
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara faktor pendorong agar seseorang bersemangat mempelajari sesuatu adalah pengetahuannya bahwa sesuatu tersebut memiliki banyak keutamaan. Semakin banyak keutamaan yang akan dia dapatkan, maka semakin besar pula semangat untuk mempelajarinya. Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Jiwa itu mempunyai sifat tertarik untuk mendengar dan mengetahui keutamaan sesuatu. Karena terkadang dia menyangka bahwa keutamaan dari sesuatu itu hanya satu dan tidak berbilang. Ketika keutamaannya banyak, maka akan semakin banyak pula sisi ketertarikannya terhadap sesuatu tersebut. Dia akan perhatian kepadanya, bersemangat mendapatkannya, dan menjelaskan kepada manusia tentang keutamaan yang akan mereka dapatkan kalau memegang teguh tauhid ini.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, dalam pembahasan ini akan penulis sampaikan tentang beberapa keutamaan menuntut ilmu agama</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Setelah mengetahui keutamaan-keutamaannya, semoga hal itu dapat mendorong kita semua untuk giat dan terus-menerus mempelajarinya serta tidak meremehkannya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51084-keutamaan-belajar-bahasa-arab-dan-ilmu-nahwu.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Belajar Bahasa Arab dan Ilmu Nahwu</a></span></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Pahala yang Agung bagi Orang-Orang yang Menuntut Ilmu Agama</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pahala yang besar itu sekadar dengan besarnya kedudukan. Ketika menuntut ilmu agama (ilmu syar’i) memiliki kedudukan yang besar di dalam agama ini, maka Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">pun telah mempersiapkan bagi para penuntut ilmu syar’i pahala yang sangat besar dan agung. Sehingga apabila hati-hati orang beriman mendengarnya, maka dia akan senang dan gembira serta akan berusaha untuk meraihnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pahala yang besar yang telah dipersiapkan oleh Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">kepada para penuntut ilmu syar’i tersebut adalah surga. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” </span><b>(HR. Muslim no. 7028)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh untuk menuntut ilmu itu ada dua macam, yaitu jalan yang konkret </span><i><span style="font-weight: 400;">(hissiyyah) </span></i><span style="font-weight: 400;">dan jalan yang abstrak </span><i><span style="font-weight: 400;">(ma’nawiyyah). </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan jalan yang konkret adalah jalan yang ditempuh seseorang menuju majelis ilmu, baik ke masjid atau tempat-tempat lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan jalan yang abstrak adalah seseorang berjalan dengan fikirannya untuk memikirkan atau merenungkan Kitabullah dan sunnah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Baik dengan mengkaji Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah secara langsung dengan mempelajari ilmu tafsir dan mempelajari </span><i><span style="font-weight: 400;">syarah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (penjelasan) hadits, atau mengkaji Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah secara terpisah dengan mempelajari kitab-kitab fiqih, aqidah, tauhid, dan sebagainya. Atau seseorang menelaah dan mengkaji kitab-kitab para ulama, karena para ulama telah mencurahkan usaha yang besar untuk menyebarkan Kitabullah dan sunnah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan pemahaman yang benar. </span><b>[2]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pahala yang agung bagi seorang yang berilmu juga dapat dilihat dari pahala yang mereka dapatkan ketika mereka dapat memberikan petunjuk bagi orang lain dengan ilmu yang mereka miliki. Dan seseorang tidaklah mungkin dapat memberikan petunjuk kebenaran kepada orang lain kecuali dengan ilmu. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata kepada Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Demi Allah, jika Allah memberikan petunjuk kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu dibandingkan dengan unta merah (yaitu unta yang paling bagus dan paling mahal, pen.).” </span><b>(HR. Bukhari no. 3009, 3701, 4210 dan Muslim no. 6376)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29932-tiga-kiat-penting-dalam-belajar-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Tiga Kiat Penting Dalam Belajar Agama</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Menutut Ilmu Syar’i Merupakan Tanda Kebaikan Seseorang</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengabarkan kepada kita bahwa orang yang menuntut ilmu syar’i merupakan tanda bahwa Allah Ta’ala menghendaki kebaikan untuknya baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَنْ يُرِدْ اللَّه بِهِ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِي الدِّين</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, </span><b>maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)</b><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdurrahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu yang paling agung. Yaitu ilmu yang bermanfaat merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda bahwa Allah Ta’ala menghendaki kebaikan untuknya</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><b>Dan sebaliknya, hadits ini mengisyaratkan bahwa barangsiapa yang berpaling dari mempelajari ilmu agama, maka berarti Allah Ta’ala tidak menghendaki kebaikan untuknya.</b><span style="font-weight: 400;"> Karena dia terhalang dari melakukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. </span><b>[3]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘fiqh fi ad-din’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (memahami agama) bukanlah terbatas pada memahami hukum-hukum amaliyyah tertentu yang disebut oleh para ulama dengan ilmu fiqih. Akan tetapi, yang dimaksud dengan ‘fiqh fi ad-din’ tersebut adalah memahami ilmu tauhid, ushuluddin (pokok-pokok agama), dan yang terkait dengan syari’at Allah. </span><b>Seandainya tidak ada dalil dari Al Qur’an maupun As-Sunnah tentang keutamaan ilmu kecuali hadits ini saja, niscaya sudah mencukupi dalam memberikan motivasi agar menuntut ilmu syar’i dan memahaminya.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(</b><b><i>Kitaabul ‘Ilmi, </i></b><b>hal. 21)</b><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29010-bolehkah-belajar-dari-kitab-saja-ketika-sulit-berguru-pada-ulama.