
<h2 style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 18pt;">Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz –<i>rahimahullah</i>–</span></strong></h2>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Soal :</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila ada seorang pria yang beragama Nasrani menikah dengan seorang Muslimah, lalu mereka mempunyai anak. Bagaimana status anak tersebut dalam syari’at Islam?</span></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Jawab :</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pernikahan antara seorang lelaki Nasrani dengan seorang Muslimah adalah pernikahan yang batil. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Baqarah: 221).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka tidak diperbolehkan lelaki kafir menikah dengan seorang wanita Muslimah. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">juga berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Mumtahanah: 10).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila lelaki tersebut menikahinya, maka pernikahannya tidak sah dan anak-anaknya adalah anak zina. Dan anak hasil zina itu dinasabkan hanya kepada ibunya, dan tidak boleh dinasabkan kepada bapaknya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kecuali apabila pasangan suami istri yang berbeda agama tersebut tidak memahami hukum Islam (tentang tidak bolehnya nikah beda agama), maka ini perkara yang berbeda. Pernikahan mereka tidak sah, namun anak-anak hasil pernikahan mereka boleh dinasabkan kepada bapaknya, disebabkan adanya udzur yaitu kebodohan mereka, karena senggama yang mereka lakukan adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">watho’ syubhah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (senggama yang dilakukan atas dasar nikah yang syubhat).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jika pasangan tersebut sebenarnya sudah mengetahui hukum Islam (dalam masalah ini), akan tetapi mereka bermudah-mudahan (untuk menikah) dan tidak mempedulikan hukum Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka anak-anaknya menjadi anak zina. Dan anak-anaknya dinasabkan hanya kepada ibunya, bukan kepada bapaknya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan si lelaki ini wajib dijatuhi hukuman had (oleh pemerintah) dikarenakan hubungan biologisnya terhadap perempuan Muslimah tanpa hak. Hukum ini wajib ditegakkan apabila terjadi pada negeri yang punya kemampuan dalam menegakkan hukum islam.</span></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Soal :</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana jika si lelaki tersebut masuk Islam?</span></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Jawab :</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, mereka harus dipisahkan dahulu. Kemudian jika si lelaki tersebut masuk Islam, maka ia harus menikah ulang dari awal. Jika masuk Islam dan Allah beri ia hidayah kepada Islam, maka ia menikah ulang dari awal.</span></p>
<p>***</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sumber: website binbaz.or.sa, url: </span><a href="https://bit.ly/2EEB4w2"><span style="font-weight: 400;">https://bit.ly/2EEB4w2</span></a><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Penerjemah: Muhammad Bimo Prasetyo</strong></p>
<p><strong>Pemuraja’ah: Yulian Purnama</strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
 