
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>Sesuatu Yang Terlintas di Hati Dimaafkan Selama Tidak Diucapkan Atau Diperbuat.</strong></p>
</blockquote>
<p>Kaidah ini berdasarkan hadits:</p>
<p style="text-align: right;">
</p>
<div style="font-family:PDMS Saleem QuranFont; font-size:26px; direction: rtl; text-align: Right; line-height: 45px;">إن الله تجاوز لي عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم</div>
<p><em>Sesungguhnya Allah memaafkan untuk umatku apa yang ia bicarakan di hatinya selama tidak dilakukan atau diucapkan. <strong>(HR Bukhari dan Muslim.)</strong></em></p>
<p>Apabila terlintas di pikiran seseorang untuk berbuat maksiat maka tidak berpengaruh apapun atau terlintas di pikirannya untuk berbuat kebaikan.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan firman Allah:</p>
<p style="text-align: right;">
</p>
<div style="font-family:PDMS Saleem QuranFont; font-size:26px; direction: rtl; text-align: Right; line-height: 45px;">ومن يرد فيه بإلحاد بظلم نذقه من عذاب أليم</div>
<p><em>Barang siapa yang menginginkan padanya perbuatan buruk berupa kezaliman, maka Kami akan rasakan ia dengan adzab yang pedih. <strong>(Al Hajj: 25).</strong></em></p>
<p>Dijawab: Bahwa lintasan hati berbeda dengan niat yang kuat, karena yang dimaksud ayat tersebut adalah azimah (niat yang kuat), sehingga tidak masuk dalam kaidah ini.<br>
Wallahu a’lam.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://cintasunnah.com/category/artikel-islami/kaidah-islam/" class="shortc-button medium red "><i class="fa fa fa-paper-plane"></i>Lihat Semua Artikel “Kaidah Islam”</a></p>
 