
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak menjalin (menganyam) jari-jemari </span><i><span style="font-weight: 400;">(tasybik) </span></i><span style="font-weight: 400;">termasuk adab yang ditegaskan oleh para ulama ketika seseorang pergi menuju masjid</span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Dalil-dalil yang melarang </b><b><i>tasybik</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak menjalin (menganyam) jari-jemari </span><i><span style="font-weight: 400;">(tasybik) </span></i><span style="font-weight: 400;">termasuk adab yang ditegaskan oleh para ulama ketika seseorang pergi menuju masjid. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إذا توضأ أحدكم في بيته ثم أتى المسجد كان في صلاة حتى يرجع فلا يفعل هكذا وشبك بين أصابعه</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu di rumah, kemudian berangkat ke masjid, maka dia dalam kondisi shalat sampai dia kembali (lagi ke rumah). Maka janganlah melakukan hal ini.” Dia pun menjalin jari-jemarinya </span><i><span style="font-weight: 400;">(tasybik)</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span><b>(HR. Ad-Darimi, 1: 267; Al-Hakim, 1: 206; shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلَاةِ فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا وَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ يَعْمِدُ إِلَى الصَّلَاةِ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika iqamat shalat telah dikumandangkan, maka janganlah kalian datang sambil berlari, namun datanglah dengan tenang. Apa yang kalian dapatkan dari (imam) shalat, maka ikutilah, dan apa yang tertinggal, maka sempurnakanlah. Sebab bila salah seorang di antara kalian pergi untuk mendirikan shalat, maka dia dinilai sedang shalat.” </span><b>(HR. Muslim no. 602)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits-hadits tersebut menunjukkan terlarangnya melakukan tasybik ketika berjalan menuju masjid dan juga ketika di masjid menunggu didirikannya shalat. Karena orang yang sedang berjalan menuju masjid dan menunggu didirikannya shalat, statusnya sama seperti orang yang sedang shalat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Larangan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik </span></i><span style="font-weight: 400;">juga ditegaskan dalam beberapa hadits berikut ini.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>حَدَّثَنِي أَبُو ثُمَامَةَ الْحَنَّاطُ، أَنَّ كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ، أَدْرَكَهُ وَهُوَ يُرِيدُ الْمَسْجِدَ أَدْرَكَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، قَالَ: فَوَجَدَنِي وَأَنَا مُشَبِّكٌ بِيَدَيَّ، فَنَهَانِي عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ، ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَلَا يُشَبِّكَنَّ يَدَيْهِ فَإِنَّهُ فِي صَلَاةٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Tsumamah Al-Hannath, bahwasanya Ka’ab bin ‘Ujrah pernah menjumpainya hendak pergi ke masjid, salah satunya bertemu dengan temannya. Kata Abu Tsumamah, Ka’ab mendapatiku sedang </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka dia melarangku berbuat demikian. Dan dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu, lalu dia membaguskan wudhunya, kemudian pergi menuju masjid, maka janganlah dia melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik</span></i><span style="font-weight: 400;">. Karena dia dianggap sedang shalat.” </span><b>(HR. Abu dawud no. 562, At-Tirmidzi no. 386, shahih)</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>سَأَلْتُ نَافِعًا، عَنِ الرَّجُلِ يُصَلِّي، وَهُوَ مُشَبِّكٌ يَدَيْهِ، قَالَ: قَالَ ابْنُ عُمَرَ: تِلْكَ صَلَاةُ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Isma’il bin Umayyah, “Aku bertanya kepada Nafi’ tentang orang yang shalat dengan melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik</span></i><span style="font-weight: 400;">.” Nafi’ menjawab, “Ibnu ‘Umar pernah berkata bahwa itu adalah shalatnya orang yang dimurkai (yaitu orang Yahudi, pent.).” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 993, shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Khaththabi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah memasukkan (menganyam) sebagian jari-jemari ke sebagian jari-jemari yang lain. Sebagian orang melakukannya secara sia-sia saja. Sebagian orang terkadang membunyikan (ruas) jari-jemarinya ketika Engkau menjumpai mereka sedang berbaring atau terlentang. Terkadang seseorang duduk, kemudian melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan bersandar dengan kedua tangannya, karena ingin duduk santai. Dan terkadang hal itu menyebabkan datangnya rasa kantuk, sehingga menjadi sebab batalnya wudhunya.” </span><b>(</b><b><i>Ma’aalim As-Sunan, </i></b><b>1: 295)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/54009-kapankah-seseorang-dikatakan-mendapati-shalat-jamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Kapankah Seseorang Dikatakan Mendapati Shalat Jama’ah?