
<p>Penyusun: Ummu Aiman<br>
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar</p>
<p><em>Masya Allah, anti sudah hafal 5 juz ???<br>
Hmmm…</em></p>
<p>Secara fitrah manusia, pastilah senang jika dirinya dipuji. Saat  pujian datang -apalagi dari seseorang yang istimewa dalam pandangannya-  tentulah hati akan bahagia jadinya. Berbunga-bunga, bangga, senang. Itu  manusiawi. Namun hati-hatilah duhai saudariku, jangan sampai riya’  menghiasi amal ibadah kita karena di setiap amal ibadah yang kita  lakukan dituntut keikhlasan.</p>
<p><!--more--><br>
Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap amal ibadah karena  ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal di sisi Allah.  Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil menjadi bernilai besar di sisi  Allah dan sebaliknya, niatpun mampu mengubah amalan besar menjadi tidak  bernilai sama sekali.</p>
<p>Kali ini, kita tidak hendak membahas tentang ikhlas melainkan salah satu lawan dari ikhlas, yaitu riya’.</p>
<p>Hudzaifah Ibnu Yaman pernah berkata:</p>
<p><em>“Orang-orang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  tentang hal-hal yang baik sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang  hal-hal jelek agar aku terhindar dari kejelekan tersebut.”</em> (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Maka saudariku muslimah, marilah kita mempelajari tentang riya’ agar kita terhindar dari kejelekannya.</p>
<p><strong>Mari Kita Berbicara tentang Riya’</strong></p>
<p>Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ru’yah (الرّؤية), maknanya  penglihatan. Sehingga menurut bahasa arab hakikat riya’ adalah orang  lain melihatnya tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya.</p>
<p>Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan, <em>“Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan agar dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amal tersebut.”</em></p>
<p>Pernahkah ukhti mendengar tentang sum’ah? Sum’ah berbeda dengan  riya’, jika riya’ adalah menginginkan agar amal kita dilihat orang  lain, maka sum’ah berarti kita ingin ibadah kita didengar orang lain.  Ibnu Hajar menyatakan: <em>“Adapun sum’ah sama dengan riya’. Akan  tetapi ia berhubungan dengan indera pendengaran (telinga) sedangkan  riya’ berkaitan dengan indera penglihatan (mata).”</em></p>
<p>Jadi, jika seorang beramal dengan tujuan ingin dilihat, misalnya  membaguskan dan memperlama shalat karena ingin dilihat orang lain, maka  inilah yang dinamakan riya’. Adapun jika beramal karena ingin didengar  orang lain, seperti seseorang memperindah bacaan Al Qur’annya karena  ingin disebut qari’, maka ini yang disebut sebagai sum’ah.</p>
<p><strong>Bahaya Riya’</strong></p>
<p>Ketahuilah wahai saudariku, bahwa riya’ termasuk ke dalam syirik  asghar/kecil. Ia dapat mencampuri amal kita kemudian merusaknya.</p>
<p>Amalan yang dikerjakan dengan ikhlas akan mendatangkan pahala. Lalu  bagaimana dengan amalan yang tercampur riya’? Tentu saja akan merusak  pahala amalan tersebut. Bisa merusak salah satu bagiannya saja atau  bahkan merusak keseluruhan dari pahala amalan tersebut.</p>
<p>Berikut ini beberapa bentuk riya’:</p>
<ol>
<li>Riya’ yang mencampuri amal dari awal hingga akhir, maka amalannya terhapus.
