
<p>Ada dua pelajaran penting yang bisa diambil dari puasa Asyura.</p>
<p> </p>
<h3>Khutbah Pertama</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ</p>
<p><em>Amma ba’du …</em></p>
<p><em>Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …</em></p>
<p>Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Di antara nikmat yang Allah anugerahkan adalah kita berada di bulan yang mulia, yaitu bulan Suro atau bulan Muharram. Bulan ini bukanlah bulan yang penuh dengan musibah atau penuh sial sebagaimana anggapan sebagian orang. Bulan Muharram ini disebut sebagai <em>Syahrullah</em> yaitu bulan yang benar-benar dimuliakan oleh Allah.</p>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ</p>
<p>“<em>Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam</em>.” (HR. Muslim, no. 1163, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>)</p>
<p>Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi akhir zaman dan penutup para Nabi yang juga menjadi  pembukan pintu surga pertama kali, yaitu nabi besar kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, begitu pula kepada para sahabat, para tabi’in, serta kepada setiap orang yang mengikuti para salafush shalih dengan baik hingga akhir zaman.</p>
<p>Di antara contoh yang baik yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ajarkan pada kita adalah beliau menganjurkan (menyunnahkan) puasa Asyura (10 Muharram). Namun beliau memerintahkan untuk berpuasa pula pada tanggal sembilannya dengan tujuan agar puasa Asyura tidak mirip dengan yang dilakukan oleh Yahudi dan Nashrani.</p>
<p> </p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ’anhuma</em> berkata bahwa ketika Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى</p>
<p>“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ</p>
<p>“<em>Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan</em>.” Ibnu Abbas mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.</p>
<p>“Belum sampai tahun depan, Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim, no. 1134)</p>
<p> </p>
<p><em>Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …</em></p>
<p>Para jama’ah shalat Jumat yang moga dirahmati oleh Allah. Tadi telah disinggung mengenai puasa <em>Tasu’a</em> (9 Muharram) yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ingin melakukannya berbarengan dengan puasa Asyura. Adapun keutamaan dari puasa Asyura (10 Muharram) disebutkan haditsnya dalam kitab <em>Shahih Muslim</em> sebagai berikut.</p>
<p>Dari Abu Qatadah Al-Anshariy <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”<em>Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang</em>.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”<em><u>Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu</u></em>.” (HR. Muslim, no. 1162).</p>
<p> </p>
<h4>Pelajaran pertama, puasa sunnah berarti bisa menghapus dosa</h4>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (<em>Syarh Shahih Muslim</em>, 8:46)</p>
<p>Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em>, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum. (Lihat <em>Majmu’ah Al-Fatawa</em>, 7:498-500)</p>
<p> </p>
<h4>Pelajaran kedua, dari puasa Asyura, umat Islam diajarkan untuk tidak menyerupai non-muslim (tasyabbuh)</h4>
<p>Karena lihat saja dalam hadits di atas disebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ingin menambah berpuasa pada hari kesembilan agar tidak mirip dengan ahli kitab yang berpuasa pada hari kesepuluh (hari Asyura). Ahli kitab mengagungkan hari Asyura untuk memperingati hari kemenangan Nabi Musa <em>‘alaihis salam</em> atas Fir’aun sebagaimana cerita yang disebutkan dalam hadits berikut.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ’anhuma</em>, beliau berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « <u>فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ</u> ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.</p>
<p>“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bertanya, ”Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ”Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”. Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> lantas berkata, ”Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.” Lalu setelah itu Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” (HR. Muslim, no. 1130)</p>
