
<p>Termasuk di antara keindahan ajaran agama Islam adalah agama ini mendorong umatnya untuk memiliki akhlak yang mulia dan akhlak yang luhur. Dan sebaliknya, agama ini melarang umatnya dari akhlak-akhlak rendahan dan akhlak yang buruk. Hal ini ditunjukkan oleh banyak hadits tentang akhlak dari Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</i></p>
<p>Hadits tentang akhlak tersebut di antaranya, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ</span></p>
<p>“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” <b>(HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam </b><b><i>Adaabul Mufrad </i></b><b>no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Shahih Adaabul Mufrad.</i></b><b>)</b></p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا</span></p>
<p>“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” <b>(HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Shahih Al-Jaami’ </i></b><b>no. 2201.)</b></p>
<p>Bahkan dengan akhlak mulia, seseorang bisa menyamai kedudukan (derajat) orang yang rajin berpuasa dan rajin shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ</span></p>
<p>“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” <b>(HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib </i></b><b>no. 2643.)</b></p>
<p>Oleh karena itu, akhlak yang luhur dan mulia termasuk perkara yang ditekankan dalam agama ini. Agama ini menekankan dan mendorong kita untuk berhias dengan akhlak yang sempurna terhadap Allah Ta’ala, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i>dan juga terhadap hamba-hambaNya. Dengan akhlak yang mulia, akan tampaklah kesempurnaan dan ketinggian agama Islam ini, yaitu agama yang indah dan sempurna, baik dari sisi ‘aqidah, ibadah, adab dan akhlak.</p>
<p>Dengan semakin kokoh ‘aqidah dan keimanan seseorang, seharusnya semakin baik pula akhlaknya. Dengan bertambahnya ilmu ‘aqidah dan imannya, bertambah luhur pula akhlaknya. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا</span></p>
<p>“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” <b>(HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Ash-Shahihah </i></b><b>no. 284.)</b></p>
<p>Oleh karena itu, jika ada di antara kita yang semakin bertambah ilmu agama dan imannya, namun akhlaknya tidak semakin baik, maka waspadalah, mungkin ada yang salah dalam diri kita dalam belajar agama dan mengamalkannya.</p>
<p>Jika kaum muslimin berhias dengan akhlak mulia serta menunaikan hak-hak saudaranya yang itu menjadi kewajibannya, maka hal itu merupakan pintu gerbang utama masuknya manusia ke dalam agama ini. Hal ini sebagaimana yang telah kita saksikan pada zaman para sahabat <i>radhiyallahu ‘anhum</i>, ketika manusia berbondong-bondong masuk Islam disebabkan keindahan akhlak dan keluhuran mereka dalam bermuamalah dan interaksi dengan sesama manusia.</p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz <i>rahimahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p>“Kaum muslimin pada hari ini, bahkan manusia seluruhnya, sangat membutuhkan penjelasan tentang agama Allah, tentang keindahan dan hakikat agama-Nya. Demi Allah, seandainya manusia dan dunia pada hari ini mengetahui  hakikat agama ini, niscaya mereka akan masuk Islam dengan berbondong-bondong sebagaimana mereka berbondong-bondong masuk Islam setelah Allah menaklukkan kota Mekah untuk Nabi-Nya <i>‘alaihish shalaatu was salaam.</i>” <b>(</b><b><i>Majmuu’ Fataawa, </i></b><b>2/338)</b></p>
<p>Terahir yang sangat penting diperhatikan bahwa tujuan utama kita berhias dengan akhlak mulia dan menunaikan kewajiban kita terhadap sesama manusia adalah dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala dan dalam rangka mengharap pahala dari-Nya. Bukan semata-mata keinginan untuk mendapatkan perlakuan (balasan) yang semisal dari orang lain. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا</span></p>
<p>“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. <b>Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.</b>” <b>(QS. Al-Insaan [76]: 9)</b></p>
<p>Oleh karena itu, janganlah kita berhias dengan akhlak yang mulia dengan selalu mengharapkan mendapatkan perlakuan yang semisal dan sebanding dari orang lain. Salah seorang sahabat Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>berkata kepada beliau,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ</span></p>
<p>“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku memiliki kerabat. Aku berusaha menyambung silaturahmi dengan mereka, namun mereka memutusnya. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka tidak berbuat baik kepadaku. Aku bersabar dengan gangguan mereka, namun mereka menyakitiku.”</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>menjawab,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ، فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ</span></p>
<p>“Jika benar apa yang Engkau katakan, maka seakan-akan Engkau masukkan bara api ke mulut mereka. <b>Dan pertolongan Allah akan terus-menerus bersamamu untuk mengalahkan mereka, selama Engkau bersikap seperti itu.</b>” <b>(HR. Muslim no. 6440)</b></p>
<p>Dalam hadits tentang akhlak di atas, lihatlah bagaimana petunjuk Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>kepada sahabat beliau tersebut. Beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>tidak memerintahkannya untuk memutus hubungan dengan kerabatnya, meskipun kerabatnya memutus hubungan dengannya. Dan beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>pun ingatkan dengan pahala dan anugerah yang besar dari Allah Ta’ala.</p>
<p>Semoga pembahasan hadits tentang akhlak ini bisa bermanfaat untuk kita semua. <em>Barakallahu fiikum</em>.</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/60376-akhlak-mulia-antara-tabiat-bawaan-dan-usaha-manusia.html" target="_blank" rel="noopener">Akhlak Mulia, antara Tabiat (Bawaan) dan Usaha Manusia</a></strong></em></p></blockquote>
<p><b>***</b></p>
<p>@Bornsesteeg NL 6C1, 29 Ramadhan 1439/ 14 Juni 2018</p>
<p>Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,</p>
<p><b>Penulis: <a href="https://acadstaff.ugm.ac.id/msaifudinhakim" target="_blank" rel="noopener">M. Saifudin Hakim</a></b></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
<p> </p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p>Disarikan dari kitab <b><i>Huquuq kibaaris sinni fil Islaam</i></b> karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 7-12.</p>
 