
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Di antara Kelalaian Pemuda Zaman Ini</b></span></h4>
<h5><b>1. Kurang perhatian terhadap Kitabullah</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Wahai pemuda Islam, camkan sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berikut ini:</span></p>
<p style="text-align: right;">إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما، ويضع به آخرين</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya Allah meninggikan derajat suatu kaum dengan sebab berpegang teguh terhadap Kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan kaum lainnya dengan sebab menelantarkan Kitab ini” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Imam Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nah, tentulah sosok pemuda Islam yang hebat, memilih menjadi sosok hamba Allah yang ditinggikan derajatnya oleh-Nya! Ia tidak ingin menjadi generasi yang lemah dan hina. Ketinggian derajat pemuda Islam itu diraih dengan berpegang teguh terhadap Al-Qur’an. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketahuilah, bahwa seorang hamba dikatakan berpegang teguh dengan Al-Qur’an, ketika ia merealisasikan tujuan Al-Qur’an diturunkan. Jika Anda bertanya apakah tujuan Al-Quran diturunkan, simaklah jawaban berikut ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Al-Qur’an diturunkan untuk tiga tujuan: beribadah dengan membacanya, memahami makna, dan mengamalkannya” (Ushul fit -Tafsir)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Qur’anul Karim</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: right;">كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Ibrahim:1).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan, “Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta`ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shalallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk menyampaikan manfaat kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman, dan akhlak yang baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Firman Allah yang artinya “dengan izin Tuhan mereka”, maksudnya adalah mereka tidak mampu meraih tujuan yang dicintai oleh Allah melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah. Di sini terdapat dorongan bagi hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka. Allah juga menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Al-Qur’an, dengan berfirman yang artinya “</span><i><span style="font-weight: 400;">(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”, </span></i><span style="font-weight: 400;">maksudnya adalah yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Penyebutan firman Allah yang artinya “</span><i><span style="font-weight: 400;">Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji</span></i><span style="font-weight: 400;">” setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya mengisyaratkan bahwa orang yang meniti jalan tersebut adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah. Iapun kuat, meski hanya Allah yang menjadi penolongnya. Urusan-urusan orang tersebut terpuji lagi memperoleh dampak yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya, akhlak buruk, ideologi sesat dan tingkah laku yang menyimpang, ingin terlepas dari kehinaan, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya</span><b>. </b><span style="font-weight: 400;">Akrablah dengannya dalam keseharian. Sebaliknya, jika seorang pemuda jauh dari Al-Qur’an, jarang membacanya, sedikit memahami kandungannya, banyak menelantarkannya, maka akan menemui kehinaan, dan kerendahan di dunia dan akhirat.</span></p>
<h5><b>2. Banyak meninggalkan kewajiban menuntut ilmu agama Islam</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Wahai pemuda Islam, ingatlah bahwa Rabb Anda telah mewajibkan Anda menuntut ilmu agama Islam, sekadar bekal Anda dalam melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;">طلب العلم فريضة على كل مسلم</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<em>Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim</em>” (HR. Ibnu Majah. Hadits ini dihasankan oleh As-Suyuthi, Adz-Dzahabi dan disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Ibnu Majah</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari hadits yang agung di atas, ulama menjelaskan tentang adanya jenis ilmu yang hukum mempelajarinya </span><i><span style="font-weight: 400;">fardhu ‘ain </span></i><span style="font-weight: 400;">(wajib mutlak). </span></p>