<p>Di antara maksud Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berpuasa pada hari kesembilan Muharram adalah agar puasanya tidak menyerupai non-muslim. Point penting yang bisa dipetik adalah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajarkan agar kita tidak <em>tasyabbuh</em> dengan non-muslim.</p>
<p>Lihat saja keadaan kaum muslimin, yang nyata terlihat pada anak-anak mudanya, ingin terus meniru non-muslim dalam penampilan, model baju, gaya rambut dan segala yang menjadi ciri khas mereka. Itulah namanya <em>tasyabbuh</em>.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengingatkan kita agar tidak <em>tasyabbuh</em>, meniru-niru non-muslim pada sesuatu yang menjadi ciri khas mereka.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka</em>.” (HR. Ahmad 2:50,92 dan Abu Daud, no. 4031. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ Al-Ghalil, no. 1269)</p>
<p>Benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> jauh-jauh hari.</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ</p>
<p>“<em>Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”</em> (HR. Muslim, no. 2669).</p>
<p>Lihat saja model rambut anak muda saat ini sama seperti yang diingatkan oleh Nabi <em>shallalahu ‘alaihi wa sallam</em> dahulu. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang model rambut qaza’ seperti potongan mohawk yang ada pada anak-anak punk.</p>
<p>Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْقَزَعِ. قَالَ قُلْتُ لِنَافِعٍ وَمَا الْقَزَعُ قَالَ يُحْلَقُ بَعْضُ رَأْسِ الصَّبِىِّ وَيُتْرَكُ بَعْضٌ.</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang qaza’.” Aku (Umar bin Nafi’) berkata pada Nafi’, “Apa itu qaza’?” Nafi’ menjawab, “Qaza’ adalah menggundul sebagian kepala anak kecil dan meninggalkan sebagian lainnya.” (HR. Muslim, no. 2120)</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa para ulama berijmak (bersepakat) bahwa qaza’ itu dimakruhkan jika rambut yang digundul tempatnya berbeda-beda (misalnya: depan dan belakang gundul, bagian samping tidak gundul, -pen) kecuali jika dalam kondisi penyembuhan penyakit dan semacamnya. Yang dimaksud makruh di sini adalah makruh tanzih (artinya: sebaiknya ditinggalkan). … Ulama madzhab Syafi’iyah melarang qaza’ secara mutlak termasuk laki-laki dan perempuan. Lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em>, 14:90-91.</p>
<p>Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ</p>
<p> </p>
<h3>Khutbah Kedua</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ</p>
<p><em>Amma ba’du …</em></p>
<p><em>Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …</em></p>
<p>Ingin mudah mendapatkan syafaat pada hari kiamat? Rutinkanlah puasa sunnah, ada puasa sunnah Senin-Kamis, puasa <em>ayyamul bidh</em> (13, 14, 15 Hijriyah), puasa tiga hari setiap bulannya, puasa Daud, puasa Arafah dan puasa Asyura (10 Muharram, yang diiringi dengan 9 Muharram). Berusahalah agar kita mempunyai sebagian amalan puasa sunnah tersebut.</p>
<p>Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p>“<em>Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak.</em>” (HR. Ahmad, 2: 174. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat <em>Shahih At-Targhib wa At-Tarhib</em>, no. 984.)</p>
<p>Moga dengan izin Allah dan ridha-Nya, kita dimudahkan mendapatkan syafaat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada hari kiamat. Di antara amalan untuk mudah mendapatkan syafaat adalah memperbanyak shalawat, terutama di hari Jumat ini. Ingatlah pula doa pada hari Jumat adalah doa yang mustajab, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ</p>
<p> </p>
<p>Khutbah Jumat oleh Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. @ Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul</p>
<p>Jumat Pahing, 9 Muharram 1439 H (29 September 2017)</p>
<p> </p>
<h4>Download naskah Khutbah Jumatnya:</h4>
<h2><a href="https://drive.google.com/open?id=0B9oseLiRmE7sSkpMTEdoN3FaVk0" target="_blank" rel="noopener">Khutbah Jumat: Dua Pelajaran Penting dari Puasa Asyura</a></h2>
<p>—</p>
<p>Selesai disusun <a href="http://DarushSholihin.Com">@ Perpus Rumaysho</a>, saat Jumat pagi, Jumat Pahing, 9 Muharram 1439 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
<p> </p>
 