
<h2 style="text-align: center;"><em><strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baz</strong></em></h2>
<p><span lang="en-GB">Tak diragukan lagi bahwa kalimat </span><span lang="en-GB"><i>laa ilaaha illallah</i></span><span lang="en-GB"> merupakan pondasi agama Islam. Kalimat ini pula, bersama dengan kalimat syadahat </span><span lang="en-GB"><i>muhammadur rasulullah</i></span><span lang="en-GB">, merupakan rukun yang pertama dari kelima rukun Islam. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits yang shahih bahwa Nabi Muhammad </span><span lang="en-GB"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-GB">bersabda:</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Droid Arabic Naskh';">ب</span><span style="font-family: 'Droid Arabic Naskh';">ني الإسلام على خمس</span></span><span style="font-family: 'Droid Arabic Naskh', serif;">: </span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Droid Arabic Naskh';">شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Islam dibangun di atas lima perkara: (1) Syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; (2) Menegakkan shalat; (3) Menunaikan zakat; (4) Puasa di bulan Ramadhan; dan (5) Berhaji ke Baitullah.</i></span><span lang="en-GB">” (HR. Al-Bukhari no.8 dan Muslim no. 16).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Dalam kitab </span><span lang="en-GB"><i>Shahihain,</i></span><span lang="en-GB"> disebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas </span><span lang="en-GB"><i>radhiyallahu ‘anhu</i></span><span lang="en-GB">, bahwa ketika Rasulullah </span><span lang="en-GB"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span lang="en-GB"> mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu berdakwah ke Yaman, beliau mewasiatkan,</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Droid Arabic Naskh';">إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فادعهم إلى أن يشهدوا أن لا إله إلا الله وأني رسول الله، فإن أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في اليوم والليلة، فإن أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد في فقرائهم</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Sesungguhnya engkau akan menghadapi kaum Ahli Kitab maka ajaklah mereka untuk bersyahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa diriku adalah utusan Allah. Jika mereka mematuhimu dalam hal tersebut, beritahu mereka kemudian bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk shalat lima kali sehari semalam. Jika mereka pun patuh untuk itu, ajari pula mereka bahwa Allah mewajibkan mereka menunaikan zakat yang ditarik dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan pada para fakir miskin dari kalangan mereka.” </i></span><span lang="en-GB">(HR. Al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Hadits-hadits dalam masalah ini pun banyak sekali.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Makna syahadat </span><span lang="en-GB"><i>laa ilaaha illallaah</i></span><span lang="en-GB"> adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Kalimat ini menihilkan hak peribadahan yang sejati dari selain Allah dan menetapkannya hanya untuk Allah semata sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hajj:</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”</i></span><span lang="en-GB"> (QS. Al-Hajj: 62)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Dan firman Allah dalam surat Al-Mu’minun:</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” </i></span><span lang="en-GB">(QS. Al-Mu’minun: 117)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Firman pula Allah dalam surat Al-Baqarah:</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Dan Tuhanmu ialah Tuhan Yang Mahaesa, tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Allah juga berfirman dalam surat Al-Bayyinah:</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas memurnikan ketaatan kepadaNya semata dalam menjalankan agama yang lurus.”</i></span><span lang="en-GB"> (QS. Al-Bayyinah: 5)</span></p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/27745-kesalahan-memahami-makna-laa-ilaaha-ilallah.html" target="_blank" rel="noopener">Kesalahan Memahami Makna Laa Ilaaha Ilallah</a></strong></em></p>