<p><b>Ciri khas ilmu fardhu ‘ain itu adalah :</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seorang hamba tidak mengetahui ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">fardhu ‘ain</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka  ia tidak bisa menunaikan kewajiban. Hal ini mengakibatkannya jatuh dalam dosa. Dengan kata lain, jika seseorang tidak mempelajari ilmu </span><i><span style="font-weight: 400;">fardhu ‘ain</span></i><span style="font-weight: 400;">, akan terjatuh kedalam dua kemungkinan:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Tidak bisa melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang wajib dilaksanakan sehingga berdosa.</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Melakukan larangan Allah dan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang wajib ditinggalkan (yang haram dilakukan), sehingga terjatuh kedalam dosa.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, Imam Ahmad </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">pernah menjelaskan tentang hal itu,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">يجب أن يطلب من العلم ما يقوم به دينه، قيل له مثل أي شيء؟ قال: الذي لا يسعه جهله: صلاته و صيامه، و نحو ذلك</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menuntut ilmu yang menjadi landasan tegaknya agama adalah wajib. Beliau ditanya, ‘Contohnya apa?’ Beliau menjawab, ‘Ilmu yang harus diketahuinya adalah tentang sholat dan puasa, serta yang semisal itu.’” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Malik </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika ditanya tentang menuntut ilmu syar’i, beliau menjawab,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">كله خير و لكن انظر إلى ما تحتاجه في يومك و ليلتك فاطلبه</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Semuanya baik, akan tetapi lihatlah kepada ilmu yang engkau butuhkan sehari semalam, maka carilah ilmu tersebut”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika pemuda Islam disibukkan dengan ilmu yang dibutuhkan dalam keseharian mereka, berupa ilmu tentang iman dan tauhid (keyakinan yang benar), serta ibadah (amal yang sah), maka </span><i><span style="font-weight: 400;">biidznillah</span></i><span style="font-weight: 400;">, kejayaan umat Islam akan menyertai kaum muslimin. Namun sebaliknya, ketika para pemuda disibukkan dengan pengetahuan yang sia-sia, bahkan pengetahuan yang membahayakan mereka, apalagi ketika mereka jauh dari agama Islam, maka tunggulah kehancuran umat ini.</span></p>
<h5><b>3. Melalaikan Hati</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemuda Islam yang benar-benar ingin berjumpa dengan Allah, tentunya sangat memperhatikan kondisi hatinya. Karena ia paham bahwa bekal untuk berjumpa dengan Allah adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">qolbun salim </span></i><span style="font-weight: 400;">(hati yang bersih)</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagaimana Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman :</span></p>
<p style="text-align: right;">يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(88) “</span><i><span style="font-weight: 400;">(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p style="text-align: right;">إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ<span style="line-height: 1.5;">                    </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(89) “</span><i><span style="font-weight: 400;">kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Asy-Syu’araa`: 88-89).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hati yang bersih itu maksudnya adalah bersih dari paham rancu dan penyakit syahwat, bentuknya bisa berupa kesyirikan, kebid’ahan, dan berbagai macam kemaksiatan. Hanya saja yang kerap menjadi problem banyak dari pemuda Islam, ketika terjangkiti sebagian penyakit tersebut, mereka tidak mengetahui terapi penyakitnya yang benar atau telah menjalani terapi yang benar, namun tidak lengkap atau mengetahui terapi yang lengkap, namun tidak sabar menjalaninya. Bagaimana terapi yang benar dan lengkap? Berikut ini ulasannya.</span></p>
<p><b>Tiga kaedah besar terapi penyakit</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan pengamatan terhadap ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa terapi untuk pengobatan penyakit hati tersimpul dalam tiga macam cara pengobatan. Beliau menyebutnya dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">“madaarush shihhah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (ruang lingkup pengobatan), dan ketiga macam cara inilah yang  diterapkan oleh para dokter dalam mengobati pasien mereka. Tiga macam cara pengobatantersebut adalah:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">1).</span> <b><i>Hifzhul quwwah</i></b><span style="font-weight: 400;"> (memelihara kekuatan dan kondisi hati), yaitu dengan memperbanyak melakukan ibadah dan amalan shaleh untuk meningkatkan keimanan, seperti mambaca Al-Qur`an dengan menghayati kandungan maknanya, berzikir, mempelajari ilmu agama yang bermanfaat, utamanya ilmu tauhid, dan lain-lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">2). </span><b><i>Al Himyatu ‘anil mu’dzi</i></b> <span style="font-weight: 400;">(menjaga hati dari penyakit-penyakit lain dan sarana dosa), yaitu dengan cara menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa, maksiat dan jalan serta sarana penghantar kemaksiatan, karena perbuatan-perbutan tersebut akan semakin memperparah dan menambah penyakit hati, atau melemahkan kekuatan iman dalam hati.