
<p>“Ada yang dihukumi boleh ketika jadi pengikut, namun tidak boleh ketika berdiri sendiri.” Ini kaedah fikih yang kita pelajari saat ini.</p>
<p style="text-align: center;">Syaikh As-Sa’di <em>rahimahullah</em> dalam bait sya’irnya berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَمِنْ مَسَائِلِ الأَحْكَامِ فِي اتَّبَعَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَثْبُتُ لاَ إِذَا اسْتَقَلَّ فَوَقَعَ</p>
<p style="text-align: center;"><em>“Dan di antara masalah hukum yaitu menjadi pengikut</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>menjadi pengikut memiliki hukum tersendiri, berbeda jika berdiri sendiri.”</em></p>
<p> </p>
<p>Disebutkan pula dengan ungkapan lainnya,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَثْبُتُ تَبْعًا مَا لاَ يَثْبُتُ اِسْتِقْلاَلاً</p>
<p>“Ada yang dihukumi boleh ketika jadi pengikut, namun tidak boleh ketika berdiri sendiri.”</p>
<p> </p>
<h3>Penjelasan Kaedah</h3>
<p>Kaedah ini berarti hukum ketika berdiri sendiri berbeda dengan hukum ketika bersama dengan yang lain.</p>
<p>Dalil kaedah ini adalah ayat yang menerangkan tentang siapa saja yang wanita boleh tampakkan perhiasannya (boleh tidak berhijab di hadapannya), di dalamnya disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ</p>
<p>“<em>atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)</em>” (QS. An-Nuur: 31), ini disebut dengan <em>tabi’ina li an-nisa’</em> (yang mengikuti wanita yang tidak lagi mempunyai syahwat, seperti orang yang idiot), dijadikan sama posisinya seperti anak-anak dan wanita, maka wanita tersebut boleh tidak berhijab dari mereka.</p>
<p> </p>
<h3>Contoh Kaedah</h3>
<ol>
<li>Tidak boleh menjual sesuatu yang <em>majhul</em> (belum jelas) secara bersendirian. Namun boleh jika yang <em>majhul</em> itu menjadi pengikut yang lain (karena ketidakjelasannya dianggap sedikit), seperti pondasi bangunan. Jika kita membeli bangunan, pondasi juga ikut serta dibeli walaupun majhul.</li>
<li>Ada hewan yang disebut <em>hasyarat</em> (hewan-hewan kecil, seperti lalat dan lebah). Tidak boleh <em>hasyarat</em> itu dimakan secara sendirian. Namun kalau tidak sengaja terikut seperti lalat dalam buah-buahan atau anak lebah dalam madu, maka dibolehkan.</li>
<li>Kesaksian seorang wanita tidak dianggap dalam talak (perceraian). Namun jika ada seorang wanita yang menyatakan bahwa ia pernah menyusui pasangan suami-istri (yang saat ini sudah menikah), maka kesaksian ia dalam persusuan ini dianggap dan nikah pasangan suami-istri tadi menjadi <em>fasekh</em> (batal) karena masih ada hubungan mahram (persusuan).</li>
<li>Boleh bagi orang yang beri’tikaf keluar masjid untuk memenuhi hajatnya sambil menjenguk orang sakit, namun menjenguk orang sakit secara bersendirian tidak boleh. Kata Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri, demikianlah pendapat ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>.</li>
<li>Membeli hewan yang sedang mengandung (hamil), dibolehkan sekaligus dengan isinya. Namun membeli isi kandungannya saja, tidak dibolehkan karena tidak jelas (<em>majhul</em>).</li>
</ol>
<p> </p>
<h3>Kaedah Turunan</h3>
<ol>
<li>“<em>Siapa yang memiliki sesuatu, maka ia juga memiliki ikutannya</em>”. Seperti siapa yang membeli rumah, maka kunci, pintu, tembok, dan tanah.</li>
<li>“<em>Yang jadi pengikut menjadi gugur dengan gugurnya yang diikuti</em>”. Contoh, jika seseorang melunasi utang, maka yang menjamin (<em>dhamin</em> dan <em>kafil</em>) pun menjadi bebas.</li>
<li>“<em>Siapa yang jadi pengikut, tidak boleh mendahului yang diikuti</em>”. Contoh dalam shalat berjamaah, makmum tidak boleh posisinya berada di depan imam, begitu pula makmum tidak boleh melakukan gerakan yang mendahului imam.</li>
</ol>
<p>Semoga kaidah fikih kali ini bermanfaat.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah</em>. Cetakan Tahun 1420 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Darul Haromain</p>
<p><em>Risalah fi Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah</em>. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Pensyarh: Dr. Su’ud bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Ghorik. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.</p>
<p><em>Syarh Al-Manzhumah As-Sa’diyah fi Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah</em>. Cetakan kedua, 1426 H. Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kanuz Isybiliya.</p>
<p>—</p>
<p>Catatan berharga pada Rabu pagi <a href="http://darushsholihin.com/">@ Darush Sholihin</a>, 30 Rabi’uts Tsani 1439 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
 