
<h3><strong>Benarkah kisah pernikahan Fatimah;</strong></h3>
<p><em>Fatimah yang merupakan putri dari Rasulullah sangat taat kepada Rasulullah. Fatimah juga dikenal sebagai sosok anak yang sangat berbakti kepada orang tua. Ali Bin Abi Thalib terketuk pertama kali saat Fatimah dengan sigap membasuh dan mengobati luka ayahnya, Muhammad SAW yang luka parah karena berperang.</em></p>
<p><em>Sejak saat itu, Ali bertekad untuk melamar putri dari Rasulullah yaitu Fatimah. Ali juga dikenal sebagai sosok yang pemberani dan orang yang sangat dekat dengan Rasulullah. Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, Ali merupakan orang kedua yang percaya akan wahyu itu setelah Khadijah, istri Rasulullah. Namun, Ali merupakan sosok pemuda yang miskin. Hidupnya dihabiskan untuk berdakwah di jalan Allah. Untuk itu, dia bertekad untuk menabung dengan tekun untuk membeli mahar dan melamar Fatimah.</em></p>
<p><em>Belum genap uang Ali untuk membeli mahar, tiba-tiba Ali mendengar bahwa sahabat nabi yaitu Abu Bakar telah melamar Fatimah. Ali pun merasakan kesedihan di hatinya. Namun, Ali pun sadar bahwa saingannya ini mempunya kualitas iman dan islam yang lebih tinggi darinya.</em></p>
<p><em>Kesedihan Ali pun berhenti sejenak karena Fatimah menolak lamaran Abu Bakar.</em></p>
<p><em>Tetapi keceriaan Ali mulai redup kemballi mendengar bahwa Umar Bin Khatab melamar Fatimah. Lagi-lagi, Ali hanya bisa pasrah karena bersaing dengan Umar Bin Khatab yang gagah perkasa. Tetapi, takdir kembali berpihak kepada Ali. Umar Bin Khatab ditolak lamarannya oleh Fatimah.</em></p>
<p><em>Namun saat itu Ali belum berani mengambil sikap, dia sadar bahwa dia hanya pemuda miskin. Bahkan harta yang dia miliki hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Kami tidak pernah menjumpai riwayat yang menyebutkan kisah pernikahan sedetail dan serinci itu. Riwayat yang kami jumpai sebagai berikut,</p>
<p>[1] Dari Buraidah<em> radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">خَطَبَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رضى الله عنهما فَاطِمَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّهَا صَغِيرَةٌ ». فَخَطَبَهَا عَلِىٌّ فَزَوَّجَهَا مِنْهُ</p>
<p>Abu Bakr dan Umar<em> radhiyallahu ‘anhuma</em> pernah melamar Fatimah. Namun Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, ‘Dia masih kecil.’ Kemudian Fatimah dilamar Ali, lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menikahnya dengan Fatimah. (HR. Nasai 3234, Ibn Hibban 6948 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).</p>
<p>[2] Riwayat dialog antara Ali dengan mantan budaknya sebelum menikahi Fatimah</p>
<p>Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Sirah Nabawiyah dan al-Baihaqi dalam ad-Dalail, dari Ali radhiyallahu ‘anhu,</p>
<p>Aku ingin melamar Fatimah. Lalu mantan budakku menyampaikan kepadaku,</p>
<p>“Tahukah kamu bahwa Fatimah telah dilamar?”</p>
<p>“Tidak tahu.” Jawabku.</p>
<p>“Dia telah dilamar. Mengapa kamu tidak segera datang menemui Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar dinikahkan dengannya?” Jelas mantan budakku.</p>
<p>“Saya punya apa untuk menikah dengannya?” jawabku.</p>
<p>“Kalau kamu datang ke Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> beliau akan menikahkanmu.” Kata mantan budakku.</p>
<p>Dia terus memotivasi aku sampai aku mendatangi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ketika aku duduk di depan beliau, aku hanya bisa terdiam. Demi Allah, aku tidak bisa bicara apapun, melihat wibawa Nabi s<em>hallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Tanya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p class="arab">ما جاء بك، ألك حاجة؟</p>
<p>“Kamu datang, ada apa? Ada kebutuhan apa?”</p>
<p>Aku hanya bisa diam.</p>
<p>Beliau tanya ulang,</p>
<p class="arab">لعلك جئت تخطب فاطمة؟</p>
<p>“Kamu datang untuk melamar Fatimah?”</p>
<p>“Ya.” Jawabku.</p>
<p>Tanya Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p class="arab">وهل عندك من شيء تستحلها به؟</p>
<p>“Kamu punya sesuatu yang bisa dijadikan untuk maharnya?”</p>
<p>“Gak ada, Ya Rasulullah…” jawabku.</p>
<p>Lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya,</p>
<p class="arab">ما فعلت درع سلحتكها؟</p>
<p>Bagaimana dengan tameng yang pernah aku berikan kepadamu?</p>
<p>“Demi Allah, itu hanya Huthamiyah, nilainya tidak mencapai 4 dirham.” Jawabku.</p>
<p>Kemudian Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menikahkan Ali dengan Fatimah dengan mahar tameng Huthamiyah.</p>
<p>Dalam riwayat Ahmad dan Nasai, dinyatakan,</p>
<p>Aku menikahi Fatimah <em>radhiyallahu ‘anha.</em> Aku berkata kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>“Ya Rasulullah, izinkan aku untuk menemui Fatimah”</p>
<p>“Berikan mahar kepadanya!” jawab Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>“Aku tidak punya apapun.” Jawabku.</p>
<p>Lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya,</p>
<p class="arab">فأين دِرْعُكَ الْحُطَمِيَّة؟</p>
<p>“Mana tameng Huthamiyah milikmu?”</p>
<p>“Ada di tempatku.” Jawabku.</p>
<p>“Berikan kepadanya!” perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. (HR. Ahmad 603, Nasai 3388 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).</p>
<p>Demikian, <em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 