<p>Misalnya seseorang yang hendak mengerjakan shalat lalu datang seseorang  yang ia kagumi. Kemudian ia shalat dengan bagus dan khusyu’ karena  ingin dilihat orang tersebut. Riya’ tersebut ada dari awal hingga akhir  shalatnya dan ia tidak berusaha untuk menghilangkannya, maka amalannya  terhapus.</p>
</li>
<li>Riya’ yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah amal dan dia berusaha  untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ ini  tidak mempengaruhi pahala amalannya. Misalnya seseorang yang shalat  kemudian muncul riya’ di tengah-tengah shalatnya dan ia berusaha untuk  menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ tersebut  tidak mempengaruhi ataupun merusak pahala shalat tersebut.</li>
<li>Riya’ muncul tiba-tiba di tengah-tengah namun dibiarkan terus  berlanjut, maka ini adalah syirik asghar dan menghapus amalannya. Namun  dalam kondisi ini ulama berselisih pendapat tentang amalan mana yang  terhapus, misalnya riya’ dalam shalat. Apakah rakaat yang tercampuri  riya’ saja yang terhapus ataukah keseluruhan shalatnya?</li>
</ol>
<p>Pendapat pertama menyatakan bahwa yang terhapus hanyalah pada amalan yang terkait. Pendapat kedua, yaitu perlu dirinci:</p>
<ol>
<li>Kalau amalannya merupakan satu rangkaian dan tidak mungkin  dipisahkan satu dengan yang lain, misalnya shalat dhuhur empat rakaat,  maka terhapus rangkaian amal tersebut.</li>
<li>Kalau amalannya bukan merupakan satu rangkaian, maka amal yang  terhapus pahalanya adalah sebatas yang tercampuri saja. Misalnya  seseorang yang bersedekah kepada sepuluh orang anak yatim. Saat  bersedekah pada anak kesatu sampai yang kelima ia ikhlas. Akan tetapi  riya’ muncul saat ia bersedekah pada anak ke-enam, maka pahala yang  terhapus adalah sedekah pada anak ke-enam. Contoh yang serupa adalah  puasa.</li>
</ol>
<p><strong>Riya’ itu Samar</strong></p>
<p>Pada asalnya, manusia memiliki kecenderungan ingin dipuji dan takut  dicela. Hal ini menyebabkan riya’ menjadi sangat samar dan tersembunyi.  Terkadang, seorang merasa telah beramal ikhlas karena Allah, namun  ternyata secara tak sadar ia telah terjerumus kedalam penyakit riya’.</p>
<p>Saudariku, pernahkah engkau mendengar langkah laki seekor semut?  Suara langkahnya begitu samar bahkan tidak dapat kita dengar. Seperti  inilah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menggambarkan kesamaran riya’. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p><em>“Kesyirikan itu lebih samar dari langkah kaki semut.” Lalu Abu  Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kesyirikan itu ialah  menyembah selain Allah atau berdoa kepada selain Allah disamping berdoa  kepada selain Allah?” maka beliau bersabda.”Bagaimana engkau ini.  Kesyirikan pada kalian lebih samar dari langkah kaki semut.”</em> (HR Abu Ya’la Al Maushili dalam <em>Musnad</em>-nya,  tahqiq Irsya Al Haq Al Atsari, cetakan pertama, tahun 1408 H, Muassasah  Ulum Al Qur’an, Beirut, hlm 1/61-62. dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Al Targhib</em>, 1/91)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengkhawatirkan  bahaya riya’ atas umat Islam melebihi kekhawatiran beliau terhadap  bahaya Dajjal. Disebutkan dalam sabda beliau: <em>“Maukah kalian aku  beritahu sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada  Dajjal.” Kami menyatakan, “Tentu!” beliau bersabda “Syirik khafi  (syirik yang tersembunyi). Yaitu seseorang mengerjakan shalat, lalu ia  baguskan shalatnya karena ia melihat ad seseorang yang memandangnya.”</em></p>
<p>Hal ini tidak akan terjadi, kecuali karena faktor pendukung yang  kuat. Yaitu karena setiap manusia memiliki kecenderungan ingin  mendapatkan pujian, kepemimpinan dan kedudukan tinggi di hadapan orang  lain.</p>
<p><strong>Bentuk Riya’</strong></p>
<p>Wahai ukhti muslimah, didalam mencapai tujuannya, para mura’i (orang  yang riya’) menggunakan banyak jalan, diantaranya sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Dengan tampilan fisik, yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah  lagi pucat dan suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang  sangat takut akhirat atau rajin berpuasa.</li>
