
<h2><strong>Kesuksesan Tidak Cukup Waktu Instan</strong></h2>
<p>Mungkin banyak diantara kita yang berambisi ingin kaya sehingga mencari cara-cara yang instan. Walaupun dengan cara yang haram tetap saja diterjang. </p>
<p>Ada juga yang terjebak pada “<del><strong>Motivator Bisnis</strong></del>” dengan tema-tema menggiurkan semisal “<del><em><strong>Cara Cepat Menghasilkan Milyaran dalam Satu Bulan</strong></em></del>” sehingga banyak yang menjadi korban omong kosong motivator. (Baca:  <span style="color: #0000ff;"><a style="color: #0000ff;" href="https://pengusahamuslim.com/perceraian-berawal-dari-keinginan-berwirausaha-1867/" target="_blank"><strong>Perceraian, Berawal Dari Keinginan Berwirausaha</strong></a></span>)</p>
<p>Saking semangatnya sehingga tidak berfikir untung rugi dibelakangnya. Diantaranya ada yang sudah terlanjur keluar kerja, dibela-belain menghutang kesana-kemari belum lagi utang Bank ribawi ternyata usahanya tidak sesuai yang diharapkan. Anak dan istripun menjadi korban.</p>
<p>Kalau kita hanya menangkap enaknya sebuah hidup sukses, tanpa melihat “proses” yang berdarah-darah bisa jadi akan kena getahnya.</p>
<p>Cobalah kita tengok kisah yang kemarin hari diposting di halaman <a href="https://www.facebook.com/pengusahamuslim/posts/10152936053095560" target="_blank">Pengusaha Muslim Indonesia</a> tentang kisah perjuangan seseorang yang membutuhkan proses tidak sebentar. Kisah ini akan merubah paradigma kita bahwasanya yang kita butuhkan adalah “proses kesuksesan” dan keistiqomahan. Saya  nukil kisahnya berikut ini:</p>
<blockquote>
<p>Kisah ini didapatkan dari dialog seorang kawan. Kemudian diringkas dengan penataan bahasa agar mudah dipahami dan diambil pelajaran.</p>
<p>Dialah Abuanis Asyakirin (<em>semoga Allah memberkahinya</em>), beliau menceritakan sejarah memulai usaha….</p>
<p>Saya dari keluarga PNS Mas…dari kakek, bapak, paman, sampai adik-adik semua PNS.</p>
<p>Saat saya kerja di perusahaan swastapun, orang tua kurang suka, apalagi saat saya mau berdagang. Saya meyakinkan orangtua dan istri membutuhkan waktu 3 tahunan hingga mereka <em>ngga’</em> keberatan</p>
<p>Dulu.. lepas dari kerja (memberanikan mundur/setengah nekat) saya kelilingan jualan kopi pakai sepeda motor, awalnya mau nawarin ke toko ragu-ragu, malu kalau ditolak. Perasaan begini saya rasakan sekitar 6 bulanan, setelah itu jadi terbiasa.</p>
<p>Sempat jatuh-bangun, gonta-ganti dagangan, Alhamdulillah setelah 6 tahunan, saya punya karyawan dan beberapa usaha.</p>
<p>Dulu saya mengundurkan diri dari perusahaan setelah lama kerja 12 tahun dan mendapatkan pesangon 18 juta. Pesangon itu untuk dagang keliling, gonta-ganti dagangan, dan setelah keliling pakai motor selama 2 tahun malah uang pesangon saya habis <em>ngga’</em> ada sisa.</p>
<p>Tapi <em>Alhamdulillah</em> saat sudah <em>ngga’</em> ada uang itulah Allah <em>Ta’ala</em> menolong saya dengan menjadikan saya tidak ada rasa malu lagi kalau menawarkan dagangan,<em> ngga’</em> ada rasa gengsi <em>nembung</em> bon (<em>menagih bon, <strong>penj</strong></em>) barang ke juragan, dan lebih semangat lagi dalam ikhtiar.</p>
<p>Saya mulai dagang keliling pakai motor tahun 2002, walaupun dagangan sendiri saya tetep mulai keliling seperti orang kerja di perusahaan, berangkat jam 08:00, istirahat pas sholat zhuhur dan ‘Ashr, pulang ke rumah jam 17:00 sore. Mau hujan, kemarau, saat puasa pun tetap seperti itu.</p>
<p>Keliling seharian dapat untung 2600 perak, 5000 perak, saat awal dah biasa, disyukuri saja. Kalau sampai rumah tetap dengan wajah ceria. Jika istri bertanya “Gimana Bah ?”</p>
<p>Saya menjawab, “Alhamdulillah untung, nih buat belanja” (sambil kasihkan 30ribu). Padahal untung hari itu cuma 4000 perak, tapi istri <em>ga</em>‘ tahu, biar dia<em> ga’</em> sedih <em>he..he..</em> yang sedih cukup saya saja dalam hati. Tinggal nunggu malam, mengadu sama Allah <em>Ta’ala</em> Sang Pemilik Kerajaan.</p>
<p>Akhirnya bisa punya usaha sendiri, dari dibantu 1 orang karyawan, 4 orang,13 orang, hingga mencapai 26 orang.</p>
<p>Jatuh – bangun pernah saya alami, mulai dari dicurangi karyawan (nilep uang), langganan kabur (ga bayar nota) sampe diingkari rekanan dan rugi 950 juta. Dan berjuang dari nol lagi.</p>
<p>Alhamdulillah punya keyakinan berprasangka baik terus kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan jangan patah semangat, ikhtiar terus dengan ikhlas, kalaupun sementara belum ada hasil, asal ikhlas, insya Allah sudah dapat pahala.</p>
</blockquote>
<p>Itulah nukilan kisahnya. Insya Allah kita akan terbuka mata bahwa kesuksesan itu butuh perjuangan dan istiqomah. Bayangkan, Abu Anis saja membutuhkan waktu 6 tahun untuk bisa mandiri dengan modal pesangon yang  lumayan besar dan itupun harus jatuh bangun. </p>
<p>Saatnya ubah persepsi kita bahwa yang kita butuhkan itu “proses dalam menuju kesuksesan”</p>
<p><strong>Editor: Abu Azzam Mubarok</strong></p>
<p><strong>Pengusahamuslim.com didukung oleh Z<a href="http://zahiraccounting.com/id" target="_blank">ahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<ul>
<li>Dukung kami dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. 081 326 333 328 dan 087 882 888 727</li>
<li>Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial</li>
</ul>
 