
<p>Penyusun: Ummu Salamah</p>
<p>Kebahagiaan tidak lain adalah limpahan karunia Ilahi, bukan  merupakan sebuah hasil usaha semata. Seperti masuknya hamba-hamba yang  sholeh kedalam syurga bukan dikarenakan amalan mereka semata yang  -sebut saja tidak terhitung jumlahnya menurut ukuran manusia- melainkan  karena rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala.</p>
<p><!--more-->Dalam sudut pandang ikhtiar atau usaha, Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa  manusia diberikan kebebasan memilih, jalan kebahagiaan atau  kesengsaraan. Tapi tetap seluruh usaha manusia -mau tidak mau- terikat  dalam sebuah ketetapan pasti yaitu takdir Alloh.</p>
<p>Takdir adalah hak mutlak milik Allah. Manusia hanya memiliki hak  menebar usaha, melakukan amalan, berikhtiar dan bekerja. Kita harus  mengimani takdir apapun yang terjadi. Namun dalam nuansa ikhtiar kita  harus tetap berusaha, niscaya Allah akan memberikan kemudahan.</p>
<p>Ada dua kata kunci disini: takdir dan usaha. Keduanya tidak bisa terpisahkan. Dan keduanya, bisa menjadi pemicu  terwujudnya gelombang kebahagiaan.</p>
<p>Pertama, takdir.  Dengan meyakini takdir, seorang muslimah akan memiliki ketabahan,  terutama di saat harus menerima dera musibah secara bertubi-tubi atau  di saat menghadapi ancaman terhadap ketentraman hidupnya.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p>مَآ أَصَابَ مِن مّصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلاَ فِيَ أَنفُسِكُمْ إِلاّ  فِي كِتَابٍ مّن قَبْلِ أَن نّبْرَأَهَآ إِنّ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرٌ</p>
<p><em>“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa dibumi dan (tidak pula)  pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul  Mahfuzh) sebelum Kami menciptakan-nya. Sesungguhnya yang demikian itu  adalah mudah bagi Allah.”</em> (Al-Hadid: 22)</p>
<p>Ketabahan itulah, yang akan menjadi pemicu kebahagiaan. Karena  ketabahan itu muncul melalui proses keimanan yang bertarung melawan  bujuk rayu nafsu, melawan tekanan keadaan, untuk kemudian keluar  sebagai pemenang, mendulang karunia petunjuk Allah.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p>مَآ أَصَابَ مِن مّصِيبَةٍ إِلاّ بِإِذْنِ اللّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللّهُ بِكُلّ شَيْءٍ عَلِيمٌ</p>
<p><em>“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali  dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya  Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha Mengetahui  segala sesuatu…”</em> (Ath Thaghabun: 11)</p>
<p>Hati yang mendapatkan petunjuk, niscaya memancarkan cahaya pasrah,  menyingkirkan nafsu amarah, menepis rasa kesal dan kecewa sehingga  lahirlah kebahagiaan itu.</p>
<p>Di sisi lain, keyakinan kepada takdir, menyeruakkan nuansa kesegaran  berpikir, karena dasar keyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala,  bagi orang-orang yang tabah dan sabar.</p>
<p>وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُواْ جَنّةً وَحَرِيراً</p>
<p><em>“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena ketabahan mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera…”</em> (Al Insan: 12)</p>
<p>Kedua, adalah usaha yaitu usaha yang baik atau amal sholeh  yang dilakukan seorang mukmin, memiliki nilai sakral. Berkaitan dengan  kandungan ruh keikhlasan dan kekuatan dan kekuatan peneladanan terhadap  manusia terbaik, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang terdapat  di dalamnya. Dua kandungan itu, bagaikan nyawa dan kekuatan. Membuat  usaha yang dilakukan oleh seorang mukmin berpengaruh impresif, menekan  jauh ke lubuk jiwa, melakukan kepuasan yang tiada tara. Tidak peduli,  apakah usaha itu -pada akhirnya- menampakkan hasil, atau terjatuh pada  lubang-lubang kegagalan. Dalam konteks ini, usaha apa pun yang  dilakukan oleh seorang muslim tak lepas dari bingkai ibadah, atau  penghambaan diri kepada Allah. Semakin hebat usaha yang dilakukan,  semakin meningkat kualitas kehambaannya.</p>