<li>Dengan penampilan, yaitu seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan  pakaian yang seadanya agar tampil seperti ahli ibadah. Ketika  menjelaskan QS Al Fath, dalam <em>Hasyiah Ash Shawi</em> 4/134 disebutkan, <em>“Yang  dimaksud ‘bekas sujud’ bukanlah hitam-hitam di dahi sebagaimana yang  dilakukan oleh orang-orang bodoh yang ingin riya’ karena hitam-hitam di  dahi merupakan perbuatan khawarij.”</em>
</li>
<li>Dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasehat,  menghafal atsar (riwayat salaf) agar dianggap sebagai orang yang sangat  memperhatikan jejak salaf.</li>
<li>Dengan amal, yaitu seperti memperlama rukuk dan sujud ketika shalat agar tampak khusyu’ dan lain-lain.</li>
</ol>
<p><strong>Kiat Mengobati Penyakit Riya’</strong></p>
<p>Wahai saudariku, setiap insan tidak akan pernah lepas dari  kesalahan. Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang  bertaubat kepada Allah atas kesalahan yang pernah dilakukannya.</p>
<p>Hati manusia cepat berubah. Jika saat ini beribadah dengan ikhlas,  bisa jadi beberapa saat kemudian ikhlas tersebut berganti dengan riya’.  Pagi ikhlas, mungkin sore sudah tidak. Hari ini ikhlas, mungkin esok  tidak. Hanya kepada Allahlah kita memohon agar hati kita diteguhkan  dalam agama ini. َ</p>
<p>Selain itu, hendaknya kita berusaha untuk menjaga hati agar terhidar  dari penyakit riya’. Saudariku, inilah beberapa kiat yang dapat kita  lakukan agar terhindar dari riya’:</p>
<p>1. Memohon dan selalu berlindung kepada Allah agar mengobati penyakit riya’</p>
<p>Riya’ adalah penyakit kronis dan berbahaya. Ia membutuhkan  pengobatan dan terapi serta bermujahadah (bersungguh-sungguh) supaya  bisa menolak bisikan riya’, sambil tetap meminta pertolongan Allah  Ta’ala untuk menolaknya. Karena seorang hamba selalu membutuhkan  pertolongan dan bantuan dari Allah. Seorang hamba tidak akan mampu  melakukan sesuatu kecuali dengan bantuan dan anugerah Allah. Oleh  karena itu, untuk mengobati riya’, seorang selalu membutuhkan  pertolongan dan memohon perlindungan kepada-Nya dari penyakit riya’ dan  sum’ah. Demikian yang diajarkan Rasulullah dalam sabda beliau:</p>
<p><em>“Wahai sekalian manusia, peliharalah diri dari kesyirikan karena  ia lebih samar dari langkah kaki semut.” Mereka bertanya, “Wahai  Rasulullah, bagaimana cara kami memelihara diri darinya padahal ia  lebih samar dari langkah kaki semut?” beliau menjawab, “Katakanlah:</em></p>
<p>اللّهُمَّ إِنَّانَعُوْذُبِكَ مِنْ أََنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًانَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُ</p>
<p><em>‘Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang  kami ketahui. Dan kami mohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak kami  ketahui.'”</em> (HR. Ahmad)</p>
<p>2. Mengenal riya’ dan berusaha menghindarinya</p>
<p>Kesamaran riya’ menuntut seseorang yang ingin menghindarinya agar  mengetahui dan mengenal dengan baik riya’ dan penyebabnya. Selanjutnya,  berusaha menghindarinya. Adakalanya seorang itu terjangkit penyakit  riya’ disebabkan ketidaktahuan dan adakalanya karena keteledoran dan  kurang hati-hati.</p>
<p>3. Mengingat akibat jelek perbuatan riya’ di dunia dan akhirat</p>
<p>Duhai saudariku di jalan Allah, sifat riya’ tidaklah memberikan  manfaat sedikitpun, bahkan memberikan madharat yang banyak di dunia dan  akhirat. Riya’ dapat membuat kemurkaan dan kemarahan Allah. Sehingga  seseorang yang riya’ akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat.</p>
<p>4. Menyembunyikan dan merahasiakan ibadah</p>
<p>Salah satu upaya mengekang riya’ adalah dengan menyembunyikan  amalan. Hal ini dilakukan oleh para ulama sehingga amalan yang  dilakukan tidak tercampuri riya’. Mereka tidak memberikan kesempatan  kepada setan untuk mengganggunya. Para ulama menegaskan bahwa  menyembunyikan amalan hanya dianjurkan untuk amalan yang bersifat  sunnah. Sedangkan amalan yang wajib tetap ditampakkan. Sebagian dari  ulama ada yang menampakkan amalan sunnahnya agar dijadikan contoh dan  diikuti manusia. Mereka menampakkannya dan tidak menyembunyikannya,  dengan syarat merasa aman dari riya’. Hal ini tentu tidak akan bisa  kecuali karena kekuatan iman dan keyakinan mereka.</p>
<p>5. Latihan dan mujahadah</p>
