
<p>Baca pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/30038-keutamaan-mempelajari-tafsir-alquran.html">Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1)</a></p>
<h2><strong>Ucapan Emas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah!</strong></h2>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah,</em></p>
<p style="text-align: right;">العادة تمنع أن يقرأ قوم كتاباً في فن من العلم، كالطب والحساب، ولايستشْرِحوه، فكيف بكلام الله الذي هو عصمتهم، وبه نجاتهم وسعادتهم، وقيام دينهم ودنياهم</p>
<p><em>“Adat kebiasaan manusia itu menolak jika ada sekelompok orang yang membaca suatu buku dalam disiplin ilmu tertentu, seperti kedokteran dan matematika, namun mereka tidak mau mengetahui makna/maksudnya,(jika demikian kenyataannya),bagaimana dengan Kalamullah yang menjadi penyebab tercegahnya seseorang dari kebinasaan, penyebab kesuksesan, kebahagiaan mereka dan penyebab tegaknya urusan agama serta dunia mereka.”<a href="#_ftn1" name="_ftnref1"><sup><strong>[1]</strong></sup></a></em></p>
<h2><strong>3.  Ancaman bagi Orang yang Tidak Mentadaburi Al-Qur`an adalah Akan Dikunci Hatinya</strong></h2>
<p>Firman Allah Ta’ala</p>
<p style="text-align: right;">أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا</p>
<p><em>”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka terkunci?”</em> (QS. Muhammad: 24).</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p style="text-align: right;">يقول تعالى آمرا بتدبر القرآن وتفهمه، وناهيا عن الإعراض عنه، فقال: {أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها} أي: بل على قلوب أقفالها ، فهي مطبقة لا يخلص إليها  شيء من معانيه</p>
<p><em>“Allah Ta’ala berfirman, memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur`an dan melarangnya berpaling darinya, dengan berfirman,</em><strong>{</strong>أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها}<em>,yaitu bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya” </em>(Tafsir Ibnu Katsir <em>rahimahullah, jilid.4 hal. 459</em>).</p>
<p>Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah,</em></p>
<p style="text-align: right;">أن الله تعالى وبخ أولئك الذين لا يتدبرون القرآن، وأشار إلى أن ذلك من الإقفال على قلوبهم، وعدم وصول الخير إليها</p>
<p><em>“Bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka” </em>(Ushulun fit Tafsir, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, hal.23)</p>
<h2><strong>4. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an sebagai Sebab Terhindar dari Kesesatan Di Dunia dan Tercapai Kebahagiaan di Akhirat</strong></h2>
<p>Di antara keutamaan mempelajari tafsir Al-Qur`an adalah terhindar dari kesesatan di dunia dengan meniti jalan lurus yang ditunjukkan Al-Qur`an, serta masuk kedalam Surga dan selamat dari siksa di akhirat. Imam Ath-Thabari <em>rahimahullah </em>menyebutkan dalam kitab Tafsirnya,</p>
<p>“Amr bin Qais Al-Mula`i dari Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata,</p>
<p style="text-align: right;">تضمن الله لمن قرأ القرآن، واتبع ما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة ، ثم تلا هذه الآية</p>
<p>“Allah menjamin barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dan mengikuti ajaran yang terkandung didalamnya, maka ia akan tidak sesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat, lalu Ibnu Abbas membaca ayat berikut ini.</p>
<p style="text-align: right;">فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ</p>
<p>“<em>Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” </em>(QS. Thaha: 123).<em><br>
</em></p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Daftar Link Artikel Berseri:</strong></p>
<ol>
<li><a href="https://muslim.or.id/30038-keutamaan-mempelajari-tafsir-alquran.html">Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/30041-keutamaan-mempelajari-tafsir-alquran-2.html">Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/30096-keutamaan-mempelajari-tafsir-alquran-3.html">Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3)</a></li>
</ol>
<p><strong>Penulis: <span class=""><span class="author xt-post-author"><a title="Posts by Sa'id Abu Ukkasyah" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" rel="author" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Sa’id Abu Ukkasyah</a></span></span><br>
Artikel: <a href="http://muslim.or.id">Muslim.or.id</a> </strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan Kaki</span><strong><br>
</strong></p>
<h6>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1"><sup>[1]</sup></a>. (Majmu’ul Fatawa :13/332,dinukil dari Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin ,hal.24<strong>).</strong>
</h6>
 