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Belajar Dari Kitab Saja Ketika Sulit Berguru Pada Ulama?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Orang yang Berilmu adalah Pewaris para Nabi</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengabarkan kepada kita bahwa para ulama memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">yang tidak diraih oleh seorang pun selain mereka. Yaitu bahwa mereka adalah pewaris para Nabi dalam membawa agama dan menyebarkannya di dunia ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. </span><b>Para Nabi tidaklah mewariskan dirham dan dinar, akan tetapi mereka mewarisi ilmu.</b><span style="font-weight: 400;"> Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia telah mengambil keberuntungan yang besar”. </span><b>(HR. Abu Dawud. Dinilai </b><b><i>shahih </i></b><b>oleh Syaikh Albani dalam</b> <b><i>Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud  </i></b><b>no. 3641)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Khathib Al-Baghdadi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menceritakan bahwa pada suatu hari, ada seorang Arab Badui lewat ketika Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengajarkan hadits kepada para muridnya yang berkumpul di sekelilingnya. Maka orang Arab Badui tersebut berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Untuk apa mereka berkumpul?”  </span></i><span style="font-weight: 400;">Maka Abdullah bin Mas’ud</span><i><span style="font-weight: 400;"> radhiyallahu ‘anhu berkata,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">« على ميراث محمد ، صلى الله عليه وسلم يقتسمونه »</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Untuk membagi-bagi warisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i><span style="font-weight: 400;">“</span><b> (</b><b><i>Syarfu Ash-haabil Hadits, </i></b><b>1 : 102) </b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/26926-belajar-bersabar-bersama-syaikhul-islam-ibnu-taimiyah.html" data-darkreader-inline-color="">Belajar Bersabar Bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Segala Sesuatu di Langit dan di Bumi Memintakan Ampun untuk para Penuntut Ilmu</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena kedudukan dan pahala yang besar bagi para penuntut ilmu, sampai-sampai  segala sesuatu, baik di langit maupun di bumi memintakan ampun untuknya. Rasulullah</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">صاحب العلم يستغفر له كل شيء حتى الحوت في البحر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Segala sesuatu memintakan ampun bagi ahlul ilmi, sampai-sampai ikan di lautan.” </span><b>(HR. Abu Ya’la</b><b><i>. </i></b><b>Dinilai </b><b><i>shahih </i></b><b>oleh Syaikh Albani dalam </b><b><i>Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir  </i></b><b>no. 7201)</b></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Malaikat pun Bershalawat kepada <i>Ahlul ‘Ilmi</i></span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em> telah memuliakan para ulama dan para penuntut ilmu sehingga Allah <em>Ta’ala</em> dan para malaikat-Nya bershalawat untuknya. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ فِي الْبَحْرِ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ </span><span style="font-size: 21pt;">الْخَيْرَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah, malaikat-malaikatNya, sampai semut di sarangnya, dan ikan di lautan bershalawat untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” </span><b>(HR. Thabrani</b><b><i>. </i></b><b>Dinilai </b><b><i>shahih </i></b><b>oleh Syaikh Albani dalam </b><b><i>Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir</i></b><b> no. 2719)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan shalawat Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">kepada hamba-hambaNya adalah sanjungan Allah Ta’ala di depan para malaikat</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Adapun maksud shalawat para malaikat kepada seorang hamba  adalah mendoakan dan memohonkan ampun atas dosa-dosanya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24764-hukum-dan-keutamaan-belajar-akidah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Dan Keutamaan Belajar Akidah</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Berjalan Menuntut Ilmu Sama dengan Jihad <i>fii sabilillah</i></span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengabarkan bahwa barangsiapa yang berjalan untuk menghadiri majelis ilmu, maka dia setara dengan kedudukan mujahid </span><i><span style="font-weight: 400;">fii sabiilillah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini, tidaklah ia mendatanginya kecuali untuk kebaikan yang akan dipelajarinya atau diajarkaannya, maka dia setara dengan kedudukan mujahid fii sabiilillah.” </span><b>(HR. Ibnu Majah. Dinilai </b><b><i>shahih </i></b><b>oleh Syaikh Albani dalam </b><b><i>Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah </i></b><b>no. 227)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong></p>
<div class="post-title">
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24722-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-4-ilmu-inti-dan-ilmu-penunjang.html" data-darkreader-inline-color="">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (4): Ilmu Inti dan Ilmu Penunjang</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23418-fatwa-ulama-masih-pantaskah-aku-untuk-mulai-belajar-di-usia-senja.html" data-darkreader-inline-color="">Masih Pantaskah Aku Untuk Mulai Belajar di Usia Senja?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<div class="post-meta">
<div class="post-meta"><b>[Bersambung]</b></div>
</div>
</div>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Surakarta, 17 Dzulqa’dah 1440/14 Juli 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 18pt;">Catatan Kaki</span></strong></h2>
<p><b>[1] </b> <b><i>Fadhlu Tauhid wa Takfiiruhu li Dzunuub, </i></b><span style="font-weight: 400;">http://www.sahab.org.</span></p>
<p><b>[2] </b> <span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Silsilah Liqoo’at Al-Baab Al-Maftuuh, </i></b><span style="font-weight: 400;">3: 123.</span></p>
<p><b>[3] </b> <span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Bahjatu Quluubil Abraar, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 38-39.</span></p>
 