<p>Saudariku, ini semua membutuhkan latihan yang terus menerus dan  mujahadah (kesungguhan) agar jiwa terbina dan terjaga dari sebab-sebab  yang dapat membawa kepada perbuatan riya’ bila tidak, maka kita telah  membuka pintu dan kesempatan kepada setan untuk menyebarkan penyakit  riya’ ini ke dalam hati kita.</p>
<p><strong>Belajar dari Para Salaf</strong></p>
<p>Duhai muslimah, berikut ini adalah kisah salaf yang menunjukkan  betapa mereka menjaga diri dari riya’ dan sum’ah. Mereka tidak  menginginkan ketenaran dan popularitas. Justru sebaliknya, mereka ingin  agar tidak terkenal. Mereka memelihara keikhlasan, mereka takut jika  hati mereka terkena ujub (bangga diri).</p>
<p>Abu Zar’ah yahya bin Abu ‘Amr bercerita: Pernah Adh-Dhahhak bin Qais  keluar untuk memohon hujan bersama-sama dengan orang-orang, tapi  ternyata hujan tidak turun dan beliau juga tidak melihat awan. Beliau  berkata: <em>“Dimana gerangan Yazid bin Al Aswad?”</em> (dalam satu riwayat: tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan beliau. Beliau pun bertanya lagi: <em>“Dimana Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi? Jika beliau mendengar, saya sangat berharap beliau berdiri.”</em>) <em>“Ini saya”</em>, seru Yazid. <em>“Berdirilah dan tolonglah kami ini di hadapan Allah. Jadilah kamu perantara(*) kami agar Allah menurunkan hujan kepada kami.”</em>,  kata Adh-Dhahhak bin Qais. Kemudian Yazid pun berdiri seraya  menundukkan kepala sebatas bahu serta menyingsingkan lengan baju beliau  kemudian berdoa: <em>“Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu ini memohon syafaatku kepada-Mu.”</em> Beliau berdoa tiga kali dan seketika itu pula turunlah hujan yang  sangat deras sehingga hampir terjadi banjir. Kemudian beliau pun  berkata: <em>“Sesungguhnya kejadian ini membuat saya dikenal banyak orang. Bebaskanlah saya dari keadaan seperti ini.”</em> Kemudian hanya berselang satu hari, yaitu Jum’at setelah peristiwa itu  beliau pun wafat. (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fasawi (2/239-pada  penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).</p>
<p>(*) <em>Dalam keadaan ini, meminta perantara dalam berdo’a  diperbolehkan, karena Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi yang menjadi  perantara masih dalam keadaan hidup, dan beliau adalah seorang yang  shaleh. Bedakan dengan keadaan orang-orang yang berdo’a meminta kepada  orang yang dianggap shaleh yang sudah meninggal dunia di kubur-kubur  mereka! dan ini merupakan Syirik Akbar yang membuat pelakunya kekal di  neraka jika belum bertaubat. -ed</em></p>
<p>Berkata Hammad bin Zaid <em>rahimahullah</em>: <em>“Saya pernah  berjalan bersama Ayyub tapi beliau melewati jalan-jalan yang membuat  diriku heran dan bertanya-tanya kenapa beliau sampai berbuat seperti  ini (berputar-putar melewati beberapa jalan). Ternyata beliau berbuat  seperti itu karena beliau tidak mau orang-orang mengenal beliau dan  berkata: ‘Ini Ayyub, ini Ayyub! Ayyub datang, Ayyub datang!'”</em> (Riwayat Ibnu Sa’ad dan lainnya).</p>
<p>Hammad berkata lagi: <em>“Ayyub pernah membawa saya melewati jalan  yang lebih jauh, maka sayapun berkata: ‘Jalan ini lebih dekat!’ Beliau  menjawab: ‘Saya menghindari kumpulan orang-orang di jalan tersebut.’  Dan memang apabila dia memberi salam, akan dijawab oleh mereka dengan  jawaban yang lebih baik dari jawaban kepada yang lainnya. Dia berkata:  ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak  menginginkannya! Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku  tidak menginginkannya!'”</em> (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fawasi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).</p>
<p>Kita berlindung kepada Allah dari penyakit riya’. Semoga Allah  menjadikan kita seorang mukhlishah, senantiasa berusaha untuk menjaga  niat dari setiap amalan yang kita lakukan. <em>Innamal ‘ilmu ‘indallah. Wa’allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<ol>
<li>Terjemah <em>Sittu Duror</em>, <em>Landasan Membangun Jalan Selamat</em>. ‘Abdul Malik Ahmad Ramdhani. Media Hidayah. Cetakan pertama. 2004.</li>
<li>
<em>Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi</em>. Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam. Cetakan pertama. LBIA Al Atsary.</li>
<li>Majalah As-Sunnah edisi 05/ VIII/ 1425H/ 2004M.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 