
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Dalil Tentang Sifat </b><b><i>Nuzul</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Penetapan aqidah mengenai sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Allah turun ke langit dunia) telah diterangkan oleh banyak hadits dari Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang mencapai derajat </span><i><span style="font-weight: 400;">mutawatir </span></i><span style="font-weight: 400;">(melalui jalur yang banyak). Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dari Abu Hurairah, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> “ </span><i><span style="font-weight: 400;">Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam pada sepertiga malam yang terakhir, kemudian berfirman : “ Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari dan Muslim). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini secara jelas  dan gamblang menunjukkan penetapan sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzu</span></i><span style="font-weight: 400;">l bagi Allah, yakni Allah turun ke langit dunia.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Keyakinan Yang Benar tentang Sifat </b><b><i>Nuzul</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Makna </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam hadits di atas yaitu bahwa Allah turun secara hakiki ke langit dunia. Wajib bagi kita mengimaninya dan membenarkannya. Allah turun ke langit dunia yang merupakan langit yang paling dekat dengan dunia. Turun-Nya Allah adalah sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak seperti turunnya makhluk. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Asy-Syura: 11).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu kita menetapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari sisi makna dan bukan dari sisi </span><i><span style="font-weight: 400;">kaifyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (bagaimana cara turun). Kita menetapkannya tanpa </span><i><span style="font-weight: 400;">tamsil</span></i><span style="font-weight: 400;"> (menyerupakan dengan sifat makhluk) dan Allah turun sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Tidak boleh menolak sifat ini ataupun menyelewengkan maknanya dengan makna yang lain. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Jawaban Global Bagi Yang Menolak Sifat </b><b><i>Nuzul</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sudah menjadi kebiasaan </span><i><span style="font-weight: 400;">ahlul bid’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwasanya mereka akan menolak atau menyelewengkan sifat-sifat Allah yang tidak mereka imani, termasuk sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> ini. Mereka menolak sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan berbagai alasan yang sebenarnya merupakan syubhat yang lemah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawaban secara global terhadap setiap penolak sifat Allah, termasuk bagi yang mengingkari sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;">, adalah sebagai berikut :</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Ketika mereka menolak dan menyelewengkan makna </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> maka ini menyelisihi </span><i><span style="font-weight: 400;">dhohir nash</span></i><span style="font-weight: 400;">, bahwa yang dimaksud </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari dalil-dalil yang menyebutkan sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah turun-Nya Allah secara hakiki sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah dan tidak sama dengan turunnya makhluk.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Yang mereka lakukan ketika menolak atau menyelewengkan makna sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah menyelisih jalannya para sahabat dan para </span><i><span style="font-weight: 400;">salafus shalih</span></i><span style="font-weight: 400;"> sesudahnya dalam memahami dan mengimani sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;">. Tidak ada satupun dari </span><i><span style="font-weight: 400;">salafus shalih</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang menolak dan menyelewengkan makna </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan makna yang lain. Bahkan mereka telah </span><i><span style="font-weight: 400;">ijma’</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam masalah ini.</span>
</li>
</ol>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Berbagai Syubhat Penolak Sifat </b><b><i>Nuzul</i></b><b> dan Jawabannya </b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Berikutnya akan kita bahas perincian beberapa syubhat yang dilontarkan untuk menolak sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan jawaban atas batilnya alasan dari syubhat tersebut. </span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;"><b>Syubhat 1 : Menetapkan Allah turun bertentangan dengan akal dan turun adalah perbuatan makhluk. </b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ada yang mengatakan : “Mengapa engkau katakan Allah turun? Jika Allah turun, bagaimana dengan ke-Maha Tinggian Allah ? Jika Allah turun, bagaimana dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">istiwa’</span></i><span style="font-weight: 400;">-Nya Allah di atas </span><i><span style="font-weight: 400;">‘arsy </span></i><span style="font-weight: 400;">? Jika Allah turun, maka turun adalah bergerak dan berpindah. Jika Allah turun, maka turun adalah perbuatan makhluk. ”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita katakan bahwa itu semua itu adalah anggapan yang batil dan itu semua tidak bertentangan dengan hakikat turun-Nya Allah. Apakah kalian lebih tahu tentang hakikat turun-Nya Allah  daripada sahabat Rasulullah?. Para sahabat tidak pernah sama sekali mengatakan kemungkinan-kemungkinan seperti yang kalian katakan. Mereka semua (para sahabat) mengatakan. : kami mendengar, kami beriman, kami menerima, dan kami membenarkan. Sedangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">ahlu ta’thil</span></i><span style="font-weight: 400;"> (para penolak sifat) mereka memperdebatkan dengan perdebatan yang batil dengan bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Cukuplah kita katakan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> turun dan kita tidak perlu memperdebatkan tentang apakah ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">arsy</span></i><span style="font-weight: 400;"> Allah kosong atau tidak. Adapun sifat ke-Maha Tinggian Allah, kita katakan bahwa Allah turun akan tetapi Allah tetap di atas para makhluk-Nya, karena bukanlah makna dari turun-Nya Allah akan diliputi dan dinaungi langit, karena tidak ada satu makhluk pun yang dapat meliputi Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;"><b>Syubhat 2 : Kalau Allah turun berarti Allah akan dilingkupi langit yang merupakan makhluk dan akan berada di bawahnya.