
<p><strong>KERASKAH BACAAN BASMALAH?</strong></p>
<p>Pertanyaan<br>
Mohon dibahas tentang lafazh <strong>“<em>bismillahirahmanirrahim”</em></strong> pada surat al Fatihah dan surat lainnya. Dibaca keras ataukah pelan?</p>
<p>Jawaban.<br>
Para ulama berselisih pendapat tentang <em>basmallah</em> pada awal surat-surat di dalam al Qur`an, apakah termasuk al Qur`an dan termasuk surat itu, ataukah tidak?</p>
<p>Yang <em>rajih</em> (lebih kuat) –<em>wallahu a’lam</em>– bahwa <em>basmallah</em> pada awal semua surat di dalam al Qur`an termasuk ayat al Qur`an, karena telah ditetapkan dan ditulis di dalam mushhaf. Dan umat juga telah Ijma’, bahwa semua yang ditulis para sahabat di antara dua sampul mushhaf itu adalah al Qur`an.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Dan yang <em>rajih</em> juga, bahwa <em>basmalah</em> di awal surat itu tidak termasuk bagian dari surat tersebut, termasuk surat al Fatihah. Sehingga ayat pertama dalam surat al Fatihah adalah <strong>الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</strong><strong>, </strong>sedangkan ayat keenam adalah <strong>صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ</strong><strong>, </strong>dan ayat ketujuh adalah<strong>غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ </strong><strong>. <a href="#_ftn2" name="_ftnref2"><strong>[2]</strong></a></strong></p>
<p>Para ulama juga berselisih, apakah imam mengeraskan <em>basmallah</em> ketika dalam shalat <em>jahriyah</em>? Dalam permasalahan ini terdapat dua pendapat. <a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p><strong>Pertama.</strong> Disunnahkan dibaca pelan. Ini merupakan pendapat Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, Ali, dan sahabat Ibnu Mas’ud, Ibnu Zubair, dan ‘Ammar Radhiyallahu anhum. Juga pendapat al Auza’i, Sufyan ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Hanabilah dan Ash-habur Ra’yi. Ini adalah pendapat <em>jumhur</em> ulama. Begitu pula dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, beliau rahimahullah memilih pendapat ini.</p>
<p><strong>Kedua.</strong> Disunnahkan dibaca keras. Pendapat ini masyhur sebagai pendapat Imam Syafi’i.</p>
<p><strong>Yang rajih adalah pendapat pertama</strong>, karena dalil-dalilnya shahih dan tegas. Adapun pendapat kedua, sebagian dalilnya <em>dha’if</em>, sedangkan yang shahih tidak <em>sharih</em> (tegas) menunjukkan pendapat tersebut.</p>
<p>Berikut ini di antara dalil pendapat pertama.</p>
<p><strong>عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ (وَعُثْمَانُ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةَ بِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</strong></p>
<p><em>Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakar, dan Umar,  (dan ‘Utsman), mereka semua membuka shalat dengan</em>  <strong>الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</strong><strong> . </strong>[HR Bukhari, no. 743; Muslim, no. 399; tambahan <em>“dan Utsman”</em> pada riwayat Tirmidzi, no. 246].</p>
<p>Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam Tirmidzi rahimahullah mengatakan: “Amalan ini dilakukan oleh para sahabat nabi Radhiyallahu anhum , dan para tabi’in setelah mereka. Mereka membuka bacaan dengan <strong>الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</strong><strong>. </strong>Tetapi (Imam) Syafi’i berkata,’Makna hadits ini adalah, bahwa <em>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman, mereka semua membuka bacaan (shalat) dengan</em> membaca al Fatihah sebelum surat. Dan maknanya, bukanlah mereka tidak membaca <strong>بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</strong>. (Imam) Syafi’i berpendapat, (imam) memulai dengan <strong> بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</strong>  dan mengeraskannya, jika dia mengeraskan bacaan’.” [Sunan Tirmidzi, no. 246].</p>
<p>Akan tetapi, pendapat Imam Syafi’i rahimahullah ini terbantah dengan riwayat lain, yang menegaskan bahwa mereka itu benar-benar memulai bacaan dengan <em>hamdallah</em>, dan tidak dengan <em>basmalah</em>. Yaitu tambahan yang ada pada riwayat Imam Muslim:</p>
<p><strong>لَا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا </strong></p>
<p>Dan mereka tidak menyebutkan pada awal bacaan (al Fatihah, <strong>Red</strong>), dan tidak pula pada akhir bacaan (al Fatihah, yaitu awal surat setelahnya, <strong>Red</strong>). [HR Muslim, no. 399].</p>
<p>Juga pada riwayat yang lain, lebih tegas lagi disebutkan :</p>
<p><strong>عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ </strong></p>
<p><em>Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan bersama Abu Bakar, Umar, ‘Utsman. Aku tidak mendengar seorangpun dari mereka membaca </em><strong>بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ </strong><strong> .” </strong>[HR Muslim, no. 399].</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, setelah menjelaskan masalah ini secara panjang lebar, dan memilih bahwa menurut Sunnah adalah membaca <em>basmalah</em> dengan pelan, beliau rahimahullah berkata: “Bersamaan dengan ini, maka yang benar (bacaan) yang tidak dikeraskan. Terkadang disyari’atkan untuk dikeraskan, karena mashlahat yang lebih kuat. Maka terkadang disyari’atkan bagi imam (mengeraskannya, <strong>Red</strong>) sebagai misal untuk pengajaran kepada makmum. Dan terkadang makmum boleh mengeraskan dengan sedikit kalimat. Seseorang juga boleh meninggalkan sesuatu yang lebih utama untuk merekatkan hati-hati (manusia) dan menyatukan kalimat, karena takut menjauhnya (manusia) dari hal yang baik”. [<em>Majmu’ Fatawa</em>, 22/436].</p>
<p>Perlu juga kita pahami, <strong>adanya perselisihan dalam masalah ini tidak boleh dibesar-besarkan, yang kemudian dapat menjadi sebab kebencian dan perpecahan uma</strong>t.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X/1427/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
________<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Lihat <em>Majmu’ Fatawa Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah</em> 22/434; <em>Syarh Aqidah Wasithiyah</em>, karya Syaikh Khalil Harras.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Lihat <em>Tafsir Juz ‘Amma</em>, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, hlm. 10-11, penjelasan tentang apakah basmalah termasuk surat al Fatihah.<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, 1/541-544, karya Abu Malik Kamal bin as Sayid Salim.</p>
 