<p>Sebagai contohnya, ibadah sholat diyakini mampu menjadi media penyejuk hati, bila dilakukan dengan <em>khusu</em>‘ dan dibarengi dengan kesabaran jiwa…</p>
<p>يَآأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصّبْرِ وَالصّلاَةِ إِنّ اللّهَ مَعَ الصّابِرِينَِ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat  sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”</em>  (Al Baqoroh: 153)</p>
<p>Dari pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan sebuah fenomena yang  cukup menarik. Kebahagiaan itu lebih sering muncul, setiap kali seorang  muslim selesai melakukan pekerjaannya. Disebut dengan kata lebih sering  muncul, karena selesai atau tidak suatu pekerjaan, berhasil atau tidak  suatu usaha, tidak akan mempengaruhi kebahagiaan yang bakal didapat  oleh seorang muslim. Di saat gagal berusaha, seorang mukmin tetaplah  berbahagia, karena pengaruh mutiara ketabahan yang tertanam kuat dalam  jiwanya. Di saat berhasil, ia akan memperoleh kebahagiaan lebih, karena  rasa syukurnya. Itulah keajaiban seorang mukmin!</p>
<p><em>“Sungguh ajaib sikap seorang mukmin! Karena segala sesuatunya  baik baik baginya. Hal itu hanya berlaku bagi seorang mukmin saja.  Apabila ia mendapatak kesenanagan, ia bersyukur. Itu menjadi kebaikan  baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, ia tetap tabah, maka itu pun  menjadi kebaikan baginya.”</em> (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2999)</p>
<p>Sekali lagi, kebahagiaan itu lebih mudah dirasakan oleh seorang  muslim ketika usaii menyelesaikan pekerjaannya. Adapun rasa syukur yang  ia ungkapkan, menjadikannya nilaii lebih. Meskipun secara umum, rasa  syukur itu lebih mudah dilakukan, daripada ketabahan dii saat terjadi  musibah. Disebutkan dalam sebuah hadits, <em>“Sesungguhnya, ketabahan  yang sejati itu ada pada guncangan pertama kali ketika terjadinya  musibah.”</em> (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shohihnya I: 430)</p>
<p>Rasa syukur akan memberikan nilai lebih, terhadap penyegaran hati  dan penentraman jiwa. Dari situlah, sebuah karunia akan semakin terasa  kenikmatannya.</p>
<p>Sebagaimana realitas kehidupan, kebahagiaan biasa hadir di saat  seorang hamba mengakhiri ibadah puasanya selepas maghrib. Kehadirannya  bagaikan kebahagiaan utama yang luar biasa nikmatnya.</p>
<p><em>“Orang yang melaksanakan ibadah puasa, memiliki dua kebahagiaan,  yang pasti akan dirasakannya: Saat berbuka, ia berbahagia karena  selesai berpuasa. Saat berjumpa dengan Allah, ia berbahagia, karena  ibadah puasanya.”</em> (Diriwayatkan oleh Al Bukari II: 673, oleh Muslim  II: 807 dan At Tirmidzy III: 137)</p>
<p>Kebahagiaan yang didapatkan oleh seorang muslim lebih bersifat nyata  dan pasti, karena merupakan dua senyawa yang terkait antara satu dengan  lain. Yaitu takdir Allah dan usaha manusia dengan cara yang benar dan  ikhlas. Sementara bagi orang yang tidak beriman, kebahagiaan hanyalah  merupakan ‘letupan’ sesaat, tatkala menemukan hal-hal yang disukainya,  atau terlepas dari beban yang menghimpitnya. Nilainya pun hanyalah  sesaat, karena tidak memiliki ruh keikhlasan dan kekuatan.</p>
<p><em>Kebahagiaan tetaplah rahasia Ilahi, meskipun ‘sejuta manusia’ menggapai langit dan menggali bumi, demi kebahagiaan sejati.<br>
Keyakinan terhadap takdir, menjunjung manusia ke arah ketabahan, kepasrahan dan keteduhan hati.<br>
Keihlasan, bak mutiara terpendam, menyorotkan cahaya pasrah, menyambut keridhoan ilahi.<br>
Peneladanan terhadapmu, wahai Nabiku, seringkali menggeser segala  kesukaan kami terhadap segenap penghuni bumi. Itulah sebabnya,  kehambaan kami bertahan hingga kini.<br>
Saudari muslimah, berbahagialah dengan takdirmu, niscaya keabadian menghampirimu dengan segala keindahannya.<br>
Saudari muslimah, berbahagialah dengan keislamanmu, niscaya surga dunia, juga surga akherat, berkenan menyambutmu…</em></p>
<p><strong>Maroji’:</strong> Aku Wanita paling Bahagia (Abu Umar Basyier)</p>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 