
<p>Ada <a href="https://rumaysho.com/tag/shalat-khusyuk" target="_blank" rel="noopener noreferrer">kiat shalat khusyuk</a> lainnya yaitu tidak melihat pada sesuatu yang melalaikan dalam shalat dan tidak shalat kala makanan telah dihidangkan.</p>
<p>Penjelasan lainnya untuk kiat shalat khusyuk adalah sebagai berikut.</p>

<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kesembilan: Tidak berkacak pinggang</strong></span></h2>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> ia mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">نَهَى النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا.</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang seseorang shalat dengan berkacak pinggang.” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>. HR. Bukhari, no. 1220 dan Muslim, no. 545)</p>
<p>Juga, sesuai pernyataan Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> bahwa ia benci bila orang shalat mencakakkan tangannya di pinggang, dan ia mengatakan, “<em>Sesungguhnya orang-orang Yahudi melakukan seperti itu.</em>” (HR. Bukhari, no. 3458)</p>
<p>Di antara alasan yang disebutkan oleh para ulama, shalat seperti ini menunjukkan sifat Yahudi, sifat setan, dan ini menunjukkan perbuatan orang yang <a href="https://rumaysho.com/1429-sombong-dan-hasad-penyakit-membinasakan.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">sombong</a>. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam <em>Syarh Shahih Muslim.</em></p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kesepuluh: Tidak melihat sesuatu yang dapat melalaikan dan mengganggu konsentrasi</strong></span></h2>
<p>Sebagaimana dalam hadits Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha,</em> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> shalat dengan <em>khamishah</em> yaitu pakaian yang memiliki <a href="https://rumaysho.com/7364-hukum-jual-beli-gambar-dan-lukisan.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">gambar</a>. Beliau melihat gambarnya sepintas. Manakala telah selesai shalat, beliau bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِى هَذِهِ إِلَى أَبِى جَهْمٍ وَائْتُونِى بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِى جَهْمٍ ، فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِى آنِفًا عَنْ صَلاَتِى</p>
<p>“<em>Bawa pakaianku ini pada Abu Jahm dan beri aku kain ambijaniyyah (pakaian berkain tebal dan tidak bergambar) milik Abu Jahm, sungguh tadi pakaian tersebut melalaikanku dari shalatku.</em>” (HR. Bukhari, no, 373 dan Muslim, no. 556)</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca Juga: <span style="color: #ff0000;">Kiat Shalat Khusyuk #03</span></span></strong></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kesebelas: Tidak shalat menghadap sesuatu yang bisa mengganggu dan melalaikan</strong></span></h2>
<p>Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menuturkan, “Aisyah memiliki kelambu yang ia pergunakan untuk menutupi samping rumahnya. Maka Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَمِيطِى عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا ، فَإِنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِى صَلاَتِى</p>
<p>“<em>Singkirkan dari kami kelambumu ini, karena gambarnya selalu menggangguku dalam shalatku.</em>” (HR. Bukhari, no. 374, 5959)</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kedua belas: Tidak duduk iq’a’ yang tercela</strong></span></h2>
<p>Dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha,</em></p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَان</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang duduk jongkoknya setan. (HR. Muslim, no. 498)</p>
<p>Ini adalah duduk <em><strong>iq’a’ yang dicela</strong></em>, yakni menempelkan pantat ke lantai, menegakkan kedua betis dan meletakkan kedua tangan menyentuh lantai, seperti duduk jongkok anjing dan binatang buas lainnya. Duduk iq’a’ dengan cara ini dibenci sesuai kesepakatan ulama sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim.</em></p>
<p>Ada model duduk iq’a’ yang lain yang dibolehkan, bahkan disunnahkan. Diriwayatkan dari Thawus, ia menuturkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">قُلْنَا لاِبْنِ عَبَّاسٍ فِى الإِقْعَاءِ عَلَى الْقَدَمَيْنِ فَقَالَ هِىَ السُّنَّةُ. فَقُلْنَا لَهُ إِنَّا لَنَرَاهُ جَفَاءً بِالرَّجُلِ. فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ بَلْ هِىَ سُنَّةُ نَبِيِّكَ -صلى الله عليه وسلم-.</p>
<p>Kami bertanya pada Ibnu Abbas tentang duduk jongkok dengan bertumpu pada kedua telapak kaki? Ia menjawab, “Itu sunnah.” Kami berkata lagi, “Kami menilainya sebagai satu watak kasar seseorang.” Ibnu Abbas berkata, “Bahkan itu adalah sunnah Nabi kalian.” (HR. Muslim, no. 536)</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> menyebutkan bahwa para ulama banyak berbeda pendapat tentang duduk iq’a’ dan penjelasannya. Kemudian ia berkata, “Dan, kebenaran yang tak bisa dielakkan bahwa iq’a’ ada dua macam:</p>