</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu kita camkan baik-baik, bahwa ketika kita menetapkan sifat bagi Allah, maka sifat tersebut adalah sifat yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah dan sama sekali berbeda dengan sifat yang ada pada makhluk. Demikian pula dengan sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;">. Ketika kita menetapkan Allah turun, maka turun-Nya Allah tidak sama dengan makhluk. Turun yang bermakna berpindah dari atas ke bawah sehingga tempat yang di atas akan melingkupi dzat yang telah turun ke tempat yang lebih rendah, ini adalah sifat turun yang ada pada makhluk. Adapun Allah berbeda dengan makhluk, karena Allah sendiri yang berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Asy-Syura: 11).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anggapan yang dilontarkan syubhat ini akan terjadi pada turunnya makhluk. Adapun Allah tidak sama dengan makhluk. Maha suci Allah dari keserupaan dengan makhluk. Allah turun ke langit dunia dan sama sekali tidak ada satu pun makhluk yang melingkupinya. Oleh karena itu kita wajib menetapkan sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> bagi Allah, kita tetapkan maknanya tanpa menentukan </span><i><span style="font-weight: 400;">kaifiyah</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya dan tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk. </span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;"><b>Syubhat 3 : Yang turun adalah malaikat Allah</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Memaknai hadits di atas bahwa yang turun adalah malaikat Allah adalah makna yang batil. Lafadz hadits menunjukkan penyandaran perbuatan turun kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa yang turun adalah Allah sendiri. Jika yang turun adalah malaikat, apakah masuk akal jika malaikat berkata : </span><i><span style="font-weight: 400;">“Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni ?”</span></i><span style="font-weight: 400;">. Tidak mungkin ada yang mengatakan dengan perkataan seperti ini kecuali hanya Allah saja. Dengan ini jelaslah kebatilan penyelewengan makna seperti ini.</span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;"><b>Syubhat 4 : Yang Turun Adalah </b><b><i>amrullah</i></b><b> </b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada pula yang memaknai bahwa yang turun adalah  </span><i><span style="font-weight: 400;">amrullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (urusan/perintah Allah) yang Allah tetapkan. Ini juga makna yang batil. Karena turunnya urusan Allah akan senantiasa ada pada setiap waktu, tidak khusus pada sepertiga malam terakhir saja . Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">” </span><i><span style="font-weight: 400;">Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya</span></i><span style="font-weight: 400;"> “(As Sajadah :5)</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأَمْرُ كُلُّهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Huud: 123)</span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;"><b>Syubhat 5 : Yang Turun Adalah Rahmat Allah</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Dikatakan pula yang turun adalah rahmat Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Ini juga merupakan makna yang batil. Apakah rahmat Allah tidak turun kecuali hanya pada waktu itu saja?! Ini sama saja dengan membatasi rahmat Allah, padahal Allah berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)</span></i><span style="font-weight: 400;">” (An Nahl : 53).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seluruh nikmat Allah merupakan buah dari rahmat Allah dan itu turun pada setiap waktu. Selain itu jika yang turun adalah rahmat Allah, apa faidahnya dengan turunnya rahmat Allah hanya sampai ke langit dunia dan tidak sampai ke bumi ?!</span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;"><b>Syubhat 6 : Bukankah Bumi Itu Bulat ?</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Lain lagi dengan pertanyaan orang-orang zaman sekarang. Mereka mempertentangkan masalah ini dengan pengetahuan bahwa bumi ini bulat. Mereka mengatakan bagaimana mungkin Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir? Sepertiga malam jika berpindah dari satu tempat akan terjadi selanjutnya di daerah dekatnya dan seterusnya sesuai arah berputarnya bumi. Jika demikian, Allah akan selalu turun ke langit dunia karena akan ada dalam setiap waktu bagian bumi yang mengalami sepertiga malam?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita katakan bahwa kita mengimani Allah turun ke langit dunia pada tiap sepertiga malam terakhir. Jika kita sudah beriman dengan yakin, tidak ada lagi keraguan sedikit pun di balik keyakinan tersebut. Kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya bagaimana dan mengapa. Kewajiban kita beriman jika sepertiga malam terjadi di satu daerah, maka ketika itu pula Allah  turun. Jika sepertiga malam terakhir terjadi di daerah lain, maka ketika itu pula Allah turun di daerah tersebut. Jika telah terbit fajar di daerah tersebut maka berakhir sudah waktu turun-Nya Allah di daerah tersebut.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kesimpulan</b></span></h2>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ahlus Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menetapkan tentang sifat turun-Nya Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> ke langit dunia setiap malam sebagaimana mereka menetapkan seluruh sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Kewajiban kita adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan rasul-Nya tanpa menyelewengkan dari maknanya yang hakiki. Demikian pula sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;">, wajib kita beriman bahwa Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> turun ke langit dunia secara hakiki pada sepertiga malam terakhir dan tidak sama dengan turunnya makhluk. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada saat turun, Allah akan mengabulkan orang yang berdoa, akan memberi orang yang meminta, dan akan mengampuni orang yang memohon ampun. Oleh karena itu  hendaknya kita senantiasa mencari waktu yang mulia ini untuk mendapatkan karunia Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan rahmat-Nya, melaksanakan ibadah kepada Allah dengan khusyu’, memohon ampunan kepada-Nya, dan memohon kebaikan di dunia dan di akhirat. Tidak selayaknya seorang muslim melewatkan waktu yang sangat berharga ini. Inilah buah keimanan yang benar terhadap sifat turun-Nya Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu yang mulia ini. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></i></p>
<p><strong>Penulis : <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/adika" data-darkreader-inline-color="">Adika Mianoki</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Referensi : </strong></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Al ‘Uquud adz Dzahabiyyah ‘alaa Maqaasid al ‘Aqiidah al Waasithiiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Dr. Sulthon bin ‘Abdirrahman al ‘Umairi</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Syarh al ‘Aqiidah al Waasithiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Syarh al ‘Aqiidah al Waasithiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Shalih Alu Syaikh </span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Syarh Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhiisi al Hamawiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin</span>
</li>
</ol>
 