
<h4><span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><b>1. Kesalahan ketika mengqadha’ shalat yang telah lalu</b></span></span></h4>
<p><span lang="en-US">Apabila ketinggalan shalat Maghrib misalnya, sebagian kaum muslimin mengqadha’nya bersama dengan shalat Maghrib pada keesokan harinya. Ini adalah suatu kesalahan yang besar, sebab Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda:</span></p>
<p class="arab" align="RIGHT">إِنَّهُ لَيْسَ فِى النَّوْمَ تَفْرِيْطُ إِنَّمَا التَّفْريْطُ فِى الْيَقْظَةِ<span lang="en-US">, </span>فَإِذَا نَسِىَ أَحَدُكُمْ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا</p>
<p>“<span lang="en-US"><em>Tidak ada kelalaian ketika tidur. Sesungguhnya kelalaian itu terjadi hanya ketika terjaga. Oleh karena itu, apabila salah seorang di antara kalian lupa mengerjakan shalat ataupun tertidur, hendaknya dia mengerjakannya selagi ingat</em>.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a></p>
<p><span lang="en-US">Hal itu disebabkan karena dia tidak tahu kapan dirinya akan menemui kematian. Maka alangkah baiknya bila dia mendahulukan hak Allah atas segala sesuatu.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><b>2. Shalat pada waktu-waktu yang dilarang</b></span></span></h4>
<p><span lang="en-US">Kadangkala, sebagian orang mengerjakan shalat <em>nafilah</em> (sunnah) pada waktu-waktu yang dilarang oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ini adalah kesalahan yang jelas di kalangan mereka. Sebab, shalat <em>nafilah</em> itu tidak dibenarkan bila dikerjakan di setiap waktu. Akan tetapi, ada waktu-waktu yang dilarang mengerjakannya.</span></p>
<p><span lang="en-US">Dari Amr bin Abasah, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Nabiyullah, beritahukan kepadaku tentang shalat?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kerjakanlah shalat Subuh kemudian berhentilah mengerjakannya hingga matahari terbit dan naik karena matahari terbit di antara dua tanduk setan.pada saat itu, orang-orang kafir sedang bersujud kepadanya. Kemudian baru shalatlah, karena shalat pada waktu itu akan disaksikan dan dihadiri hingga ia akan membawa naungan dengan tombak. Kemudian berhentilah mengerjakan shalat ketika matahari tegak di atas kepalamu, karena pada saat itu neraka Jahannam tengah dinyalakan. Jika engkau telah mendapat bayangan, maka kerjakanlah shalat. Karena shalat pada saat itu akan disaksikan dan dihadiri hingga engkau mengerjakan shalat Ashar. Kemudian berhentilah shalat hingga menjelang Maghrib, karena matahari terbenam di antara dua tanduk setan. Pada saat itu, orang-orang kafir bersujud kepadanya.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim, juga oleh Abu Dawud dan yang pertama adalah darinya. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, waktu malam manakah yang didengar (oleh Allah ketika manusia berdoa, -ed.)? Beliau lalu menjawab:</span></p>
<p class="arab" align="RIGHT">جُوْفُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَصَلُّ مَا شِئْتَ<span lang="en-US">, </span>فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُوْدَةٌ مَكْتُوْبَةٌ حَتَّى تُصَلِّى الصُّبْحِ</p>
<p>“<span lang="en-US"><em>Yaitu sepertiga akhir malam, lantas shalatlah sesukamu. Karena shalat pada waktu itu akan disaksikan dan dicatat (pahalanya) hingga engkau mengerjakan shalat Subuh”</em></span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a></p>
<p><span lang="en-US">Sabda Rasulullah ‘<em>tartafi’</em> (naik)’ dalam hadits tersebut menunjukan bahwa larangan shalat setelah Subuh tidak otomatis hilang dengan terbitnya matahari, tetapi harus setelah matahari naik. Hadits di atas menunjukan makruhnya mengerjakan shalat sunnah setelah shalat Ashar dan shalat Subuh serta makruhnya mengerjakan shalat ketika matahari terbit, berada di tengah (tengah hari), dan terbenam.</span></p>
