
<p>Tidak sedikit jamaah shalat Jumat yang duduknya dalam keadaan memeluk lutut. Bahkan saking enaknya duduk seperti sampai tertidur. Padahal ada larangan dalam hadits mengenai duduk seperti itu dalam khutbah Jumat.</p>
<p>Hadits yang dimaksud adalah dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya (Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah</em>.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>hasan</em>).</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah </em>dalam <em>Riyadhus Shalihin</em> membawakan hadits di atas dengan menyatakan dalam judul bab,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">كَرَاهَةُ الاِحْتِبَاءِ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ لِأَنَّهُ يَجْلِبُ النَّوْم فَيَفُوْت اِسْتِمَاع الخُطْبَة وَيَخَافُ اِنْتِقَاض الوُضُوْء</p>
<p>“Dimakruhkan memeluk lutut pada hari Jumat saat khatib berkhutbah karena dapat menyebabkan tertidur sehingga terluput dari mendengarkan khutbah dan khawatir pula seperti itu dapat membatalkan wudhu.”</p>
<p>Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khattabi yang menyatakan sebab dilarang duduk <em>ihtiba’</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">نُهِيَ عَنْهَا لِاَنَّهاَ تَجْلِبُ النَّوْم فَتَعْرِض طَهَارَتُه لِلنَّقْضِ وَيَمْنَعُ مِنَ اسْتِمَاعِ الخُطْبَةِ</p>
<p>“Duduk dengan memeluk lutut itu dilarang (saat mendengar khutbah Jumat) karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah yang dapat membatalkan wudhu, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (<em>Al Majmu’</em>, 4: 592). Baca artikel: <a href="https://rumaysho.com/shalat/hukum-tidur-di-tengah-khutbah-jumat-9145.html" target="_blank">Hukum Tidur pada Khutbah Jumat</a></p>
<p>Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em>, duduk ihtiba’ adalah duduk dengan mendekatkan paha pada perut dan betis didekatkan pada paha tadi, lalu diikat dengan tali, imamah atau cara lainnya. Lihat <em>Syarh Riyadhus Sholihin</em>, 6: 449.</p>
<p>Intinya, yang dilakukan adalah duduk yang sifatnya makruh atau terlarang. Kita biasa melihat pada sebagian jama’ah shalat Jumat seperti contoh duduk di bawah ini.</p>
<p><a href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/05/duduk_ihtiba_memeluk_lutut.png"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-11153" src="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/05/duduk_ihtiba_memeluk_lutut-315x178.png" alt="duduk_ihtiba_memeluk_lutut" width="315" height="178" srcset="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/05/duduk_ihtiba_memeluk_lutut-315x178.png 315w, https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/05/duduk_ihtiba_memeluk_lutut-730x411.png 730w, https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/05/duduk_ihtiba_memeluk_lutut.png 800w" sizes="(max-width: 315px) 100vw, 315px"></a></p>
<p>Duduk ihtiba’ (memeluk lutut) yang terlarang dalam Khutbah Jumat</p>
<figure id="attachment_11154" aria-describedby="caption-attachment-11154" style="width: 315px" class="wp-caption alignnone"><a href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/05/duduk_ihtiba_memeluk_lutut_2.png"><img loading="lazy" class="wp-image-11154 size-medium" src="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/05/duduk_ihtiba_memeluk_lutut_2-315x178.png" alt="duduk_ihtiba_memeluk_lutut_2" width="315" height="178" srcset="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/05/duduk_ihtiba_memeluk_lutut_2-315x178.png 315w, https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/05/duduk_ihtiba_memeluk_lutut_2-730x411.png 730w, https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/05/duduk_ihtiba_memeluk_lutut_2.png 800w" sizes="(max-width: 315px) 100vw, 315px"></a><figcaption id="caption-attachment-11154" class="wp-caption-text">Duduk yang dibolehkan saat mendengar Khutbah Jumat</figcaption></figure>
<p>Hanya Allah yang memberi taufik. Silakan SHARE pada kaum muslimin yang lain yang belum memahami larangan ini.</p>
<p>—</p>
<p>Disusun di Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di <a href="http://darushsholihin.com/">Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul</a></p>
<p>Penulis: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
<p>Ikuti update artikel Rumaysho.Com di <a href="https://www.facebook.com/rumaysho" target="_blank">Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans)</a>, <a href="https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal" target="_blank">Facebook Muhammad Abduh Tuasikal</a>, <a href="https://twitter.com/RumayshoCom" target="_blank">Twitter @RumayshoCom</a>, <a href="https://instagram.com/rumayshocom" target="_blank">Instagram RumayshoCom</a></p>
<p>Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab.</p>
 