
<p>Kenapa kita harus menjaga rahasia? Seberapa pentingnya? Dalil-dalil berikut akan jadi penjelas, kenapa kita harus menjaga rahasia.</p>
<p> </p>
<p><strong>Dalil pertama:</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً</span></p>
<p>“<em>Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan</em>.” (QS. Al Isra’: 34)</p>
<p> </p>
<p><strong>Dalil kedua:</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ</span></p>
<p>“<em>Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, berkhianat</em>.” (HR. Muslim, no. 59)</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/25293-lima-ciri-munafik-hadits-jamiul-ulum-wal-hikam-48.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Lima Tanda Munafik</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Dalil ketiga: </strong></p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيثَ ثُمَّ التَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ</span></p>
<p>“<em>Jika seseorang menceritakan suatu peristiwa kemudian ia berpaling, maka cerita itu menjadi amanah.”</em> (HR. Abu Daud, no. 4868; Tirmidzi, no. 1959; Ahmad, 14514. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini <strong><em>hasan</em></strong>).</p>
<p> </p>
<p><strong>Dalil keempat:</strong></p>
<p>Dari Sufyan bin Asid Al-Hadhrami <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> ia mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">كَبُرَتْ خِيَانَةً أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاكَ حَدِيثًا هُوَ لَكَ بِهِ مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ لَهُ بِهِ كَاذِبٌ</span></p>
<p>”<em>Khianat terbesar adalah ketika engkau membicarakan saudaramu perkara yang bagimu itu menganggap dirimu jujur, padahal baginya dirimu adalah pembohong</em>.” (HR. Abu Daud, no. 4971. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini <strong><em>dhaif</em></strong>).</p>
<p> </p>
<p><strong>Dalil kelima: </strong></p>
<div class="d-block mb-2">Dari Abu Sa’id Al-Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</div>
<div>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya</em>.” (HR. Muslim, no. 1437).</p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkata menjelaskan maksud rahasia di sini adalah,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">ُمَا يَكُوْنُ مِنْ عُيُوْبِ البَدَنِ البَاطِنَةِ، وَذَاكَ كَالأَمَانَةِ فَلِزَمَ كِتْمَانَه</span></p>
</div>
<p>“Yang dimaksud dengan rahasia dalam hadits ini adalah aib atau cacat yang ada pada badan yang tak terlihat. Ini adalah amanah yang harus dijaga.” (<em>Kasyf Al-Musykil min Hadits Ash-Shahihain</em>, 3:174)</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/2178-aturan-dalam-hubungan-intim-2.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Aturan Dalam Hubungan Intim, Jangan Menyebar Rahasia Hubungan Ranjang</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Dalil keenam:</strong></p>
<p>Dari Tsabit, dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">أتَى عَلَيَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وَأنَا ألْعَبُ مَعَ الغِلْمَانِ ، فَسَلمَ عَلَيْنَا ، فَبَعَثَني إِلَى حاجَةٍ ، فَأبْطَأتُ عَلَى أُمِّي . فَلَمَّا جِئْتُ ، قالت : مَا حَبَسَكَ ؟ فقلتُ : بَعَثَني رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – لِحَاجَةٍ ، قالت : مَا حَاجَتُهُ ؟ قُلْتُ : إنَّهاَ سرٌّ . قالت : لا تُخْبِرَنَّ بِسرِّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحَداً ، قَالَ أنَسٌ : وَاللهِ لَوْ حَدَّثْتُ بِهِ أحَداً لَحَدَّثْتُكَ بِهِ يَا ثَابِتُ</span></p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangiku dan di waktu itu aku sedang bermain-main dengan beberapa orang anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada kami, kemudian menyuruhku untuk sesuatu keperluannya. Oleh sebab itu aku terlambat mendatangi ibuku. Selanjutnya setelah aku datang, ibu lalu bertanya, ‘Apakah yang menahanmu?’”</p>
<p>Aku pun berkata, “Aku diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sesuatu keperluannya.”</p>
<p>Ibu bertanya, “Apakah hajatnya itu?”</p>
<p><strong>Aku menjawab, “Itu adalah rahasia.”</strong></p>
<p>Ibu berkata, “Kalau begitu jangan sekali-kali engkau memberitahukan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut kepada siapa pun juga.”</p>
<p>Anas berkata, “Demi Allah, andaikata rahasia itu pernah aku beritahukan kepada seseorang, sesungguhnya aku akan memberitahukan hal itu kepadamu pula, wahai Tsabit.” (HR. Muslim, no. 2482)</p>
<p> </p>
<p><strong>Dalil ketujuh:</strong></p>
<p>Dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata, “Kami semua, para istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sedang berada di sisi beliau pada saat itu. Kemudian menghadaplah putri beliau, Fathimah <em>radhiyallahu ‘anha</em> dengan berjalan dengan cara jalannya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Ketika beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihatnya, beliau pun menyambutnya dengan baik dan bersabda, “Marhaban hai putriku.” Fathimah disuruhnya duduk di sebelah kanannya atau -menurut riwayat lain- di sebelah kirinya. Seterusnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> membisikinya, lalu Fathimah menangis dengan tangisnya yang keras sekali.</p>