<ol>
<li>Menempelkan kedua pantat di lantai sembari menegakkan kedua betis dan meletakkan kedua tangan di lantai, seperti duduk jongkoknya <a href="https://rumaysho.com/14761-bulughul-maram-05-ketika-dijilat-anjing-dan-kucing.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">anjing</a>. Model inilah yang dibenci yang disebutkan dalam larangan.</li>
<li>Meletakkan pantat di atas tumit waktu duduk di antara dua sujud. Model duduk inilah yang dimaksudkan oleh Ibnu ‘Abbas dalam ucapannya, “Sunnah nabi kalian.”</li>
</ol>
<p>Jadi jelas bahwa duduk iq’a’ yang dipilih oleh Ibnu ‘Abbas dan Al-‘Abadillah (empat ulama sahabat yang bernama ‘Abdullah) sebagai sunnah adalah meletakkan pantat di atas tumit dan lutus di atas lantai ketika duduk di antara dua sujud. Ada model iq’a’ ketiga, yakni meletakkan telapak kaki dengan bagian punggung telapak kaki menyentuh lantai dan duduk di atas tumit, seperti ini menurut Syaikh Ibnu Baz tidaklah masalah.</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Ketiga belas: Tidak berbuat sia-sia terhadap anggota tubuh atau tempat shalat tanpa ada kebutuhan</strong></span></h2>
<p>Dari Mu’aiqib <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فِى الرَّجُلِ يُسَوِّى التُّرَابَ حَيْثُ يَسْجُدُ قَالَ « إِنْ كُنْتَ فَاعِلاً فَوَاحِدَةً</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda pada seseorang yang meratakan debu di tempatnya sujud, “Jika<em> engkau perlu melakukannya, maka satu kali saja</em>.” (HR. Bukhari, no. 1207 dan Muslim, no. 546)</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Keempat belas: Tidak menautkan jari-jari dan menyuarakannya dalam shalat</strong></span></h2>
<p>Dari Ka’ab bin ‘Ujrah <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يُشَبِّكَنَّ يَدَيْهِ فَإِنَّهُ فِى صَلاَةٍ</p>
<p>“<em>Apabila salah seorang di antara kalian <a href="https://rumaysho.com/18395-safinatun-najah-niat-tertib-wudhu-hingga-air-dua-qullah.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">wudhu</a> lalu memperbagus wudhunya, kemudian keluar menuju ke masjid, janganlah ia menautkan jari-jarinya, sebab hakikatnya ia berada dalam shalat.</em>” (HR. Abu Daud, no. 562; Tirmidzi, no. 386; Ahmad, 4:241. Al-Hafizh Abu Thahir mengatkan bahwa hadits ini hasan).</p>
<p>Larangan menautkan jari-jari dalam shalat dan ketika pergi menuju shalat diriwayatkan dari beberapa jalan. Sedangkan menautkan jari-jari setelah shalat, maka tidak apa-apa. Demikian menurut Syaikh Ibnu Baz.</p>
<p> </p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kelima belas: Tidak shalat kala makanan telah dihidangkan</strong></span></h2>
<p>Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ</p>
<p>“<em>Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan (kencing atau buang air besar).</em>” (HR. Muslim, no. 560).</p>
<p>Dalam hadits dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ</p>
<p>“<em>Jika makan malam telah tersajikan, maka dahulukan makan malam terlebih dahulu sebelum <a href="https://rumaysho.com/18437-manhajus-salikin-waktu-shalat-maghrib.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">shalat Maghrib</a>. Dan tak perlu tergesa-gesa dengan menyantap makan malam kalian</em>.” (HR. Bukhari, no. 673 dan Muslim, no. 557).</p>
<p>Untuk pelaksanaannya disyaratkan tiga hal:</p>
<ol>
<li>Makanan telah terhidangkan.</li>
<li>Dalam keadaan butuh makan.</li>
<li>Mampu menikmati makanan. Secara fisik, ada makanan yang tidak bisa dikonsumsi karena sangat panas. Secara syari, dalam kondisi berpuasa, tidak bisa mengonsumsi makanan karena terlarang. Lihat penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam <em>Asy-Syarh Al-Mumthi’</em>, 3:328-330.</li>
</ol>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><strong>Referensi Utama:</strong></span></h3>
<p style="text-align: center;"><em>Al-Khusyu’ fii Ash-Shalah fii Dhau Al-Kitab wa As-Sunnah.</em> Cetakan kedua, Tahun 1434 H. Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani.</p>
<div><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca Juga: </strong></span></div>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/7127-melipat-celana-dan-lengan-baju-saat-shalat.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000; font-size: 12pt;"><strong>Melipat Celana dan Lengan Baju Saat Shalat</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/7021-apakah-membaca-taawudz-dalam-shalat-pada-setiap-rakaat.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000; font-size: 12pt;"><strong>Apakah Membaca Taawudz dalam Shalat pada Setiap Rakaat?</strong></span></a></li>
</ul>
<hr>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
<p> </p>
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/11/Kiat-Shalat-Khusyuk-04.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/11/Kiat-Shalat-Khusyuk-04.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
 