
<p><span style="font-weight: 400;">Kaum muslimin yang dirahmati Allah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu pokok aqidah Islam yang harus selalu ditanamkan dalam diri adalah keyakinan tentang hari pembalasan atau hari akhir. Sebagaimana dalam surat al-Fatihah yang di dalamnya terdapat ayat yang menjelaskan bahwa Allah menjadi penguasa hari pembalasan/</span><i><span style="font-weight: 400;">maliki yaumid diin.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud </span><i><span style="font-weight: 400;">“yaumud diin”</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah hari pembalasan dan hisab/penghitungan. Demikian keterangan dari Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam kitabnya </span><i><span style="font-weight: 400;">Min Kunuz al Qur’an al-Karim.</span></i><strong> (Lihat dalam <i>Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin</i>, 1/151)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ibnu ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan, bahwa yang dimaksud </span><i><span style="font-weight: 400;">yaumud diin</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah hari pembalasan yaitu hari kiamat. Ia disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itulah hamba dibalas atas segala amal perbuatan mereka. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Tafsir Surah al-Fatihah</i>, hal. 51)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih bin Abdillah al-‘Ushaimi </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menerangkan, bahwa yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">yaumud diin</span></i><span style="font-weight: 400;"> itu adalah hari penghisaban dan pembalasan atas amal-amal. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Ma’anil Fatihah wa Qisharil Mufashshal</i>, hal. 9)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kata </span><i><span style="font-weight: 400;">ad-diin</span></i><span style="font-weight: 400;"> di dalam bahasa arab bisa bermakna </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jazaa’ wal hisaab</span></i><span style="font-weight: 400;">; pembalasan dan penghitungan. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>It-haf Dzawil ‘Uqul ar-Rasyidah</i>, hal. 341)</strong></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Urgensi Iman kepada Hari Akhir</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam ‘maaliki yaumid diin’ terkandung iman kepada hari akhir dan iman terhadap pembalasan atas amal-amal, dan bahwasanya yang akan memberikan balasan atas amal-amal itu adalah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">‘azza wa jalla</span></i><span style="font-weight: 400;">. Oleh sebab itu, faidah yang bisa dipetik dari sini adalah dorongan untuk beramal dalam rangka menghadapi hari tersebut. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Tafsir Surah al-Fatihah</i>, hal. 57)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Iman kepada hari akhir merupakan salah satu di antara keenam rukun iman. Sebagaimana kehidupan kita di alam dunia adalah benar maka demikian pula adanya hari akhir adalah benar dan pasti akan terjadi. Allah berfirman, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia, dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami.”</span></i><span style="font-weight: 400;"><strong> (QS. Al-Mu’minun : 115)</strong> <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Ahkam minal Qur’anil Karim</i>, 1/27-28 karya Syaikh Utsaimin)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Termasuk dalam iman kepada hari akhir adalah mengimani tentang azab kubur. Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh dalam kehidupan dunia dan di akhirat .”</span></i><strong> (QS. Ibrahim : 27). </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari al-Bara’ bin Azib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyebutkan ayat ini lalu beliau bersabda, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Ayat ini turun berkaitan dengan azab kubur.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Ahwal al-Qubur</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya Ibnu Rajab hal. 47)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam hadits dikisahkan, bahwa ketika seorang mukmin berada di alam kubur maka dia pun didudukkan lalu dia pun didatangi oleh malaikat -yang bertanya kepadanya- kemudian dia pun bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah maksud dari ayat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman, dst.”</span></i><strong> (QS. Ibrahim : 27) (Lihat <i>Ahwal al-Qubur</i>, hal. 48)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits lain diceritakan, bahwa ketika itu datanglah dua malaikat dan bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ dia menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Rabbku adalah Allah.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Mereka juga bertanya, ‘Apa agamamu?’ dia menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Agamaku Islam.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Lalu mereka juga bertanya, ‘Siapakah lelaki yang diutus untuk kalian?’ maka dia menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Mereka bertanya lagi, ‘Apa yang kamu ketahui?’ dia menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Aku membaca Kitabullah maka aku pun beriman kepadanya dan membenarkannya.”</span></i><strong> (Lihat <i>Ahwal al-Qubur</i>, hal. 49)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/50753-ciri-khas-umat-muhammad-pada-hari-kiamat-ghurrah-dan-tahjiil-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Ciri Khas Umat Muhammad pada Hari Kiamat: Ghurrah dan Tahjiil (Bag. 1)</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Keadaan Orang Kafir di Alam Kubur</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun orang kafir maka dua malaikat pun datang bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ lalu dia menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Hah, hah. Aku tidak tahu.