<p><span lang="en-US">Uqbah bin Amir berkata, “Tiga waktu yang dilarang oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada kami untuk mengerjakan shalat atau menguburkan orang yang meninggal dari kami, yakni; ketika matahari mulai terbit hingga naik, ketika matahari berada di tengah (tengah hari), dan ketika matahari doyong hendak terbenam hingga terbenam.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a></p>
<p><span lang="en-US">Imam Asy-Sayukani berkata, “Mereka berselisih mengenai shalat <em>nawafil</em> yang memiliki sebab seperti shalat Tahiyat, sujud tilawah, sujud syukur, shalat Id, shalat Kusuf, shalat Jenazah, dan shalat-shalat yang diqadha’.</span></p>
<p><span lang="en-US">Menurut madzhab Imam Syafi’I beserta kelompoknya, semua shalat di atas diperbolehkan tanpa dimakruhkan. Adapaun menurut madzhab Imam Abu Hanifah dan madzhab lainnya, shalat-shalat di atas termasuk yang dilarang berdasarkan keumuman hadits.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></p>
<p><span lang="en-US">Adapun shalat-shalat fardhu yang telah lalu, maka jumhur ulama berpendapat boleh mengqadha’nya kapan saja hingga pada waktu yang dilarang mengerjakannya berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</span></p>
<p class="arab" align="RIGHT">مَنْ نَسِىَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَرَتُهَا أَنْ يُصَلِّيْهَا إِذَا ذَكَرهَا</p>
<p>“<span lang="en-US"><em>Barangsiapa yang lupa mengerjakan shalat atau tertidur, maka kafaratnya adalah hendaknya dia mengerjakannya ketika dia ingat</em>.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a></p>
<p><span lang="en-US">Dalam suatu riwayat disebutkan, “<em>Barangsiapa yang lupa mengerjakan shalat, maka hendaknya dia mengerjakan ketika dia ingat</em>.” Sebab Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</span></p>
<p align="RIGHT"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: x-large;">وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِى</span></span></span></p>
<p>“<span lang="en-US"><em>Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku</em>“. (Thaha [20]: 14)</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a></p>
<p><span lang="en-US">Adapun mengenai shlat Jenazah, apakah termasuk dalam keumuman larangan.</span></p>
<p><span lang="en-US">Al-Albani mengatakan, “Wajib mengakhirkan penguburan jenazah hingga keluar waktu yang dimakruhkan kecuali jika dikhawatirkan mayitnya akan berubah.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote7sym" name="sdfootnote7anc"><sup>7</sup></a></p>
<p>***</p>
<h5><span lang="en-US">Catatan kaki<br>
</span></h5>
<div id="sdfootnote1">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a> <span lang="en-US">Diriwayatkan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-I, dan Ibnu Majah, Shahih Al-Jami’ (2410).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a> <span lang="en-US">Dikeluarkan oleh Muslim (I/294) dan Abu Dawud (2/1277).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a> <span lang="en-US">Dikeluarkan oleh Muslim (1/293) Musafirin, dan At-Tirmidzi (3/1030)</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a> <span lang="en-US">Nail Al-Authar (3/110).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a> <span lang="en-US">Bukhari, Muslim dari Anas, Shahih Al-Jami’ (6571).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a> <span lang="en-US">Dikeluarkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa-I dari Abu Hurairah, Shahih Al-Jami’(6569).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote7anc" name="sdfootnote7sym">7</a> <span lang="en-US">Ahkamul Janaiz, karya Al-Albani (hal. 83).</span></span></p>
<p>—</p>
<p><span lang="en-US">Disalin ulang dari buku “<em>400 Kesalahan dalam shalat</em>“, Mahmud Al-Mishri, penerbit Media Zikir</span></p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
</div>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 