<p>Setelah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat kegelisahan putrinya lalu dibisikinya sekali lagi. Fathimah pun tertawa.”</p>
<p>Aku berkata kepada Fathimah, “Engkau telah diistimewakan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di antara sekalian istri-istrinya dengan dibisiki, kemudian engkau menangis.” Sesudah Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdiri dari tempatnya, lalu aku bertanya kepada Fathimah, “Apakah yang disabdakan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> padamu itu?” Fathimah menjawab,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">مَا كُنْتُ لأُفْشِي عَلَى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سِرَّهُ</span></p>
<p><strong>“Aku tidak akan menyebarkan apa yang dirahasiakan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em>“</strong></p>
<p>Sesudah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat, aku pun berkata kepada Fathimah, “Aku sengaja hendak bertanya kepadamu dengan cara yang sebenarnya, supaya engkau memberitahukan kepadaku apa yang disabdakan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.“</p>
<p>Fathimah menjawab, “Sekarang aku akan memberitahumu. Adapun yang dibisikkan oleh beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada pertama kalinya, yaitu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberitahukan kepada aku bahwasanya Jibril dahulunya memberikan kepadanya wahyu dari Al-Quran itu dalam setahun sekali, sedang sekarang dalam setahun diberikan dua kali. Beliau<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui tentang datangnya ajalku itu, melainkan tentu sudah dekat. Maka dari itu bertakwalah engkau dan bersabarlah, sesungguhnya saja sebaik-baiknya salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” Karena itu lalu aku menangis sebagaimana tangisku yang engkau lihat dulu itu.</p>
<p>Selanjutnya setelah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat betapa kegelisahan hatiku, lalu aku dibisikinya untuk kedua kalinya, lalu beliau bersabda, “Wahai Fathimah, tidakkah engkau suka jikalau engkau menjadi penghulu dari seluruh wanita dari kalangan kaum mukminin atau penghulu dari seluruh wanita dari kalangan umat ini?” Oleh karena itu, maka aku pun tertawa sebagaimana yang dulu engkau lihat.” (Muttafaq ‘alaih, dan Ini adalah lafazh Muslim)</p>
<p> </p>
<p><strong>Dalil kedelapan:</strong></p>
<p>Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> juga pernah menceritakan bahwa ketika saudari perempuannya Hafshah bintu Umar menjanda,  Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu lalu menawarkan Hafshah kepada Utsman. Utsman radhiyallahu ‘anhu lalu menolak tawaran Umar.</p>
<p>Umar kemudian menawarkan Hafshah kepada sahabat yang lain, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakr hanya terdiam, tidak memberi jawaban. Umar pun menjadi marah kepada Abu Bakr.</p>
<p>Setelah beberapa hari, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ternyata datang meminang Hafshah. Umar pun lantas menikahkan putrinya itu dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Setelah itu Abu Bakar menemui Umar dan berkata, “Mungkin engkau marah kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah tetapi aku tidak memberikan jawaban?”</p>
<p>Umar berkata, “Ya.”</p>
<p>Abu Bakar lalu berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">فإنه لم يَمْنَعْنِي أَنْ أَرْجَعَ إليك فيما عرضْتَ عليَّ إلا أني كنتُ علمْتُ أَنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قد ذكرَها ، فلم أَكُنْ لأُفْشِي سرَّ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، ولو تركَها رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قبلْتُهَا.</span></p>
<p>“Sebenarnya tidak ada yang menghalangi diriku untuk memberi jawaban atas tawaranmu, hanya saja sebelumnya aku telah mendengar Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah menyebut-nyebut nama Hafshah. Oleh karena itu aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Andaikata beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meninggalkannya, sungguh akulah yang akan menikahinya.” (HR. Bukhari, no. 5122)</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/18647-istri-nabi-hafshah-binti-umar.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Istri Nabi Hafshah binti ‘Umar</span></a></span></strong></p>
<blockquote><p>Kesimpulannya: Marilah jaga rahasia orang lain, itu adalah amanah. Jika memang kita tidak bisa menjaga amanah, jangan mau dititipkan suatu rahasia pada kita.</p></blockquote>
<p>Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.</p>
<p> </p>
<p>–</p>
<p style="text-align: left;">Selesai disusun Kamis Siang, 14 Dzulhijjah 1443 H, 14 Juli 2022</p>
<p style="text-align: left;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></strong></p>
 