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Ketika dia ditanya, ‘Apa agamamu?’ dia menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Hah, hah. Aku tidak tahu.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Ketika ditanya, ‘Siapakah lelaki yang diutus kepada kalian?’ dia mengatakan, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Hah, hah. Aku tidak tahu.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Kemudian ada penyeru dari langit yang menyatakan, ‘Orang ini telah berdusta, maka gelarkanlah untuknya hamparan dari neraka dan sematkanlah untuknya ‘pakaian’ dari neraka, dan bukakanlah untuknya pintu menuju neraka’. Maka seketika itulah datang hawa panas yang membakar dari neraka dan disempitkanlah kuburnya sampai-sampai tulang-tulang rusuknya bergeser dari tempat-tempatnya. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Ahwal al-Qubur</i>, hal. 49-50)  </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat lain dikisahkan, bahwa Allah menciptakan untuk orang kafir itu seorang yang buta, bisu dan tuli seraya membawa sebuah palu. Seandainya palu itu dipakai untuk memukul sebuah gunung niscaya ia akan hancur menjadi debu. Maka ‘orang’ itu memukulnya sehingga dia berubah menjadi debu. Kemudian Allah memulihkan keadaannya seperti semula. Kemudian dia dipukul lagi maka dia pun menjerit dengan sekeras-kerasnya sehingga bisa didengar oleh segala makhluk selain manusia dan jin. Kemudian dibukakanlah untuknya sebuah pintu menuju neraka dan dibentangkan untuknya hamparan dari neraka. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Ahwal al-Qubur</i>, hal. 51)  </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits lain riwayat Bukhari dan Muslim dikisahkan, bahwa orang kafir dan munafik ketika ditanyakan kepadanya, ‘Apa pendapatmu mengenai lelaki ini -Muhammad-?’ maka dia menjawab, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Aku tidak tahu. Aku sekedar mengucapkan apa yang telah diucapkan oleh orang-orang.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Maka dikatakanlah kepadanya, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Kamu tidaklah mengikuti orang-orang itu, walaupun kamu ikut mengucapkan apa yang mereka ucapkan.”</span></i><strong> (Lihat <i>Ahwal al-Qubur</i>, hal. 53)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap orang kelak akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal. Orang mukmin dibangkitkan di atas keimanan sedangkan orang munafik dibangkitkan di atas kemunafikannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu.</span></i><strong> (Lihat <i>Ahwal al-Qubur</i>, hal. 58)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Termasuk bagian keimanan kepada hari akhir adalah mengimani segala berita yang disampaikan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengenai berbagai kejadian setelah kematian. Maka mereka mengimani fitnah kubur, azab kubur dan nikmat yang ada di dalamnya.” <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Syarh al-Wasithiyah</i> oleh Syaikh ar-Rajihi, hal. 101)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan fitnah/ujian di alam kubur itu adalah pertanyaan ‘Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?’. Ketiga pokok inilah yang dibahas oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam risalahnya yang terkenal yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Ushul ats-Tsalatsah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Di dalamnya beliau menjelaskan tentang mengenal Allah, mengenal Islam dan mengenal nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh al-Wasithiyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 102) </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kaum Mu’tazilah telah mengingkari azab kubur dan nikmat kubur. Padahal, dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah telah membantah pemahaman mereka itu. Diantara dalil tentang azab kubur di dalam al-Qur’an adalah kisah diazabnya Fir’aun beserta para pengikutnya. Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Neraka itu ditampakkan kepada mereka setiap pagi dan petang. Dan pada hari kiamat nanti masukkanlah para pengikut Fir’aun itu ke dalam azab yang paling keras.”</span></i><strong> (QS. Ghafir : 46). </strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/44134-kenapa-seseorang-lari-dari-istri-anak-dan-ayah-ibunya-di-hari-kiamat.html" data-darkreader-inline-color="">Kenapa Seseorang Lari dari Anak, Istri, dan Orang Tuanya di Hari Kiamat?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu masih ada banyak dalil yang lain. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Syarh al-Wasithiyah</i>, hal. 102-103) </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa tidak mengimani dibangkitkannya jasad-jasad manusia kelak pada hari kiamat setelah kematian mereka maka dia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama. Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang kafir itu mengira bahwasanya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakalah : Sekali-kali tidak, demi Rabbku. Benar-benar kalian akan dibangkitkan kemudian akan dikabarkan kepada kalian dengan apa-apa yang telah kalian kerjakan. Dan itu semuanya adalah sangat mudah bagi Allah.”</span></i><strong> (QS. At-Taghabun : 7) (Lihat <i>Syarh al-Wasithiyah</i>, hal. 105)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/42830-sering-terjadi-gempa-pertanda-kiamat.html" data-darkreader-inline-color="">Sering Terjadi Gempa, Pertanda Kiamat?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29306-perkara-yang-pertama-kali-dihisab-pada-hari-kiamat.html" data-darkreader-inline-color="">Perkara yang Pertama Kali Dihisab pada Hari Kiamat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/ariwahyudi" data-darkreader-inline-color="">Ari Wahyudi, S.Si</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 