
<p>Kebaikan selalu menenteramkan jiwa dan kejelekan selalu menggelisahkan jiwa. Itulah realita yang ada pada umumnya manusia.</p>
<p>Dari cucu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, Al Hasan bin ‘Ali, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Tinggalkanlah  yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu.  Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu)  akan menggelisahkan jiwa.</em>” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200, <em>shahih</em>) Dalam lafazh lain disebutkan, “<em>Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan kejelekan selalu mendatangkan kegelisahan.</em>” (HR. Al Hakim 2/51, shahih)</p>
<p>Dalam hadits lainnya, dari Nawas bin Sam’an, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Kebaikan  adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah  sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan,  tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.</em>” (HR. Muslim no. 2553). An Nawawi <em>rahimahullah </em>menjelaskan,  “Dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Di hati  pun akan tampak tidak tenang dan selalu khawatir akan dosa.” (Syarh  Muslim, 16/111)</p>
<p>Sampai-sampai jika seseorang dalam keadaan bingung, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memerintahkan  menanyakan pada hatinya, apakah perbuatan tersebut termasuk dosa  ataukah tidak. Ini terjadi tatkala hati dalam keadaan gundah gulana dan  belum menemukan bagaimanakah hukum suatu masalah. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah menasehatkan pada Wabishoh, “<em>Mintalah  fatwa pada jiwamu. Mintalah fatwa pada hatimu (beliau mengatakannya  sampai tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan  menentramkan hati. Sedangkan kejelekan (dosa) selalu menggelisahkan jiwa  dan menggoncangkan hati.</em>” (HR. Ad Darimi 2/320 dan Ahmad 4/228, hasan lighoirihi)</p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali <em>rahimahullah </em>menjelaskan,  “Hadits Wabishoh dan yang semakna dengannya menunjukkan agar kita  selalu merujuk pada hati ketika ada sesuatu yang merasa ragu. Jika jiwa  dan hati begitu tenang, itu adalah suatu kebaikan dan halal. Namun jika  hati dalam keadaan gelisah, maka itu berarti termasuk suatu dosa atau  keharaman” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 304). Ingatlah bahwasanya  hadits Wabishoh dimaksudkan untuk perbuatan yang belum jelas halal atau  haram, termasuk dosa ataukah bukan. Sedangkan jika sesuatu sudah jelas  halal dan haramnya, maka tidak perlu lagi merujuk pada hati.</p>
<p>Demikianlah  yang namanya dosa, selalu menggelisahkan jiwa, membuat hidup tidak  tenang. Jika seseorang mencuri, menipu, berbuat kecurangan, korupsi,  melakukan dosa besar bahkan melakukan suatu kesyirikan, jiwanya sungguh  sulit untuk tenang.</p>
<p>Lantas bagaimana jika ada yang melakukan dosa  malah hatinya begitu tentram-tentram saja? Jawabannya, bukan perbuatan  dosa atau maksiat dibenarkan. Yang benar adalah itulah keadaan hati yang  penuh kekotoran, yang telah tertutupi dengan noda hitam karena tidak  kunjung berhenti dari maksiat. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya), “<em>Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka</em>.”  (QS. Al Muthoffifin: 14). Jika hati terus tertutupi karena maksiat,  maka sungguh sulit mendapatkan petunjuk dan melakukan kebaikan. Ibnul  Qayyim <em>rahimahullah </em>mengatakan, “<em>Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran</em>” (Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 107).</p>
<p><em>Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot, wa tarkal munkaroot</em>.  Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai  kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran (HR. Tirmidzi no. 3233,  shahih). (*)</p>
<p> Sumber: <a href="http://majalah.pengusahamuslim.com/2010/10/"><em>Majalah Pengusaha Muslim</em></a>, Edisi Oktober 2010</p>
<p><strong>Artikel <a>www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 