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">3). </span><b><i>Istifragul mawaaddil faasidah</i></b><span style="font-weight: 400;"> (membersihkan noda-noda hitam dalam hati yang merusak, sebagai akibat dari perbuatan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan), yaitu dengan cara </span><i><span style="font-weight: 400;">beristigfar</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan bertaubat dengan taubat yang tulus kepada Allah .</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja selama proses pengobatan penyakit hati ini, seorang muslim membutuhkan kesungguhan dan usaha keras untuk menundukkan dan memaksa hawa nafsunya agar bisa melaksanakan cara-cara pengobatan di atas, artinya, sebelum dia mencapai kesempurnaan iman, yang dengan itu dia akan merasakan kemanisan dan kelezatan iman, di awal perjalanannya menempuh jalan Allah ini, dia mesti merasakan kepahitan dan kesusahan terlebih dahulu dalam proses penngobatan penyakit hati/imannya. Dia harus berusaha keras dan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mengamalkan terapi tersebut agar proses terapi penyakit hati itu berlangsung dengan baik dan sempurna, sebagaimana orang sakit yang tidak bisa merasakan nikmatnya makanan lezat, kalau dia benar-benar ingin sembuh, maka dia harus berusaha dan memaksa dirinya untuk meminum obat yang rasanya pahit dan getir secara teratur, dan mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk menjaga kondisinya meskipun makanan tersebut terasa pahit di lidahnya dan susah ditelan. Proses inilah yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: right;">حجبت الجنّة بالمكاره و حجبت النار بالشهوات</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jannah (Surga) itu dikelilingi (ditutupi) dengan perkara-perkara yang susah dan tidak disenangi oleh nafsu manusia, sedangkan neraka itu dikelilingi dengan perkara-perkara yang disenangi oleh nafsu syahwat manusia</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Al Bukhari 5/2379 dan Muslim 4/2174 dari Abu Hurairah).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang perlu diingat dan dicamkan di sini, bahwa rasa berat dan kesusahan ini hanyalah dirasakan di awal menempuh jalan mencapai ridha Allah, yaitu selama proses pengobatan penyakit hati berlangsung, karena hal ini memang Allah jadikan untuk menguji kesungguhan dan kesabaran seorang hamba dalam berjuang menundukkan hawa nafsunya di jalan-Nya. Maka setelah terbukti kesungguhan dan kesabaran hamba tersebut, barulah kemudian Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada hamba tersebut, dengan menghilangkan penyakit hatinya dan menganugrahkan kesempurnaan dan kemanisan iman kepadanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui, wahai pemuda Islam, bahwa hidayah yang Allah berikan itu tergantung dari besar-kecilnya kesabaran dan kesungguhan seorang hamba dalam menempuh jalan Allah  ini. Allah  berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;">وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh (dalam menundukkan hawa nafsu) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami berikan hidayah kepada mereka (dalam menempuh) jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al ‘Ankabuut: 69).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah ketika menjelaskan ayat di atas berkata: “</span><i><span style="font-weight: 400;">(Dalam ayat ini) Allah  menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah ) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><b>Studi Kasus</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan di atas, mari kita ambil suatu kasus untuk kita pelajari bagaimana terapinya. Misalnya, pemuda yang memiliki penyakit hati atau dosa suka tawuran masal secara zhalim, maka tentu tidak cukup lengkap jika terapinya hanya sekedar dinasehati untuk meninggalkan tawuran saja, sementara tidak disertai proses terapi yang lain. Karena itu baru sebagian dari jenis terapi yang ketiga, yaitu </span><b><i>Istifragul mawaaddil faasidah</i></b><span style="font-weight: 400;"> (membersihkan noda-noda hitam dalam hati yang merusak, sebagai akibat dari perbuatan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu perlu dilakukan terapi yang pertama, </span><b><i>Hifzhul quwwah</i></b><span style="font-weight: 400;"> (memelihara kekuatan dan kondisi hati). Dalam hal ini, misalnya mengetahui tentang Tauhid dan mengamalkannya, mengisi waktu luang dengan menghadiri majelis </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’lim</span></i><span style="font-weight: 400;">, menjaga shalat lima waktu, dan bergaul dengan teman-teman yang shalih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Serta melakukan terapi kedua,  </span><b><i>Al Himyatu ‘anil mu’dzi</i></b> <span style="font-weight: 400;">(menjaga hati dari penyakit-penyakit lain dan sarana dosa), misalnya: meninggalkan teman-teman yang jelek, tempat-tempat berkumpul mereka, aktifitas yang sia-sia bersama mereka dan menjaga diri dari melakukan kemaksiatan yang lainnya.</span></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 