
<p>Melanjutkan pelajaran <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.com</a> mengenai <span style="color: #0000ff;">kaedah fikih</span>, saat ini kita telah masuk pada kaedah yang disampaikan oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di. <strong><a href="https://rumaysho.com/ilmu-ushul/kaedah-fikih-6-tidak-ada-kewajiban-bila-tidak-mampu-3008">Kaedah sebelumnya</a></strong> adalah kaedah ‘<em>kewajiban menjadi gugur ketika tidak mampu’</em>. Sedangkan pertemuan kali ini kita akan membahas kaedah yang masih terkait yaitu <strong><span style="color: #0000ff;">keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang</span></strong>. Kaedah ini sebenarnya sudah disinggung sebelumnya dalam tulisan <strong><a href="https://rumaysho.com/ilmu-ushul/keadaan-darurat-membolehkan-sesuatu-yang-terlarang-2970">di sini</a></strong>. Tulisan kali ini akan melengkapi tulisan tersebut, sekaligus menambah dari ulama lainnya.      <!--more-->  </p>
<p align="center">Syaikh As Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata dalam bait syairnya,</p>
<p align="center" dir="RTL"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">وَ لاَ مُحَرَّمٌ مَعَ اِضْطِرَارٍ</span></span></p>
<p align="center"><em>Tidak ada yang diharamkan di saat darurat.</em></p>
<p>Para fuqoha lainnya mengungkapkan kaedah di atas dengan perkataan,</p>
<p align="center" dir="RTL"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المحْظُوْرَات</span></span></p>
<p>“<em>Keadaan darurat membolehkan suatu yang terlarang.”</em></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Dalil Kaedah</span></strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p align="center" dir="RTL"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ</span></span></p>
<p>“<em>Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya</em>.” (QS. Al Baqarah: 173).</p>
<p align="center" dir="RTL"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ</span></span></p>
<p>“<em>Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya</em>.” (QS. Al An’am: 119). Ayat pertama, berkaitan dengan makanan. Ayat kedua, sifatnya lebih umum.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Syarat Kaedah</span></strong></p>
<p>Sebagian orang mencari keringanan dalam hukum syar’i dengan mengakal-akali kaedah ini. Padahal ada syarat-syarat yang mesti diperhatikan. Syarat-syarat tersebut adalah:</p>
<p>1- Dipastikan bahwa dengan melakukan yang haram dapat menghilangkan dhoror (bahaya). Jika tidak bisa dipastikan demikian, maka tidak boleh seenaknya menerjang yang haram. Contoh: Ada yang haus dan ingin minum khomr. Perlu diketahui bahwa khomr itu tidak bisa menghilangkan rasa haus. Sehingga meminum khomr tidak bisa dijadikan alasan untuk menghilangkan dhoror (bahaya).</p>
<p>2- Tidak ada jalan lain kecuali dengan menerjang larangan demi hilangnya dhoror. Contoh: Ada wanita yang sakit, ada dokter perempuan dan dokter laki-laki. Selama ada dokter wanita, maka tidak bisa beralih pada dokter laki-laki. Karena saat itu bukan darurat.</p>
<p>3- Haram yang diterjang lebih ringan dari bahaya yang akan menimpa.</p>
<p>4- Yakin akan memperoleh dhoror (bahaya), bukan hanya sekedar sangkaan atau yang nantinya terjadi.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Bedakan Darurat dan Hajat</span></strong></p>
<p><em>Al muharram</em> yang disebutkan dalam kaedah di atas adalah suatu yang dilarang oleh syari’at. Sedangkan yang dimaksud dengan “<strong>dhoruroh</strong>” atau darurat adalah suatu perkara yang jika seseorang meninggalkannya, maka ia akan tertimpa bahaya dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Inilah yang dimaksud dengan darurat menurut pendapat yang tepat. Sedangkan ada pula istilah “<strong>hajat</strong>”, yang dimaksud adalah sesuatu yang bila ditinggalkan, maka bisa mendatangkan bahaya, akan tetapi masih bisa diganti dengan yang lain.</p>
<p>Contoh dhoruroh: Jika seseorang terpaksa harus makan dan tidak ada makanan selain bangkai. Seandainya ia tidak makan bangkai, ia bisa terkena bahaya dan tidak ada pengganti kala itu.</p>
<p>Contoh hajat: Diterangkan dalam suatu riwayat bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah menambah bejana (wadah) dengan perak. Padahal bisa saja wadah tersebut ditambal dengan besi atau kuningan dan lainnya. Beliau melakukan seperti itu karena adanya hajat.</p>
<p>Jadi, kaedah yang berlaku adalah “keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang”, sedangkan keadaan hajat tidak demikian kecuali jika ada dalil.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Istilah Lain: Manfa’at, Ziinah dan Fudhul</span></strong></p>
<p>Ada juga istilah yang berkaitan yang baik untuk dipahami:</p>
<p>1-      <em>Al manfa’ah</em> (manfaat): sesuatu yang jika dilakukan akan mendapatkan manfaat dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan <em>dhoror</em> (bahaya).</p>
<p>2-      <em>Az ziinah </em>(perhiasan atau kemewahan): sesuatu yang jika dilakukan akan mendapatkan manfaat, dan jika tidak ada -sedikit atau banyak-, maka tidak mendapatkan bahaya.</p>
<p>3-      <em>Al fudhuul</em> (sesuatu yang berlebihan): sesuatu yang jika secara sendirian (sedikit), maka tidak menimbulkan <em>dhoror</em> (bahaya), dan jika banyak, maka menimbulkan <em>dhoror</em> (bahaya).</p>
<p><em>Wallahul muwaffiq.</em></p>
<p> </p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Referensi</span></strong>:</p>
<p><em>Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, </em>Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H.</p>
<p><em>Qowaid Muhimmah wa Fawaid Jammah</em>, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Maktabah Al Imam Ibnul Qayyim, cetakan pertama, 1433 H.</p>
<p> </p>
<p>@ Sakan 27, Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 25 Muharram 1434 H</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
 