melakukan kekerasan kepada diri sendiri ataupun ke orang lain.</p>
<p>Sayangnya, hingga kini penyebab pasti timbulnya PMS belum diketahui.  Namun, gejala-gejala PMS tadi diperkirakan berhubungan dengan  meningkatnya hormon-hormon wanita seperti yang telah dijelaskan di awal  –<em>estrogen</em> dan <em>progesterone</em>– dalam hari-hari menjelang  menstruasi. Nah, ketika gejala-gejala tersebut makin hebat dan  menganggu aktivitas sehari-hari pada setiap bulannya, ada baiknya  Ukhtiy berkonsultasi ke dokter.</p>
<p>Inilah beberapa fakta seputar PMS, termasuk bagaimana cara meringankannya:</p>
<p><strong>1. Telat datang bulan, hal biasa.</strong><br>
Kejadian ini berhubungan dengan tingkat stres yang dialami sehingga  kerja hormon terhambat dan menyebabkan silklus menstruasi pun  terganggu. Maka dari itu, perhatikan jadwal kuliah/kegiatan Ukhtiy,  apakah saat ini Ukhtiy dikejar tenggat waktu soal kuliah, tugas, atau  amanah lain. Bila saja Ukhtiy perhatikan, adanya stres ini dapat  membuat menstruasi Uktiy terlambat.</p>
<p><strong>2. Tidak sebanyak yang Ukhtiy pikirkan.</strong><br>
Ukhtiy tidak perlu takut kehilangan jumlah darah terlalu banyak. Secara  rata-rata, setiap bulannya seorang wanita hanya kehilangan sekitar 3  ons darah.</p>
<p><strong>3. Lama atau sebentar itu normal.</strong><br>
Kebanyakan wanita akan mengeluarkan darah sekitar dua hari sampai tujuh  hari. Bila menstruasi Anda lebih dari delapan hari, itu belum tergolong  masalah besar.</p>
<p><strong>4. PMS yang bukan PMS.</strong><br>
Wanita yang mengalami sakit hebat saat menstruasi itu melebihi gejala umum sangat mungkin terkena <em>premenstrual dysphoric disorder</em> (PMDD). Wanita yang menderita PMDD juga memiliki gejala-gejala sama  layaknya PMS, seperti sakit kepala, nyeri sendi dan otot, tubuh dan  payudara membengkak. Gejala-gejala yang secara umum terjadi, akan  menghilang saat berlangsungnya menstruasi.</p>
<p>Apa yang dapat Ukhtiy lakukan?</p>
<p>Untuk mengurangi beberapa kondisi yang tidak nyaman menjelang PMS, coba lakukan beberapa hal di bawah ini:</p>
<ol>
<li>Buatlah semacam diary atau jurnal yang mencatat kapan gejala-gejala  itu muncul. Dengan demikian, Ukhtiy mempunyai patokan waktu yang tepat  untuk mengatasinya.</li>
<li>Agar sehat, makanlah sedikit tetapi sering. Jika Ukhtiy menderita  konstipasi, konsumsilah bahan makanan yang mengandung banyak serat.</li>
<li>Saat sedang minum obat <em>diuretik</em>, biasanya Ukhtiy akan  lebih sering buang air kecil yang memungkinkan mineral penting ikut  terbuang. Karena itu, tambah makanan yang mengandung <em>potassium</em> (buah, makanan laut, kacang-kacangan), juga makanan, minuman ekstra atau suplemen yang mengandung vitamin B dan C.</li>
<li>Untuk mengurangi terjadinya penumpukan cairan, sebisa mungkin  kurangi garam dalam makanan Ukhtiy. Garam bisa menyerap air dan hal ini  dapat meningkatkan pembengkakan.</li>
<li>Perbanyak waktu istirahat untuk menghindari kelelahan. Selain itu cobalah menghindari situasi yang bisa membuat Ukhtiy stres.</li>
<li>Coba bicarakan perasaan Ukhtiy kepada sahabat yang dapat dipercaya  dan dapat mendengarkan keluhan Ukhtiy. Pastikan pula keluarga tahu  mengenai kondisi Ukhtiy.</li>
<li>Cobalah minum beberapa ramuan tumbuhan tertentu yang telah terbukti  membantu meningkatkan kesehatan wanita, misalnya kunyit asam, dan  lain-lain.</li>
</ol>
<p>Alhamdulillah, mudah-mudahan setelah tahu seluk-beluknya kita bisa  menyambut ‘tamu’ kita yang satu ini dengan penuh senyum dan kehangatan.  Ditunggu ya kabar baiknya mulai bulan depan…</p>
<p><strong>Maroji’:</strong> www.medicastore.com</p>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 