</blockquote>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Ayat-ayat lain yang semakna sangat banyak terdapat dalam Al-Qur’an.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Kalimat yang agung ini tidak akan bermanfaat bagi si pengucapnya dan tidak akan mengeluarkan si pengucapnya dari wilayah kesyirikan jika ia tidak memahami maknanya, tidak mengamalkannya, dan tidak membenarkannya. Orang-orang munafik pun mengucapkannya, namun mereka kelak tetap akan menjadi penghuni neraka yang paling bawah karena tidak mengimaninya dan tidak mengamalkannya. Demikian pula orang-orang Yahudi, mereka mengucapkan kalimat ini namun mereka tetaplah sekafir-kafirnya manusia sebab tiada mereka beriman pada kalimat ini. Begitu pula para penyembah kuburan dan penyembah orang-orang shalih, yang mereka ini merupakan orang-orang kafir, mereka mengucapkan kalimat ini namun perkataan, perbuatan, dan akidah mereka menyelisihi kalimat ini. Maka kalimat ini tidak bermanfaat sedikit pun bagi mereka dan tidaklah mereka teranggap sebagai kaum muslimin dengan semata telah mengucapkannya karena mereka sendiri membatalkan kalimat tauhid ini dengan perkataan, perbuatan, dan akidah mereka.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Sebagian ulama menghimpun syarat-syarat kalimat tauhid ini dalam dua bait syair:</span></p>
<p style="text-align: center;" align="JUSTIFY"></p>
<div class="su-note" style="border-color:#c4d4e5;border-radius:3px;-moz-border-radius:3px;-webkit-border-radius:3px;"><div class="su-note-inner su-u-clearfix su-u-trim" style="background-color:#deeeff;border-color:#ffffff;color:#333333;border-radius:3px;-moz-border-radius:3px;-webkit-border-radius:3px;">
<p dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Droid Arabic Naskh';">علم يقين وإخلاص وصدقك مع محبة وانقياد والقبول لها</span></span></p>
<p dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Droid Arabic Naskh';">وزيد ثامنها الكفران منك بما سوى الإله من الأشياء قد أُلها</span></span></p>
<p align="CENTER">“<span lang="en-GB"><i>Ilmu, yakin, ikhlas, dan jujurmu bersama cinta, patuh, dan penerimaanmu padanya</i></span></p>
<p align="CENTER"><span lang="en-GB"><i>Tambah yang ke delapan, ingkarmu pada semua yang disembah selain Dia”</i></span></p>
</div></div>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Dua bait ini mengumpulkan semua syarat kalimat tauhid:</span></p>
<ol>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Ilmu sebagai lawan dari tidak tahu. Di atas telah disebutkan bahwa makna kalimat ini ialah tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka semua hal yang disembah manusia selain Allah adalah sesembahan yang batil.</span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Yakin sebagai lawan dari ragu-ragu. Haruslah dari sisi si pengucap muncul rasa yakin bahwa Allah </span><span lang="en-GB"><i>subhanahu wa ta’ala</i></span><span lang="en-GB"> adalah sebenar-benarnya Dzat yang berhak disembah. </span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Ikhlas, yaitu dengan seorang hamba memurnikan semua ibadahnya hanya kepada Tuhannya, Allah </span><span lang="en-GB"><i>subhanahu wa ta’ala</i></span><span lang="en-GB">. Jika satu ibadah saja ia tujukan kepada selain Allah, baik kepada nabi, wali, raja, berhala, maupun jin dan selainnya maka ia telah menyekutukan Allah </span><span lang="en-GB"><i>subhanahu wa ta’ala</i></span><span lang="en-GB"> dan membatalkan syarat ikhlas ini.</span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Jujur. Maknanya ialah orang yang mengucapkan kalimat syahadat haruslah mengucapkannya tulus dari dalam hatinya, hatinya sesuai dengan lisannya dan lisannya sesuai dengan hatinya. Jika ia mengucapkan dengan lisan saja sedangkan hatinya tidak mengimani maknanya maka kalimat ini tidak bermanfaat baginya dan dengan demikian ia tetap berstatus kafir seperti seluruh orang munafik.</span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Cinta. Maknanya ia harus mencintai Allah </span><span lang="en-GB"><i>‘azza wa jalla</i></span><span lang="en-GB">. Jika ia mengucapkan kalimat ini namun tidak mencintai Allah, ia tetap menjadi kafir, tidak masuk ke dalam Islam sebagaimana orang-orang munafik. Dalilnya ialah firman Allah:<br>
</span></p>