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kapan diperbolehkan melakukan </b><b><i>tasybik</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">tentang kisah sahabat Dzul Yadain berkaitan tentang sujud sahwi (ketika itu Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">lupa ketika shalat isya’ karena setelah mendapatkan dua raka’at, beliau lansgung salam). Di dalam hadits tersebut terdapat lafadz,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ إِلَى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَاتَّكَأَ عَلَيْهَا كَأَنَّه غَضْبَانُ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Beliau shalat bersama kami dua rakaat kemudian salam. Kemudian beliau mendatangi tiang yang tertancap di masjid. Beliau lalu bersandar pada kayu tersebut seolah-olah sedang marah dengan meletakkan lengan kanannya di atas lengan kirinya, serta melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik</span></i><span style="font-weight: 400;"> … “ </span><b>(HR. Bukhari no. 482 dan Muslim no. 573)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Bukhari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">meletakkan hadits ini di kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih-</span></i><span style="font-weight: 400;">nya di bawah judul bab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>بَابُ تَشْبِيكِ الأَصَابِعِ فِي المَسْجِدِ وَغَيْرِهِ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Bab men-tasybik jari-jemari di dalam masjid dan selain masjid.” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Jama’ah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, “Mungkin maksudnya adalah boleh secara mutlak. Hal ini karena jika boleh dikerjakan di masjid, maka di selain masjid tentu saja lebih-lebih lagi bolehnya.” </span><b>(</b><b><i>Taraajim Al-Bukhari, </i></b><b>hal. 129)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan bisa jadi maksud dari Imam Al-Bukhari adalah menyanggah orang yang berpendapat terlarangnya men-</span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik </span></i><span style="font-weight: 400;">jari-jemari dan menjelaskan bahwa larangan dalam masalah itu tidak didukung oleh hadits yang valid. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama berkata bawa tidak ada pertentangan antara hadits-hadits yang melarang </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan hadits yang membolehkan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik. </span></i><span style="font-weight: 400;">Hal ini karena </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut terjadi setelah beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menganggap shalatnya telah selesai (karena ketika itu, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">lupa), maka statusnya sama dengan orang yang benar-benar telah selesai shalat. Adapun hadits khusus yang berisi larangan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik </span></i><span style="font-weight: 400;">berkaitan dengan orang yang sedang mendirikan shalat, karena hal itu termasuk perbuatan sia-sia dan tidak mendukung kekhusyu’an dalam shalat. Atau larangan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut berkaitan dengan orang yang sedang pergi menuju masjid. Karena jika hati itu khusyu’ ketika shalat, maka akan tercermin dalam khusyu’-nya anggota badan secara keseluruhan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bolehnya </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik</span></i><span style="font-weight: 400;"> selesai shalat juga ditunjukkan oleh hadits yang lain. Dari Abu Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” Kemudian beliau melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybik</span></i><span style="font-weight: 400;">.” </span><b>(HR. Bukhari no. 481)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang perlu diperhatikan, sebagian orang shalat juga berbuat sia-sia dengan menekuk atau melipat ruas-ruas jarinya sehingga menimbulkan bunyi (suara). Ini juga perbuatan sia-sia yang seharusnya ditinggalkan, sebagaimana perkataan Al-Khaththabi di atas. Karena sekali lagi, jika hati itu khusyu’, maka akan tercermin dalam khusyu’-nya seluruh anggota badan yang lain.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="post-title"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/53382-jika-suci-dari-haid-di-waktu-ashar-apakah-juga-harus-shalat-dzuhur.html" data-darkreader-inline-color="">Jika Suci dari Haid di Waktu Ashar, Apakah juga Harus Shalat Dzuhur?</a></strong></span></li>
<li id="footer" class="footer-wrapper">
<div class="footer-widget dark-bg-widget">
<div class="inner">
<div class="widget-wrapper">
<div class="widget-item widget-1 widget-2-first widget-3-first ">
<div id="text-17" class="widget widget_text clearfix">
<div class="special-title">
<div class="post-title"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/53170-memakai-siwak-dan-minyak-wangi-untuk-shalat-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Memakai Siwak dan Minyak Wangi untuk Shalat Jum’at</a></strong></span></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</li>
</ul>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<ul>
<li><b>***</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Kasongan, 27 Jumadil awwal 1441/ 21 Januari 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Pembahasan ini kami sarikan dari kitab </span><b><i>Ahkaam Khudhuuril Masaajid</i></b> <span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 70-71 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA), dengan beberapa penambahan dari penulis.</span></p>
 