
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>4. Agama Islam Dibangun di Atas Prinsip Meraih Kebaikan dan Menolak Bahaya</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Agama Islam adalah agama yang Allah turunkan untuk kebaikan bagi hamba-hamba-Nya dan demi kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">sama sekali tidak membutuhkan ketaatan hamba-hamba-Nya, sehingga dalam memerintahkan dan melarang hamba-hamba-Nya, semata-mata demi kebaikan dan kebahagiaan mereka sendiri.</span></p>
<p><b>Apakah Maksud dari Agama Islam Dibangun di Atas Meraih Kebaikan dan Menolak Bahaya?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksud dari pernyataan di atas adalah setiap perkara yang Allah perintahkan, pastilah mengandung kebaikan, manfaat, keuntungan dan kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, dan setiap perkara yang Allah larang, pastilah mengandung keburukan, kerusakkan, dan bahaya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">الله لم يأمرنا إلا بما فيه صلاحنا، ولم ينهنا إلا عما فيه فسادنا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Allah tidak memerintahkan kita kecuali dengan perintah yang mengandung kebaikan bagi kita, dan tidaklah melarang kita kecuali dari perkara yang mengandung kerusakan/bahaya bagi kita” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Majmu’ul Fatawa (25/282))[1. Dinukil dari: <a href="http://majles.alukah.net/t49126/">http://majles.alukah.net/t49126/</a>].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil-dalil tentang hal di atas, di antaranya yaitu, firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al-Anbiyaa’: 107).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konsekuensi keberadaan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai utusan Allah yang membawa ajaran rahmat adalah ajaran beliau bawa ajaran tersebut mengandung prinsip meraih kebaikan dan menolak bahaya dan kerugian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Maaidah: 3).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penyempurnaan nikmat dari Allah adalah dengan cara menyempurnakan agama Islam ini, sedangkan kesempurnaan agama Islam terwujud dengan syari’at yang mengandung prinsip meraih kebaikan dan menolak bahaya.</span></p>
<p style="text-align: right;">وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal” (</span></i><span style="font-weight: 400;">QS. Al-Baqarah: 179).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa syari’at </span><i><span style="font-weight: 400;">qishash </span></i><span style="font-weight: 400;">yang sepintas lalu nampak keras, sesungguhnya mengandung kasih sayang kepada manusia, karena alasan hukum </span><i><span style="font-weight: 400;">qishash </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut diberlakukan dalam Islam untuk menjaga kelangsungan hidup manusia dengan memberikan efek jera kepada orang yang membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan. Dengan demikian jiwa manusia pun akan aman dari pembunuhan yang batil, setidaknya dapat diminimalisir.</span></p>
<p><b>Setiap Perintah Allah Mengandung Maslahat, dan Setiap yang Dilarang Mengandung Bahaya</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketahuilah wahai para pembaca, bahwa setiap perkara yang Allah dan Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">perintahkan, baik yang hukumnya sunnah maupun wajib,  mengandung dua kemungkinan, yaitu:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Manfaatnya murni.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Manfaatnya lebih besar dari kerugiannya (mudharat) yang sifatnya duniawi belaka.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan setiap perkara yang Allah dan Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">larang, baik yang hukumnya makruh maupun haram,  mengandung dua kemungkinan,</span></p>
<ol>
<li>Mudharat, mafsadat, bahaya, kerugian, atau kerusakan yang murni.</li>
<li><b><span style="font-weight: 400;">Mudharatnya lebih besar dari manfaat yang bersifat duniawi semata</span>.</b></li>
</ol>
<p> </p>
<p> </p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>____</p>
 