<p style="text-align: center;">قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ</p>
<p>“<span lang="en-GB"><i>Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.’” </i></span><span lang="en-GB">(QS. Ali Imran: 31).</span></p>
<p>Dan firmanNya:</p>
<p style="text-align: center;">وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ</p>
<p>“<span lang="en-GB"><i>Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mereka mencintai Allah.” </i></span><span lang="en-GB">(QS. Al-Baqarah: 165).<br>
</span>Ayat-ayat yang lain yang semakna amat banyak dalam Al-Qur’an</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Patuh pada konsekuensi yang dikandung oleh makna kalimat tauhid, yaitu dengan hanya menyembah Allah semata, mematuhi syariatNya, mengimani dan meyakini bahwa syariatNya adalah benar. Jika dia mengucapkan kalimat tauhid namun enggan menyembah Allah semata, tidak mematuhi syariatNya bahkan menyombongkan diri, maka ia tidaklah teranggap sebagai muslim. Ia seperti Iblis dan yang semisal dengannya. </span></p>
</li>
</ol>
<ol start="6">
<li>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Menerima kandungan makna kalimat tauhid, yaitu dengan menerima bahwa ia harus mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk peribadahan kepada selain Dia, dia berkomitmen dan ridha dengan hal demikian.</span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Kufur terhadap semua yang disembah selain Allah. Maknanya, ia harus melepaskan dirinya dari semua bentuk peribadahan kepada selain Allah dan meyakini bahwa peribadahan tersebut batil. Hal ini sebagaimana firman Allah </span><span lang="en-GB"><i>subhanahu wa ta’ala</i></span><span lang="en-GB">:</span></p>
</li>
</ol>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Dan di dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah </span><span lang="en-GB"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-GB">bersabda:</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Droid Arabic Naskh';">من قال لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah dan mengingkari semua yang disembah selain Allah, haramlah harta dan darahnya dan hisabnya tergantung kepada Allah.”</i></span><span lang="en-GB"> (HR. Muslim no. 23)</span></p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/22183-syarat-laa-ilaaha-illallah.html" target="_blank" rel="noopener">Inilah 7 Syarat “Laa ilaaha illallah”</a></strong></em></p>
</blockquote>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Dalam riwayat lain, beliau bersabda:</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Droid Arabic Naskh';">من وحد الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Barangsiapa mentauhidkan Allah dan mengingkari semua yang disembah selain Allah maka haramlah harta dan darahnya.”</i></span><span lang="en-GB"> (HR. Muslim no. 23)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Maka wajiblah atas setiap muslim untuk mewujudkan kalimat tauhid dengan memperhatikan syarat-syaratnya. Siapa saja yang merealisasikan makna kalimat tauhid dan istiqamah di atasnya maka ia adalah seorang muslim yang haram darah dan hartanya. Sekalipun ia tidak mengetahui rincian dari masing-masing syarat. Yang menjadi tujuan pokok ialah seorang mukmin memahami maknanya dengan benar dan mengamalkannya walaupun ia tidak mengetahui rincian masing-masing syarat kalimat tauhid.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Yang dimaksud dengan thaghut ialah segala sesuatu yang disembah selain Allah, sebagaimana firmanNya:</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”</i></span><span lang="en-GB"> (QS. Al-Baqarah: 256)</span><i> </i></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Dan Allah juga berfirman:</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul untuk tiap-tiao umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</i></span><span lang="en-GB"> (QS. An-Nahl: 36)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Barangsiapa yang disembah oleh orang lain namun ia tidak ridha maka dia tidaklah termasuk thaghut, misalnya para nabi, orang-orang shaleh, dan para malaikat. Sejatinya thaghut itu ialah setan yang menyeru manusia untuk menyembah dirinya dan dia jadikan peribadahan pada dirinya itu suatu hal yang indah di mata manusia. Kita memohon pada Allah perlindungan untuk diri kita dan seluruh kaum muslimin dari segala bentuk kejelekan. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Kemudian terdapat perbedaan antara perbuatan yang membatalkan kalimat tauhid </span><span lang="en-GB"><i>laa ilaaha illallah</i></span><span lang="en-GB"> dengan perbuatan yang hanya membatalkan bagian penyempurna iman yang wajib, yaitu bahwa setiap amalan, perkataan, atau keyakinan yang menjerumuskan pelakunya pada syirik akbar itulah yang membatalkan iman secara keseluruhan. Misalnya, berdoa meminta sesuatu kepada orang yang sudah meninggal, malaikat, berhala, pepohonan, bebatuan, bintang-bintang, atau kepada yang lain semisal itu, atau menyembelih dan bernadzar untuk mereka, sujud kepada mereka, dan lain-lain. Maka ini semua membatalkan tauhid secara keseluruhan serta berlawanan dengan kalimat tauhid </span><span lang="en-GB"><i>laa ilaaha illallah </i></span><span lang="en-GB">bahkan menihilkannya.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Contoh yang lain lagi ialah menghalalkan perkara-perkara yang telah Allah haramkan dan diketahui keharamannya secara </span><span lang="en-GB"><i>dharuri</i></span><span lang="en-GB"> dan ijma’, semisal zina, meminum khamr, mendurhakai orang tua, riba, dan lain-lain. Contoh lain ialah menyangsikan perkataan atau perbuatan yang Allah wajibkan yang diketahui secara </span><span lang="en-GB"><i>dharuri</i></span><span lang="en-GB"> atau lewat ijma’ merupakan bagian dari agama, missal shalat wajib yag lima, zakat, puasa Ramadhan, berbakti pada orang tua, mengucapkan dua kalimat syahadat, dan lain-lain. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Adapun perkataan, perbuatan, dan keyakinan-keyakinan yang melemahkan tauhid dan iman dan membatalkan aspek penyempurna wajibnya saja ada banyak sekali, misalnya syirik ashghar semisal riya’ dan bersumpah dengan nama selain Allah, juga perkataan </span><span lang="en-GB"><i>“sesuai kehendak Allah dan kehendak fulan”</i></span><span lang="en-GB">, atau ungkapan </span><span lang="en-GB"><i>“ini dari Allah dan dari si fulan”</i></span><span lang="en-GB">, dan lain-lain. Demikian pula semua maksiat itu melemahkan tauhid dan iman serta menihilkan aspek penyempurna iman yang wajib. Oleh karena itu, wajib mewaspadai semua yang membatalkan tauhid dan iman atau yang mengurangi pahalanya. Dan iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah mencakup ucapan dan perbuatan, bertambah dengan melaksanakan amal ketaatan dan berkurang karena mengerjakan maksiat. Dalilnya banyak sekali dan telah dijelaskan oleh para ulama di kitab-kitab akidah, tafisr, dan hadits. Barangsiapa yag menginginkan dalilnya maka ia akan mendapatkannya, </span><span lang="en-GB"><i>alhamdulillah</i></span><span lang="en-GB">. Di antaranya ialah firman Allah:</span></p>
<p style="text-align: center;" align="JUSTIFY">وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan turunnya surah ini?’ Adapun orang-orang beriman, maka surah ini menambah imannya dan mereka merasa gembira. ”</i></span><span lang="en-GB"> (QS. At-Taubah: 124)</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila nama Allah disebut, gemtarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah imannya dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”</i></span><span lang="en-GB"> (QS. Al-Anfal: 2)</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="en-GB"><i>Dan Allah akan menambah petunjuk kepada merek yang telah mendapat petunjuk” </i></span><span lang="en-GB">(QS. Maryam: 76)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-GB">Dan lagi, ayat-ayat yang semakna dengan ini ada banyak sekali di dalam Al-Qur’an Al-Karim.</span></p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/22267-rincian-hukum-orang-yang-mengucapkan-laa-ilaaha-illallah-sebelum-wafat.html" target="_blank" rel="noopener">Rincian Hukum Orang Yang Mengucapkan “Laa ilaaha illallah” Sebelum Wafat</a></strong></em></p>
</blockquote>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<p align="JUSTIFY">Sumber: <a href="https://binbaz.org.sa/fatawa/154" target="_blank" rel="noopener">binbaz.org.sa</a></p>
<p align="JUSTIFY">Penerjemah: Miftah Hadi Syahputra Al Maidani</p>
<p align="JUSTIFY">Artikel Muslim.or.id</p>
 