
<p><em>Baca pembahasan sebelumnya<a href="https://muslim.or.id/35459-__trashed-3.html"> Keimanan terhadap Al-Mizan (03)</a></em></p>
<p><b>Berapakah Jumlah <em>Al-Mizan</em>?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat atau hadits, lafaz <em>al-mizan</em> terkadang disebutkan dalam bentuk mufrad (singular atau tunggal, yaitu <em>miizaan</em>) atau dalam bentuk jamak (plural, yaitu <em>mawazin</em>), sehingga para ulama pun berbeda pendapat, apakah <em>al-mizan</em> itu hanya satu atau lebih dari satu?</span></p>
<p><b>Pendapat pertama, </b><span style="font-weight: 400;"><em>al-mizan</em> itu banyak atau lebih dari satu. Mereka mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an, <em>al-mizan</em> disebutkan dalam bentuk jamak. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</span></p>
<p style="text-align: center;"><b>وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ</b></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat. Maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah kami sebagai Pembuat perhitungan.” </span></em><b>(QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 47)</b></p>
<p><b>Pendapat ke dua, </b><span style="font-weight: 400;"><em>al-mizan</em> hanya satu dan diletakkan untuk seluruh umat manusia. Mereka berdalil dengan riwayat dari Salman </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><b>يوضع الميزان يوم القيامة فلو وزن فيه السموات والأرض لوسعت، فتقول</b></p>
<p style="text-align: center;"><b>الملائكة: يا رب لمن يزن هذا؟ فيقول الله تعالى: لمن شئت من خلقي، فتقول الملائكة: سبحانك ما عبدناك حق عبادتك </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>“Diletakkanlah mizan pada hari kiamat. Seandainya ditimbang di dalamnya langit dan bumi, niscaya akan tetap lapang. Malaikat berkata, ‘Wahai Rabb-ku, untuk siapa timbangan ini?’ Allah Ta’ala berkata, ‘Untuk yang Aku kehendaki dari hamba-Ku.’ Malaikat berkata, ‘Maha Suci Engkau, kami tidaklah bisa beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.’”</em> (Diriwayatkan oleh Al-Ajuri dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Asy-Syariah </span></i><span style="font-weight: 400;">3/1329, dinilai sahih oleh Ibnu Rajab dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Jami’ul Uluum wal Hikam, </span></i><span style="font-weight: 400;">2/18)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Al-Albani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span></p>
<p style="text-align: center;"><b>وإسناده صحيح، وله حكم المرفوع، لأنه لا يقال من قبل الرأي</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sanadnya sahih. Status riwayat ini adalah <em>marfu’</em> (yaitu berasal dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">pen.), karena tidaklah dikatakan berdasarkan akal logika (pendapat Salman, pen.) semata.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Ash-Shahihah, </span></i><span style="font-weight: 400;">2/619)</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu Ta’ala a’lam, </span></i><span style="font-weight: 400;">pendapat ke dua inilah yang tampaknya lebih kuat mengingat riwayat dari Salman </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">di atas yang statusnya <em>marfu’</em>, yaitu berasal dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun penyebutan jamak dalam Al-Qur’an (yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">“al-mawaaziin”</span></i><span style="font-weight: 400;">), hal ini karena berbilangnya sesuatu yang ditimbang, bukan timbangannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><b>الأكثر على أنه إنما هو ميزان واحد، وإنما جمع باعتبار تعدد الأعمال الموزونة</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mayoritas (ulama) berpendapat bahwa <em>al-mizan</em> itu hanya satu. Adapun disebutkan dalam bentuk jamak, hal ini dari sisi banyaknya amal yang ditimbang di dalamnya.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Ibnu Katsir, </span></i><span style="font-weight: 400;">5/345) </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Qurthubi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><b>وقيل: الموازين جمع موزون، لا جمع ميزان. أراد بالموازين الأعمال الموزونة</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan dikatakan, </span><i><span style="font-weight: 400;">‘al-mawaazin’</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah bentuk jamak dari <em>mauzun</em> (sesuatu yang ditimbang), bukan bentuk jamak dari <em>mizan</em> (timbangan), sehingga yang dimaksud dengan <em>al-mawazin</em> adalah amal-amal yang ditimbang.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al-Qurthubi, </span></i><span style="font-weight: 400;">7/166)</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diselesaikan di siang hari, Rotterdam NL, 10 Rabi’ul akhir 1439/ 29 Desember 2017</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,</span></p>
<p><strong>[Bersambung</strong>]
</p>
<p><a href="https://muslim.or.id/35457-__trashed-4.html">Keimanan terhadap Al-Mizan (05)</a></p>
<p><em><strong>Baca juga:</strong></em></p>
<ol>
<li><a href="https://muslim.or.id/31196-apakah-orang-kafir-akan-dihisab-di-akhirat.html">Apakah Orang Kafir akan Dihisab di Akhirat?</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/28700-orang-tua-dan-anak-saling-mengangkat-derajat-di-akhirat.html">Orang Tua Dan Anak Saling Mengangkat Derajat Di Akhirat</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/25678-harus-seimbang-antara-mencari-dunia-dan-akhirat.html">Harus Seimbang Antara Mencari Dunia Dan Akhirat?</a></li>
</ol>
<p>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">Muhammad Saifudin Hakim</a><br>
Artikel: <a href="http://muslim.or.id">Muslim.or.id</a></p>
 