
<p><span style="font-weight: 400;">Pertanyaan “kapan pandemi berakhir” mungkin salah satu hal yang selalu terngiang dalam benak kita. Sejak awal pandemi, seringkali kami mendapatkan pertanyaan semacam ini, entah itu ibu-ibu yang khawatir bagaimanakah anaknya bersekolah; atau para pekerja (pelaku usaha) sektor ekonomi yang khawatir dengan dampak pandemi; atau bahkan rekan sejawat yang juga mempertanyakan sampai kapan kita berada dalam kondisi semacam ini (memakai APD lengkap yang sangat merepotkan).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbagai analisis dan prediksi dikemukakan oleh para ahli di bidang ini. Berbagai macam upaya dilakukan untuk menghentikan pandemi ini. Meskipun demikian, sampai hampir tujuh bulan kita melewati hari demi hari pandemi ini, tampaknya belum ada tanda-tanda kapan pandemi ini berakhir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan sebaliknya, kita dapati jumlah kasus yang semakin meningkat, jumlah kematian yang semakin bertambah dari hari ke hari, termasuk kematian para tenaga medis, baik itu dokter umum, dokter spesialis, guru besar (profesor), perawat, dan yang lainnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai seorang muslim, yang beriman kepada Allah Ta’ala, sudah selayaknya kita selalu introspeksi diri, mengapa musibah ini terus berlangsung? Setidaknya, ada dua hal yang patut kita jadikan sebagai bahan renungan dalam kesempatan kali ini:</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57110-donasi-tanggap-covid-iii.html" data-darkreader-inline-color="">Donasi Pencegahan Persebaran Virus Corona Tahap III</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Setiap musibah adalah karena dosa dan kesalahan kita, seberapa sungguh-sungguh kita istighfar dan taubat?</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala</span><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian).” </span><b>(QS. Asy-Syuuraa: 30)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Betul, ilmu pengetahuan (sains) menjelaskan pandemi ini disebabkan oleh virus (SARS-CoV-2) dengan karakter tertentu yang muncul secara alamiah </span><i><span style="font-weight: 400;">(natural evolution). </span></i><span style="font-weight: 400;">Kemudian menular dengan cara tertentu pula (droplet, </span><i><span style="font-weight: 400;">airborne, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan seterusnya). Ini adalah penjelasan dari sisi sains (biologi).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, kita sebagai orang yang beriman, harus merenungi musibah ini berdasarkan firman Allah Ta’ala di atas. Bahwa setiap musibah yang Allah Ta’ala turunkan, disebabkan oleh dosa dan kesalahan kita sendiri. Sejak awal pandemi, seberapa kesungguhan kita untuk istighfar dan taubat atas dosa dan kesalahan kita sebelumnya? Atau justru kita semakin menambah maksiat kepada Allah Ta’ala di tengah-tengah situasi pandemi ini? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, satu nasihat penting yang hendaknya kita selalu ingat adalah ungkapan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ما نزل بلاء إلا بذنب ولارفع إلا بتوبة</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah musibah itu turun (terjadi), kecuali karena dosa. Dan tidaklah akan diangkat, kecuali dengan taubat.”  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengapa kita menunda-nunda taubat di tengah musibah semacam ini, padahal Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk segera bertaubat? Allah Ta’ala mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” </span><b>(QS. An-Nuur [24]: 31)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekali lagi, hendaknya kita renungkan dengan sungguh-sungguh, seberapa serius kita bertaubat kepada Allah Ta’ala sejak awal pandemi?</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/56433-10-nasihat-penyubur-iman-di-tengah-wabah-pandemi-corona.html" data-darkreader-inline-color="">10 Nasihat Penyubur Iman di Tengah Wabah Pandemi Corona</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Jangan-jangan kita lebih bertawakkal kepada sebab (usaha lahiriyyah), bukan kepada Allah Ta’ala?</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal lain yang juga patut kita renungkan adalah, jangan-jangan selama ini kita lebih bersandar kepada sebab (usaha) yang kita lakukan secara lahiriyyah? Dan kita melupakan pencipta sebab sesungguhnya, yaitu Allah Ta’ala? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita lebih bersandar kepada usaha kita sendiri, semisal cuci tangan, memakai masker, menjaga jarak </span><i><span style="font-weight: 400;">(social </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">physical distancing), </span></i><span style="font-weight: 400;">dan usaha-usaha sejenis itu. Lalu kita pun merasa aman, kemudian lupa menyandarkan hati kita kepada Allah Ta’ala. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal, Allah adalah Dzat Yang Maha kuasa, Allah-lah yang mentakdirkan apakah sebab atau usaha kita itu akan bisa mendatangkan manfaat yang kita inginkan? Inilah dua unsur tawakkal, yaitu (1) melakukan usaha lahiriyyah dan (2) menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala. Jika dia hanya melakukan nomor 1, tanpa nomor 2, berarti ada cacat dalam tauhidnya. Adapun jika hanya melakukan nomor 2, tanpa nomor 1, berarti dia telah kehilangan akal sehat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, “Wahai Rasulullah, apakah saya ikat unta saya, lalu tawakkal kepada Allah ataukah saya lepas saja sambil bertawakkal kepada-Nya?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjawab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ikatlah dulu untamu itu, baru Engkau bertawakal!” </span><b>(HR. At-Tirmidzi no. 2517, hasan)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cuci tangan, jaga jarak, dan memakai masker itu bagaikan “mengikat unta” dalam hadits di atas. Namun, jangan lupakan perintah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berikutnya, yaitu,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَتَوَكَّلْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan bertawakkal-lah!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, sandarkanlah dirimu kepada Allah Ta’ala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang hanya bersandar sebab (usaha lahiriyyah), kemudian lupa menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ala, adalah orang-orang yang kurang sempurna tauhidnya. Tauhidnya telah ternoda, karena dia lebih bersandar kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah Ta’ala. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekali lagi, di tengah-tengah pandemi ini, kita pun merenungkan kembali, sudah benarkah tawakkal kita kepada Allah Ta’ala? </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Permasalahan Fikih Terkait Virus Corona</strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Doa Berlindung Dari Virus Corona</strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>***</b></p>
<p>@FK UGM, 22 Muharram 1442/ 15 September 2020</p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 